Polisi: Tak Ada Perintah dari Elite Suporter PSIM untuk Serang Kelompok Lain

Dua tersangka pelemparan batu yang menewaskan suporter PSS Sleman sudah diringkus dan kini ditahan di Mapolres Sleman, Jumat (25/1/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
27 Januari 2019 11:25 WIB Yogi Anugrah & Ivan Andimuhtarom Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Polisi menegaskan aksi brutal beberapa suporter PSIM adalah spontanitas yang dipicu fanatisme buta. Tak ada anjuran dari elite pendukung Laskar Mataram untuk mencegat dan menyerang suporter klub lain.

Direskrimum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan tersangka pelemparan batu yang menewaskan suporter PSS dan penganiayaan suporter Persis Solo adalah bagian dari suporter fanatik PSIM. Namun, menurut dia, tidak ada instruksi dari pengurus wadah suporter dalam kekerasan tersebut.

“Ini murni kriminalitas, momen yang dipakai [untuk menyerang kelompok lain] adalah pertandingan sepak bola,” ucap Hadi Utomo, Jumat (25/1/2019).

Sebelumnya, Polres Sleman menetapkan dua tersangka pelemparan batu yang menewaskan salah seorang suporter PSS Sleman adal Klaten, Muhammad Asadulloh Alkhoiri. Keduanya adalah RC, 18, warga Baturetno, Banguntapan, Bantul dan DN, 18, warga Plumbon, Banguntapan, Bantul. Mereka ditengarai sebagai pendukung PSIM Jogja.

“Pelaku merupakan anggota kelompok simpatisan PSIM grup Bypaz [Di Twitter terdapat akun Brajamustibypaz yang ditengarai sebagai wadah kedua tersangka]. Dari keterangan pelaku, mereka mengincar suporter Solo,” kata Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah saat jumpa pers di Mapolres Sleman, Jumat.

Namun, korban pelemparan batu yang meninggal dunia adalah Muhammad Asadulloh Alkhoiri. Dia terluka berat dan kehilangan nyawa akibat ditimpuk batu saat hendak pulang ke Klaten setelah menonton pertandingan PSS Sleman melawan Persis Solo pada Sabtu (19/1/2019).

Penyerangan terhadap suporter yang hendak pulang selepas menonton laga PSS Sleman melawan Persis Solo digalang lewat medsos. Beberapa akun menghasut warganet agar mengadang suporter. “Kami menemukan ada ajakan untuk mengadang penonton [pertandingan PSS Sleman melawan Persis Solo] melalui grup Instagram dan WhatsApp, dari situ peristiwa ini bisa terungkap,” kata Kepala Bidang Humas Polda DIY AKBP Yuliyanto.

Selain meringkus dua tersangka penimpuk batu yang menewaskan satu suporter PSS Sleman, aparat Polres Sleman juga menciduk satu remaja yang menganiaya satu suporter Persis Solo. Remaja tersebut berinisial SA dan masih berusia 17 tahun.

Ketua BCS Klaten, Tomy Sidiq, mengatakan korban penganiayaan SA adalah anggota Surakartans, kelompok suporter pendukung Persis selain Pasoepati. BCS adalah wadah pendukung PSS Sleman selain Slemania.

“Iya, yang rombongan awal pulang [setelah menonton pertandingan PSS melawan Persis] Surakartans. Korban meninggal dunia [anggota BCS Klaten] itu juga bareng Surakartans saat pulang,” kata dia.

Muslich Burhandin, Presiden Brajamusti, kelompok suporter PSIM Jogja, menyerukan semua wadah pendukung klub sepak bola saling menjalin komunikasi demi iklim sepak bola yang aman dan beradab.

“Tidak ada pilihan selain rekonsiliasi.  Kami ingin hal ini segera tercipta. Langkah awal berupa koordinasi akan kami jalankan,” kata pria yang karib disapa Tole itu.

Sementara, Presiden Pasoepati Aulia Haryo Suryo menyatakan kelompok suporter Persis Solo yang dia pimpin membuka pintu bagi siapa pun yang menyerukan kata damai.

“Sebagai suporter yang cinta damai, sudah selayaknya hal itu diupayakan,” kata dia.

Namun, rekonsiliasi bukan perkara gampang. Dia menggarisbawahi adanya hambatan sejarah atas rekonsiliasi tersebut. Di kalangan elite, ia yakin perdamaian bakal berjalan dengan mudah. Tetapi hal yang sama tak bisa serta-merta terealisasi di kalangan akar rumput.

“Perselisihan Solo dan Brajamusti sudah lama. Bisa [rekonsiliasi] di tingkat atas,  tetapi di akar rumput harus secara bertahap. Konsekuensi damai tak bisa dilakukan secara instan. Ini butuh proses dan waktu yang tidak singkat,” kata dia.

Ia mencontohkan, upaya rekonsiliasi dengan BCS sudah berlangsung sejak 2015, saat dirinya belum menjadi Presiden Pasoepati. Ia yang saat itu masih berstatus sebagai tetua Pasoepati kerap berkunjung dengan sesama tetua.

“Begitu saya jadi presiden, mereka welcome [menyambut baik] untuk rekonsiliasi. Kami sudah nandur [menanam benih-benih perdamaian] lama. Suatu ketika pernah ada tur PSS Sleman dan saya turun langsung mengawal. Jadi, kalau Brajamusti ingin rekonsiliasi, ya tidak segampang itu,” kata dia.

Lelaki yang akrab disapa Rio itu menyambut baik jika Brajamusti, suporter PSIM Jogja, menawarkan rekonsiliasi kepada Pasoepati.

“Tetapi saat ini belum ada yang menghubungi Pasoepati.”