Kapolresta: Suporter Berniat Merusak, Tidak Murni Nonton PSIM Vs Persis

Mobil yang dirusak massa di Stadion Mandala Krida, Jogja, Senin (21/10/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
21 Oktober 2019 23:07 WIB Jumali Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kapolresta Jogja Kombes Armaini mengatakan suporter yang membuat kericuhan pada Derbi Mataram di Stadion Mandala Krida, Senin (21/10/2019), punya iktikad buruk.

Menurut dia, sebagian suporter sudah punya niat merusak dan tidak murni menonton jalannya pertandingan PSIM menjamu Persis Solo di pekan terakhir fase grup Liga 2 2019.

“Mereka tidak hanya merusak, tetapi menjarah. Mereka datang kemari bukan untuk menonton bola. Semua akan kami evaluasi. Kami akan duduk semeja dengan panpel dan pengelola stadion nantinya,” kata Kapolresta.

Kepolisian akan berembuk dengan Panitia Pelaksana Pertandingan PSIM dan pengelola Stadion Mandala Krida menyusul kericuhan pada Senin petang. Ada kemungkinan izin pertandingan untuk PSIM di Mandala Krida dievaluasi.

“Kami akan evaluasi, kami inventarisasi kerusakan dan kami akan lakukan untuk mengusut,” ucap Kapolresta.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti meminta polisi bertindak tegas terhadap perusuh dalam Derbi Mataram.

Pertandingan tersebut dimenangi Persis Solo 3-2. Laga dihentikan di menit ke-95 setelah pemain PSIM dan Persis terlibat keributan, disusul menghamburnya suporter PSIM ke dalam lapangan. Situasi kemudian tak terkendali hingga massa merusak dan membakar mobil polisi yang diparkir di halaman Stadion Mandala Krida.

“Saya minta kepolisian menindak tegas oknum-oknum yang melakukan perusakan setelah pertandingan PSIM melawan Persis Solo. Ini enggak boleh dan enggak bisa dibenarkan,” kata Haryadi, Senin malam.

Keributan diawali pada pengujung pertandingan saat PSIM tertinggal 2-3. Pemain Persis Solo Shulton Fajar berlama-lama memegang bola setelah dinyatakan offside. Kemudian, tiga pemain PSIM Jogja yang tersulut emosi mendekat dan sempat adu mulut.

Bek PSIM Jogja Ahmad Hisyam Tolle yang tidak bisa mengontrol emosi akhirnya memukul Shulton. Wasit asal Jakarta Zetman Pangaribuan yang memimpin jalannya laga langsung memberikan kartu merah kepada Tolle. Tak sampai di situ, Shulton kembali menantang pemain PSIM lainnya. Gelandang PSIM Jogja Raymond Tauntu langsung ikut memukul. Senasib dengan Tolle, Raymond akhirnya diganjar kartu merah.

Zetman juga memberikan kartu merah kepada Shulton. Namun, saat Shulton keluar lapangan, emosi Ahmad Hisyam Tolle tetap tidak terbendung. Tolle yang telah keluar dan mencopot kausnya masuk ke lapangan dan mengejar dan menendang Shulton.

Kerumunan penonton langsung turun ke lapangan. Semua pemain  Persis berhamburan masuk ke ruang ganti dan pertandingan akhirnya dinyatakan berakhir saat Persis unggul 3-2 atas tuan rumah Persis.

Polisi yang berusaha menenangkan massa sempat menembakkan gas air mata. Banyak penonton yang terpapar gas air mata. Tidak hanya wanita, banyak anak-anak yang harus dievakuasi ke ruangan stadion.

Di luar stadion, keributan tidak mereda. Petugas kepolisian menembakkan gas air mata yang terbawa angin dan membuat penonton di tribune panik. Anak-anak dan perempuan tak kuasa menahan pedihnya gas air mata dan harus dievakuasi ke ruangan stadion seperti ruang media.

Polisi berusaha memukul mundur massa di luar stadion. Namun, satu unit mobil dinas kepolisian yang diparkir di halaman stadion dibakar, sedangkan satu lainnya dibalik oleh kerumuhan orang yang emosi.

Massa beringas dan merusak serta membakar mobil polisi setelah skuat Persis Solo dievakuasi keluar dari  Stadion Mandala Krida.

Setelah polisi berhasil mengamankan dan mengevakuasi para pemain Persis, massa mengamuk dan melampiaskannya dengan merusak mobil polisi

Satu mobil Mitsubishi Lancer dibakar dan satu mobil Mazda 3 2018 dirusak di area parkir Stadion Mandala Krida. Kedua mobil itu adalah kendaraan dinas Polresta Jogja.

Massa juga menjarah barang-barang yang ada di kedua mobil tersebut. Padahal di dalam mobil ada tas dari petugas kepolisian. Kerumuman yang beringas tersebut bahkan menahan mobil pemadam kebakaran yang akan memadamkan api.

Pelatih Persis, Salahudin, mengatakan timnya dievakuasi polisi dan bisa selamat sampai hotel. Namun, Asisten Pelatih Persis, Choirul Huda, mengalami luka di keningnya karena dipukul hingga berdarah.

Salahudin menyayangkan perilaku suporter yang turun ke lapangan dan berbuat anarkistis. Menurutnya, sepak bola seharusnya bisa menjadi pemersatu bangsa, bukan pemecah belah bangsa seperti yang terjadi dalam insiden di Stadion Mandala Krida.

“Saya menyayangkan. Padahal sepak bola adalah pemersatu,” ujarnya dalam pesan Whatsapp kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Senin.

Manajer Persis, Langgeng Jatmiko, mengatakan belum bisa memastikan kapan mereka bisa pulang ke Solo. Ia akan menunggu instruksi selanjutnya dari Polda DIY terkait kepulangan mereka ke Solo.

“Kami tunggu instruksi Polda dulu. Ini kami di hotel,” kata dia melalui pesan Whatsapp.