AJI Desak Kekerasan Suporter Bola terhadap Jurnalis Diusut

Kerusuhan pada Derbi Mataram di Stadion Mandala Krida, Senin (21/10/2019). - Harian Jogja/Jumali
22 Oktober 2019 15:47 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jogja mengecam kekerasan dan intimidasi yang dialami Guntur Aga Putra, pewarta foto Harian Radar Jogja, dan Budi Cahyono, jurnalis foto Goal Indonesia, saat meliput kericuhan pada Derbi Mataram di Stadion Mandala Krida, Kota Jogja, Senin (21/10/2019). Pertandingan di pekan terakhir fase grup Liga 2 2019 itu ricuh saat PSIM tertinggal 2-3 dari Persis Solo.

Guntur dipukul di bagian tengkuk.  “Ada yang mencekik dari belakang, dan saya dipukuli. Saya sempat diminta hapus foto, tetapi tidak saya hapus,” kata Guntur.

Namun, Guntur tak ingin membawa kasusnya ke ranah hukum, kendati dirinya amat menyayangkan kejadian yang menimpanya itu. Padahal, kata Guntur, ia bekerja berdasar prinsip jurnalistik dan ada kode etik, serta dilindungi hukum.

Selain Guntur, intimidasi juga menimpa Budi Cahyono. Melalui keterangan tertulis, Ketua Aji Jogja Tommy Apriando, mengatakan Guntur diintimidasi Achmad Hisyam Tolle, bek tengah PSIM yang sebelumnya menendang pemain Persis Solo dan lantas memicu keributan secara luas.

Budi mengatakan Tolle menghampiri dan meminta foto-foto dirinya segera dihapus.

“Kamera memang sempat diambil sama Tolle, namun saya bilang ke dia, ‘Jangan di sini [pinggir lapangan] hapus fotonya karena biar lebih aman karena kondisi sudah rusuh di dalam lapangan.’ Lalu, saya diajak Arga [Hendika Arga, gelandang PSIM] untuk ke ruang ganti sambil dia menenangkan Tolle bersama Aldaier [Aldaier Makatindu, striker PSIM],” kata Tommy menirukan keterangan Budi seperti yang diwartakan Goal Indonesia.

Intimidasi kemudian berlanjut di ruang ganti pemain. Tolle kembali meminta semua foto yang ada dirinya untuk dihapus.

Tommy mengatakan tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah bentuk penghalangan hak publik untuk memperoleh berita akurat dan benar karena jurnalis tidak bisa bekerja dengan leluasa di lapangan. “Jurnalis bekerja untuk kepentingan publik,” kata Tommy. Selain itu, bagi Tommy, tindakan para suporter ini menunjukkan betapa tidak pahamnya mereka terhadap aturan hukum.

Kekerasan para suporter terhadap Guntur ini, menurut Tommy, melanggar Undang-Undang (UU) Pers No.40/1999. UU tersebut menyebut kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers.

“Dijelaskan juga bahwa kegiatan jurnalistik meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik. Pasal 8 UU Pers juga jelas menyatakan bahwa dalam melaksanakan profesinya, jurnalis dilindungi hukum.”

Tommy mengatakan suporter bola atau siapa pun mestinya tak main hakim sendiri dan belajar lagi soal hukum yang melindungi kerja jurnalis.

“Semestinya tidak boleh ada upaya menghalangi kerja-kerja jurnalis. Apabila terjadi kesalahan pemberitaan, ada mekanisme aduan jurnalis ke media tempatnya bernaung atau pun melaporkan ke Dewan Pers. AJI Jogja juga mendesak polisi agar mengusut tuntas pelaku kekerasan,” ujar dia.

Meski demikian, AJI Jogja mengimbau setiap jurnalis menaati kode etik jurnalistik dan bekerja secara profesional. Selain itu, pemimpin redaksi dan perusahaan media seharusnya memperhatikan keselamatan dan keamanan jurnalisnya, terutama ketika meliput ke daerah berpotensi konflik dan mengancam kerja jurnalistik serta mengancam reporternya.

“AJI Jogja mendorong perusahaan media tempat Guntur bekerja mendampingi pelaporan ke pihak kepolisian. Tren kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat, namun sedikit yang diselesaikan secara hukum,” kata Tommy.

Kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepak bola di Jogja sebelumnya pernah terjadi dan tidak tuntas ditangani melalui proses hukum. Buruknya penanganan kasus kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepak bola menjadi preseden buruk.