Suporter Persis Pukul Jurnalis, Ini Tanggapan Pasoepati & Panpel

Dari kiri ke kanan, Ketua Panpel Persis Solo, Didik Daryanto; jurnalis BBS TV Wiwit Eko Prasetyo (tengah), dan Presiden Pasoepati Aulia Haryo Suryo, saat bertemu di Madiun, Sabtu (17/8/2019). - JIBI/Madiunpos.com/Abdul Jalil
18 Agustus 2019 22:47 WIB Abdul Jalil Sepakbola Share :

Harianjogja.com, MADIUN -- Panpel Persis Solo dan kelompok suporter Persis Solo, Pasoepati, meminta maaf atas insiden pemukulan jurnalis di laga Derby Mataram antara Persis Solo dan PSIM Jogja di Stadion Wilis, Kota Madiun, Jumat (16/8/2019) lalu.

Seorang wartawan televisi lokal Madiun bernama Wiwit Eko Prasetyo menjadi korban pemukulan oleh suporter saat sedang meliput kericuhan di luar Stadion Wilis Madiun. Wiwit dipukul dengan menggunakan helm oleh oknum suporter hingga membuat dahinya bengkak.

Selain menjadi korban aksi kekerasan, Wiwit juga mendapatkan intimidasi dari suporter yang saat itu ricuh. Insiden pemukulan itu kemudian dilaporkan Wiwit ke Polres Madiun Kota, Jumat malam.

Ketua Panpel Persis Solo, Didik Daryanto, bersama Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, mendatangi Wiwit di Madiun, Sabtu (17/8/2019). Didik menyampaikan permohonan maaf kepada Wiwit atas insiden pemukulan tersebut yang dilakukan oleh oknum suporter saat laga Derby Mataram itu.

Kedatangannya ke Madiun untuk menemui korban ini sebagai salah satu bentuk itikad pertanggungjawaban atas kejadian itu. "Saya sampaikan permintaan maaf atas kejadian itu," kata dia.

Didik menyampaikan pihaknya mendukung kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Madiun Kota. Dia meminta kepolisian bisa mengusut tuntas kasus pemukulan terhadap wartawan itu.

Dia menceritakan kronologi kejadian saat adanya kericuhan di luar stadion saat pertandingan itu berlangsung. Saat laga berlangsung, para suporter yang ada di tribune selatan dilempar sekelompok orang dari luar.

"Saat itu ada orang yang melempar batu ke suporter. Kami pun meminta kepada suporter untuk tenang dan tidak menanggapi itu," kata dia.

Setelah beberapa saat, ada beberapa rang dari luar stadion yang melempar batu lagi ke tribune selatan. Hingga akhirnya banyak suporter yang berkumpul keluar stadion dan mencari orang yang melempar batu itu.

"Saat itu saya juga keliling di luar stadion. Melihat ada keributan itu, saya langsung membawa Wiwit masuk ke stadion," terangnya.

Didik menyampaikan insiden ini akan menjadi evaluasi panitia untuk pertandingan selanjutnya.

Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, meminta maaf kepada Wiwit yang telah menjadi korban pemukulan. Dia mengaku tidak mengetahui kejadian itu karena saat pertandingan berlangsung masih fokus di dalam stadion.

Dia menyayangkan aksi pemukulan tersebut, terlebih yang dipukul adalah jurnalis. Menurutnya, jurnalis selama ini merupakan mitra dan menjadi penyampai aspirasi suara suporter. "Kami berharap kejadian ini menjadi yang terakhir kali. Di pertandingan selanjutnya tidak ada lagi kasus seperti ini," ujarnya.

Aulia menegaskan insiden ini akan menjadi pelajaran bagi para suporter. Ke depannya, tidak ada lagi suporter yang melakulan aksi pemukulan atau intimidasi terhadap jurnalis.

Dia mengaku tidak mengetahuinya pelaku pemukulan. Namun, Pasoepati akan berkoordinasi dengan korwil untuk mencari tahu siapa pelaku pemukulan itu. "Ini juga akan menjadi edukasi bagi para suporter. Wartawan itu salah satu jembatan kami dalam menyampaikan aspirasi," terangnya.

Sumber : JIBI/Solopos