Marco Blak-blakan Setelah Out dari PSS Sleman: Saya Sangat Kecewa dengan Manajemen

Marco Gracia Paulo - Instagram @pssleman
29 Oktober 2021 12:37 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Marco Gracia Paulo buka suara setelah dipecat dari jabatan Direktur Utama PT Putra Sleman Sembada (PSS), perusahaan yang menaungi klub sepak bola PSS Sleman. Marco kecewa karena diberhentikan dan merasa dikhianati.

Melalui keterangan tertulis yang dia kirimkan kepada sejumlah media, Jumat (10/29/2021), Marco menumpahkan uneg-unegnya. Pria yang pernah mengelola Badak Lampung FC ini mengaku tidak diajak komunikasi soal pemberhentian dirinya.

BACA JUGA: Pelatih & 5 Pemain Dipecat karena Diduga Atur Skor Liga 2, Nama Klub Raffi Ahmad Terseret

“Sampai hari ini, saya tidak menerima komunikasi dalam bentuk apapun, termasuk surat notifikasi dari PT PSS terkait pemberhentian saya sebagai Direktur Utama dan pergantian susunan direksi. Yang mengejutkan saya adalah karena di saat saya dan tim sedang berusaha menyelamatkan klub yang keadaannya cukup berat, ternyata malah 'partner' kami sendiri sibuk mencari celah untuk mengambil alih kepemimpinan serta menggusur saya dengan alasan mulia: 'demi kebaikan bersama',” tulis Marco.

“Di balik ini semua, saya mau soroti ini dari sisi etika. Dari saya pribadi, apa sih alasan saya mau terjun di sepak bola? Saya memang cinta sepak bola tapi saya lebih cinta Indonesia dan juga nilai- nilai hidup yang terkandung dalam sepak bola. Salah satu nilai hidup yang diajarkan dalam sepak bola adalah tentang sportivitas. Secara sportif, saya terima keputusan ini asalkan memang sesuai dengan anggaran dasar perusahaan dan juga undang-undang yang berlaku.”

Marco ditunjuk sebagai Direktur Utama PT PSS melalui rapat umum pemegang saham (RUPS).

“Jadi saya berharap pergantiannya juga manusiawi. Saya rasa saya layak untuk minimal mendapatkan sebuah surat notifikasi dari PT PSS terkait keputusan pergantian ini berikut dengan legal standing-nya. Sayangnya saya malah dapat infonya dari sosial media. Saya telah berusaha menjalankan tugas saya sebaik mungkin dan mendedikasikan waktu, pikiran tenaga, dan hati untuk PSS, karena itu saya sangat kecewa dengan cara manajemen, khususnya direksi PT PSS yang baru diangkat, menangani transisi ini,” kata Marco.

“Saya juga telah menunjukkan secara konsisten selama masa kepimpinan saya, apabila ada staf yang kami selesaikan masa baktinya, kami selesaikan secara manusiawi. Kami ajak bicara dan sesuai prosedur. Kali ini, yang terjadi pada saya malah sangat bertolak belakang. Tidak ada sama sekali pemberitahuan resmi, hanya lewat sosial media dan rilis di website PT PSS.”

BACA JUGA: Mohamed Salah Masuk Kurikulum Pendidikan Nasional Mesir

PSS mengumumkan perombakan direksi pada Rabu (27/10/2021) lewat website resminya setelah Super Elang Jawa kalah 0-2 dari Bali United di laga Liga 1 2021/2022. Jabatan Direktur Utama PT PSS kini ditempati Andywardhana Putra yang sebelumnya menjabat Direktur Keuangan.

Perubahan susunan direksi PT PSS berdasarkan Akta Notaris No.49 tanggal 26 Oktober 2021.

Pemberhentian Marco dan perombakan jajaran direksi diambil berdasarkan keputusan sirkuler pemegang saham sebagai pengganti RUPS PT PSS tentang pemberhentian, perubahan nomenklatur jabatan, pengalihan tugas, dan pengangkatan anggota-anggota direksi PT PSS.

Pemegang saham memberhentikan Marco dan Sotja Baksono dari jajaran direksi.

Kini, jajaran direksi PT PSS dipegang Andywardhana Putra sebagai Direktur Utama serta Yoni Arseto dan Hempri Suyatna sebagai Direktur.

“Untuk Marco Gracia Paulo, saya ucapkan banyak terima kasih atas sumbangsih dan kontribusinya untuk PSS selama ini. Mari kita sikapi dinamika ini dengan bijaksana dan dewasa karena ini bukan masalah menang atau kalah. Ini semua demi kemajuan PSS,” kata Andywardhana Putra sebagaimana dilansir situs resmi PSS.

BACA JUGA: Koeman Sudah Dipecat, Xavi Kandidat Terkuat Pelatih Barcelona

Marco mengatakan perubahan susunan direksi tidak melibatkan pemegang saham lain.

“Dalam PT Palladium sebagai pemegang saham terbesar di PT PSS, terdapat dua pemegang saham dengan komposisi 50-50. Bagaimana mungkin salah satu shareholder PT Palladium melalukan pergantian direksi, khususnya pemberhentian direktur utam tanpa menginformasikan apalagi berdiskusi dengan shareholder lainnya, padahal komposisi kepemilikan sahamnya adalah 50-50?” ujar Marco.

“Tujuan saya hingga saat ini yaitu berkontribusi buat sepak bola Indonesia. Buat saya ini memang tidak pernah soal menang atau kalah, bahkan tidak pernah hanya soal sepak bola. Ini mengenai hidup orang yang terlibat di dalam sepak bola dan bagaimana nilai hidup dijunjung tinggi dan diaplikasikan melalui sepak bola. Sepak bola adalah medium dalam kita berjuang utnuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia, keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Setelah ini akan ada beberapa tahapan proses yang masih akan berjalan dan saya yakin akan ada perubahan besar terjadi dalam beberapa waktu ke depan di dalam PT PSS. Kita tunggu perkembangan selanjutnya,” ucap Marco.

Belakangan, Marco menjadi musuh publik sepak bola Sleman setelah melontarkan wacana memindah markas PSS. Ide itu spontan muncul saat Marco merespons tuntutan suporter untuk memecat Pelatih Dejan Antonic. Marco mengatakan direksi bisa memecat Dejan, tetapi setelah itu akan membawa PSS keluar dari Sleman. Omongan Marco menyulut emosi banyak pihak sehingga tagar #marcoout selalu disuarakan suporter PSS, bersamaan dengan tagar #dejanout dan #arthurout. Tagar terakhir merujuk pada Arthur Irawan, bek yang dianggap tidak layak bermain untuk PSS karena kerap bermain jelek dan tak berguna di lapangan.