Malam Jahanam di Kediri: Cerita di Balik Pengepungan & Permintaan Maaf Suporter PSIM Jogja

Mobil yang dirusak dalam kericuhan suporter Persik Kediri dan PSIM Jogja, Selasa (3/9/2019). - Antara/Prasetia Fauzani
04 September 2019 20:47 WIB Jumali Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Senin (2/9/2019) malam menjadi sangat jahanam untuk Fandi Budiawan dan 1.450-an suporter PSIM Jogja lainnya. Alih-alih berpuas-puas mendukung Laskar Mataram bertandang di Stadion Brawijaya, markas Persik Kediri, mereka harus mengalami kenyataan menyesakkan. PSIM kalah 0-2. Mereka juga tak bisa langsung pulang ke Jogja.

“Kami harus bermalam di Taman Wisata Tirtoyoso Park, tidak jauh dari Stadion Brawijaya. Batu bertebangan dari luar taman wisata ke arah kami. Banyak anggota kami yang terkena,” kata Fandi, kepada Harian Jogja, Rabu (4/9/2019).

Suporter PSIM tak bisa keluar. Polisi berjaga di luar taman. Sementara, ribuan warga dan pendukung Persik Kediri yang mengepung tempat tersebut. “Tidak ada pilihan lain. Kami hanya bisa bertahan.”

Taman Wisata Tirtoyoso Park menjadi titik kumpul para pendukung PSIM Jogja. Di taman tersebut, kendaraan yang mengantar mereka dari Jogja ke Kediri diparkir.

“Di tempat itu terjadi bentrok, mulai dari pukul 17.15 WIB hingga 23.00 WIB. Kami dipaksa masuk, karena massa sudah mengepung kami. Kami baru bisa dievakuasi oleh kepolisian pada pukul 04.30 WIB,” kata Fandi.

Seusai laga, suporter Persik dan PSIM saling lempar. Kemudian, menurut Fandi, suporter sahibulbait keluar stadion dan hendak menghancurkan mobil, bus dan sepeda motor yang membawa suporter PSIM Jogja.

“Teman-teman yang ada di stadion langsung bereaksi begitu mereka menuju ke tempat kumpul kami. Dengan terpaksa, pagar dijebol. Kami tidak ingin kendaraan kami dirusak,” ungkap Fandi.

Bentrok kembali pecah. Batu dan bom molotov dilemparkan di tempat parkir stadion hingga taman wisata. Banyak korban berjatuhan. Belakangan, Polresta Kediri menyebut 26 suporter terluka, 14 di antara mereka adalah pendukung PSIM.

“Mobil kami juga hancur. Satu bus rusak, satu mobil milik laskar dari daerah Wirobrajan dan dua mobil milik laskar di sekitar Glagahsari [Umbulharjo] hancur lebur dan dibalik,” ujar Fandi.

Melihat massa yang semakin beringas, perwakilan DPP Brajamusti pun menghubungi Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti. Brajamusti berharap Haryadi Suyuti bisa berkomunikasi dengan Wali Kota Kediri Abdulah Abu Bakar dan meredam kerusuhan.

“Saya pun akhirnya membuat video yang berisi minta maaf. Karena memang sejatinya sejak awal, tidak ada permasalahan antara kami dengan suporter tuan rumah. Ini mungkin murni kekhilafan dari teman-teman yang kecewa karena kalah. Mereka menghujat pemain dan manajemen. Namun, mungkin ada sikap yang menyinggung suporter tuan rumah,” kata Fandi.

Seusai membuat video berisi permintaan maaf, secara perlahan, para pendukung PSIM Jogja mulai dievakuasi ke Mako Brimob Kediri. Di tempat tersebut, beberapa suporter dikasih sarapan, sebelum akhirnya dipulangkan ke Jogja. Sebanyak 375 orang dipulangkan melalui Stasiun Kediri, 600 orang naik bus, 450 orang menggunakan kendaraan pribadi, dan 25 orang lainnya mengendarai sepeda motor. Sementara, 35 suporter masih tertahan karena harus menjalani pemeriksaan oleh Polresta Kediri.

“DPP Brajamusti saat ini sedang menuju ke Kediri untuk mendampingi mereka,” kata Fandi.

Fandi dan kawan-kawan yang naik mobil juga harus memutari jalan pulang. Tak ingin ada kericuhan di tempat lainnya, mereka menghindari Kota Solo saat pulang ke Jogja.