Seto Menuju Timnas: Ini Kesulitan Seto Selama Melatih PSS & Pendapatnya tentang Pemain yang Sulit Diatur

Seto Nurdiyantoro - Harian Jogja/Jumali
09 Januari 2020 18:47 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jajaran pelatih yang mendampingi Shin Tae-yong menakhodai Timnas Indonesia sebentar lagi diumumkan PSSI. Seto Nurdiyantoro santer disebut sebagai salah satu asisten pelatih Tae-yong setelah dia melalui Liga 1 2019 bersama PSS dengan mengesankan. Seto adalah pribadi yang terbuka dan punya ambisi besar menangani Timnas Indonesia, entah sekarang atau suatu saat nanti. Jalan mewujudkan keinginannya lumayan mulus. Bagaimana karakter kepelatihan Seto dan apa yang dia rasakan saat menangani PSS Sleman? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Budi Cahyana.

Tanaman yang tertata rapi di rumah nomor D6 Jogja Regency, Depok, Sleman itu menjadi semacam panasea untuk pelatih berumur 45 tahun ini pada hari pertandingan.

“Sebelum main sore atau malam, saya mencoba tenang dengan mengurus tanaman ini, meski kadang jika menghadapi pertandingan penting, saya tetap gusar,” kata Seto.

Senin terakhir pada 2019 lalu Seto menerima wawancara Harian Jogja selama sekitar satu jam di rumahnya pada tengah hari yang mendung. Seto cukup bersabar meladeni setiap pertanyaan, termasuk pertanyaan yang sulit sekali pun, seperti siapa pemain PSS yang paling sulit diatur, dan memungkasi tanya jawab dengan menawarkan teh yang sudah mulai dingin sebelum dia memasukkan burung di kurungan yang dijemur di halaman ke dalam rumah karena hari sebentar lagi hujan.

“Alfonso.”

Seto menyebut nama panggilan Alfonso de La Cruz, bek Spanyol yang didatangkan manajemen Super Elang Jawa dari klub Malaysia Selangor FA pada awal musim lalu.

“Tidak semua pemain PSS adalah pilihan saya. Sebagian dipilih oleh manajemen, tetapi sebagian dari mereka kemudian bermain baik dan cocok dengan skema tim. Itu menjadi masalah terbesar saya selama menangani PSS di Liga 1,” ucap dia.

Perekrutan pemain yang tidak sepenuhnya berada di kendalinya kadang memberinya problem di lapangan dan ruang ganti. Sebagai pribadi yang cenderung pendiam dan kalem (Seto mencontoh perangai ini dari kebiasaannya melihat Pelatih Timnas Italia Roberto Mancini), dia kadang tak bisa mengendalikan kemarahan ketika segala hal tak berjalan sesuai rencana.

“Tentu saja saya sering marah ketika pemain tidak bisa menjalankan instruksi. Para pemain kemudian mau menerima penjelasan saya setelah kami berargumentasi. Namun tidak dengan Alfonso.”

Alfonso dan Seto jarang klop. Bisa jadi karena Alfonso merasa punya banyak pengalaman bermain di Eropa. Bisa jadi pula karena karakter Alfonso dan Seto yang sama-sama keras.

“Kalau sudah punya keinginan, saya biasanya harus bisa mewujudkan keinginan itu, meski kemudian saya akhirnya sering harus berkompromi. Tetapi bagaimana pun, di lapangan dan ruang ganti saya harus menegaskan otoritas sebagai pelatih,” kata Seto.

Kesediaan untuk mengalah dan menerima jalan lain di luar rencana itu yang menjadi salah satu kunci kesuksesan Seto bersama PSS. Sebelum kompetisi dimulai, PSS lebih dikenal dengan suporter fanatiknya. Setelah kompetisi rampung, PSS punya jagoan yang banyak dibicarakan khalayak sepak bola.

Seto ramai diperbincangkan sebagai kandidat kuat pelatih Timnas Indonesia berkat kemampuannya meramu PSS menjadi kuda hitam yang bercokol di peringkat kedelapan klasemen akhir Liga 1, jauh lebih baik ketimbang Semen Padang dan Kalteng Putra. Ketiganya musim lalu berlaga di Liga 2 dan hanya PSS yang sanggup bertahan di kompetisi level teratas dalam piramida sepak bola profesional Indonesia.

Kompromi tidak hanya menjadi pegangan Seto saat menghadapi pemain bandel, tetapi juga saat menyesuaikan diri dengan kultur sepak bola Indonesia yang jauh dari kedisiplinan. Kegemaran sejumlah pemain bola terhadap rokok dan ketidakmampuan mereka menjaga asupan nutrisi, misalnya jajan sembarangan dan makan berat di larut malam, sudah menjadi rahasia umum. Seto pun maklum.

“Kalau hanya di satu klub, perilaku seperti ini mungkin mudah diatasi,” ujar dia.

Namun, gaya hidup kurang profesional tersebut, sepanjang pengetahuan Seto, juga terjadi di hampir semua klub di Indonesia.

Bersikap keras, menurut dia, tak ada faedahnya karena akan menimbulkan penentangan yang bisa mengacaukan roda organisasi di klub sepak bola. Jalan terbaik adalah tutup mata.

“Musim lalu kami punya program diet di PSS. Tim pelatih bisa mengontrolnya di klub, tetapi di luar, kami tidak bisa memaksa dan mengawasi pemain. Semua tergantung kedisiplinan si pemain sendiri.”

Seto sudah banyak makan asam garam dan paham betul bagaimana sepak bola di Indonesia dijalankan. Dia sudah bermain bola sejak remaja dan keterusan main sebagai pesepak bola profesional di PSS, PSIM Jogja, Pelita Solo, Persiba Bantul, juga Timnas Indonesia.

“Meski ayah saya sebenarnya ingin saya menjadi tentara, masuk SMA Taruna Nusantara, tetapi jalan hidup saya berkata lain,” ujar dia.

Sebagai pelatih, Seto tergolong masih hijau, tetapi punya potensi yang besar.

Saat PSSI akhirnya menunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Timnas Indonesia menggantikan Simon McMenemy, nama Seto tidak otomatis surut dari perbincangan. Rahmad Darmawan, pelatih kawakan yang menjadi idola sekaligus mengidolakan Seto menyampaikan kekagumannya lewat akun Instagram. Unggahan Rahmad Darmawan menjadi penting dan menimbulkan spekulasi karena dia juga mengharapkan Seto sukses di Timnas. Menjelang pengumuman staf kepelatihan Timnas, Seto pergi umrah dan mengaku tak terlalu memikirkan peluangnya menjadi asisten pelatih di skuat Garuda. Fokusnya tetap menangani PSS Sleman, klub yang membesarkannya baik sebagai pemain maupun pelatih.

Namun, keinginan terbesarnya adalah menangani Timnas Indonesia. “Dalam 10 tahun ke depan, saya membayangkan tetap di sepak bola. Saya harus bersikap profesional karena ini sudah menjadi jalan hidup. Muara keberhasilan seorang pelatih adalah memimpin tim nasional dan itu menjadi harapan terbesar saya,” kata dia.

Kini, keinginan sepuluh tahun itu bisa lebih pendek karena Kamis (9/1/2020), Seto bersama lima pelatih lokal lain: Bima Sakti, Markus Horison, Indra Sjafri, Nova Arianto, dan Fakhri Husaini, berada di Kantor PSSI di Jakarta untuk membicarakan proyek Timnas Indonesia bersama Shin Tae-yong.