Chelsea Kalah di Piala Super Eropa, tetapi Pulisic dan Kante Membawa Harapan Baru

Christian Pulisic - Reuters/Leonhard Foeger
15 Agustus 2019 16:47 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Liverpool menundukkan Chelsea dalam pertarungan sengit pada Piala Super Eropa di Vodafone Arena, Istanbul, Kamis (15/8/2019) pagi WIB. Namun, bukan The Reds yang menerbitkan harapan akan gairah baru di sepak bola Inggris atau Eropa, melainkan The Blues.

Chelsea boleh kalah 4-5 dalam adu penalti gara-gara bola tembakan striker belia Tammy Abraham dihalau kaki Adrian. Kekalahan itu tak bisa menutup kilau permainan Chelsea selama 90 menit plus 30 menit di babak tambahan. Skor 2-2 sekilas tampak tak adil untuk Chelsea karena mereka lebih menghibur daripada Liverpool. Frank Lampard tampaknya telah menemukan formula yang bakal dia pakai untuk mengarungi musim ini. Christian Pulisic yang duduk di bangku cadangan ketika Chelsea dihantam Manchester United 0-4 di laga perdana Liga Premier Inggris menampilkan performa yang bisa membuat fans The Blues melupakan kepergian Eden Hazard dan sanksi dalam dua bursa transfer.

Selama 75 menit di lapangan sebelum digantikan gelandang Mason Mount, Pulisic bermain seperti dinamo, dengan kontrol bola sempurna, giringan prima, operan berakurasi tinggi, dan ketepatan mengarahkan bola ke gawang.

Menurut catatan Whoscored, penyerang kelahiran Amerika Serikat ini membuat 27 operan dengan tingkat akurasi 74%, satu kali memenangi duel, dua kali mengkreasi peluang, dan dua kali melepas tembakan yang semuanya mengarah ke gawang. Di menit ke-36, Pulisic menunjukkan visi bagusnya ketika mengirimkan asis untuk gol pertama Chelsea yang dibuat melalui sepakan kaki kiri Olivier Giroud. Pulisic menarik perhatian Joel Matip, Fabinho, dan Virgil van Dijk sehingga Giroud bisa berdiri bebas untuk menyambut umpan terobosan anak muda berusoa 20 tahun ini.

Lima menit kemudian, Pulisic memperlihatkan kualitas yang membuatnya digadang-gadang sebagai salah satu calon pemain terbaik dunia di masa depan: membawa bola dari luar kotak penalti dan melepaskan sepakan presisi untuk mengoyak jala Adrian. Sayang, gol itu dianulir karena Pulisic sudah offside saat menerima umpan Jorginho.

“Dia masih bisa lebih baik dan maklum saja jika dia dibebani harapan besar karena dibeli dengan harga mahal. Namun, kita harus ingat usianya. Dia baru 20 tahun dan baru datang ke liga ini, ke pertandingan dengan intesitas tinggi seperti ini, menghadapi Liverpool, salah satu tim paling intens di sepak bola. Saya senang dengan penampilannya dan ini adalah pertanda bagus karena dia bisa memberikan lebih banyak lagi untuk klub,” kata Pelatih Chelsea Frank Lampard di situs resmi UEFA.

Keburukan Chelsea, dan sayangnya ini yang sangat memengaruhi hasil akhir, adalah belum padunya duet bek tengah Kurt Zouma dan Anders Christiansen. Keduanya luput mengawal Roberto Firmino dan Sadio Mane sehingga Mane bisa mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-48 setelah menerima umpan dari Firmino yang memenangi duel. Christiansen kemudian ditarik keluar di menit ke-85 untuk digantikan bek 21 tahun Fikayo Tomori. Perubahan tak menghasilkan sesuatu yang positif karena di menir ke-95, Zouma dan Tomori kembali luput melihat Sadio Mane berlari dari luar kotak penalti dan dengan leluasa menendang bola umpan Firmino untuk menaklukkan Kepa Arrizabalaga sehingga Liverpool memimpin 2-1.

Kegigihanlah yang bisa menutup kelemahan di lini belakang Chelsea. Kegigihan dan daya tahan itu terlihat di menit ke-101 saat Tammy Abraham dilanggar Adrian yang akibatnya Chelsea dihadiahi tendangan penalti. Jorginho, eksekutor utama penalti Chelsea setelah kepergian Hazard, menunjukkan ketenangan yang dibutuhkan untuk melewati musim yang panjang.

Dengan permainan seperti tadi pagi, dengan tenaga Kante dan kepiawaian Pulisic menciptakan ruang untuk menembak di lini depan, Chelsea bisa berharap untuk bersaing dengan Manchester City, Liverpool, Manchester United, Tottenham Hotspur di liga domestik. Chelsea juga tak akan kesulitan menghadapi raksasa-raksasa Eropa di Liga Champions. Pekerjaan Lampard sekarang adalah menemukan komposisi yang pas di lini belakang agar gawang Kepa tak rentan dibobol.