Gonzalo Higuain: Akhir Perjalanan Striker Ulung Penghalang Kejayaan Messi

Gonzalo Higuain - Reuters/Jorge Silva
29 Maret 2019 21:07 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gonzalo Higuain mengumumkan keputusan penting, keputusan yang kelak menentukan arah kariernya di sepak bola internasional, pada 24 Januari 2007. Usianya kala itu masih 19 tahun dan enam bulan sebelumnya dia pindah dari River Plate menuju Real Madrid.

“Ini pilihan yang saya ambil dari lubuk hati terdalam,” ucap Higuain kepada media harian olahraga Prancis, L’equipe, sebagaimana dikutup Reuters.

Pelatih Prancis Raymond Domenech menyertakan Higuain dalam skuat Les Bleus untuk menghadapi Yunani dalam laga persahabatan pada November 2005. Higuain punya hak membela Prancis. Dia lahir di Brest, kota di ujung barat Prancis yang menghadap Samudra Atlantik pada 10 Desember 1987. Saat itu, ayahnya, Jorge, bermain sebagai bek tengah Brest, yang berlaga di Ligue 1. Hingga awal 2007, Higuain memegang kewarganegaraan Prancis, meski sejuak usia 10 bulan menetap di Argentina.

Namun, El Pipita menolak panggilan Domenech.

“Semua teman saya, rekan-rekan sejawat di sepak bola, dan keluarga saya berada di sana [Argentina]. Saya tak bisa membuat keputusan yang berlainan arah.”

Higuan kemudian mengurus kewarganegaraan Argentina dan panggilan untuk membela timnas negara leluhurnya baru tiba dua tahun kemudian. Diego Maradona, yang menjadi pelatih Albiceleste, membawa Higuain untuk menghadapi Peru pada 10 Oktober 2009. Itu adalah laga persahabatan menghadapi Piala Dunia 201. Higuain lansung mencetak gol di laga debutnya, memanfaatkan asis Pablo Aimar untuk membawa Argentina unggul 1-0 sebelum mengakhiri laga dengan skor 2-1.

Publik Argentina bersorak. Mereka telah menemukan striker pengganti Hernan Crespo. Higuain, saat itu rambutnya masih lebat, menjadi sandaran menuju Afrika Selatan. Dia tak mengecewakan.

Higuain mencetak hattrick di fase grup Piala Dunia 2010 ke gawang Korea Selatan. Dia menjadi pemain ketiga Argentina yang berhasil mencertak hattrick di Piala Dunia, menyusul Guilermo Stabille di Piala Dunia 1930 serta Gabriel Batistuta di Piala Dunia 1994 dan 1998. Higuain juga mencetak rekor sebagai pemain ketiga yang lahir di luar Argentina yang membela Albicelesete di Piala Dunia, setelah gelandang kelahiran Spanyol Pedro Suarez dan gelandang Paraguay Constantino Sosa. Di Afrika Selatan, Higuain mencetak empat gol.

Setelah Piala Dunia 2010, kemilau Higuain bersama Timnas Argentina terus meredup. Secara keseluruhan, Higuain mencetak 31 gol dalam 75 penampilan internasional, berada di urutan keenam top scorer sepanjang masa Albiceleste.

Namun, publik tak akan mengenangnya sebagai striker ulung, tetapi pemain yang menyia-nyiakan kesempatan membawa Argentina menjuarai Piala Dunia dan Copa America, sekaligus pemain yang memupus harapan Lionel Messi menjadi pemain terbesar sepanjang sejarah sepak bola mengungguli Diego Maradona.

Stigma itu mulai melekat pada menit ke-20 di final Piala Dunia 2014 di Stadion Maracana, Brasil, 13 Juli. Toni Kroos menyundul bola, bermaksud mengumpan kepada Mats Hummels. Namun, bola melambung terlalu tinggi, melewati kepala Hummels dan jatuh di kaki Higuain. El Pipita tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Manuel Neuer. Argentina bisa saja memecah kebuntuan dan unggul 1-0. Namun, bola sepakan kaki kanan Higuain melenceng ka kanan gawang Neuer.

Semua orang Argentina tak percaya. Kapten Javier Mascherano memegang kepalanya yang gundul sambil menengadah dan membelalakkan mata. Bagaimana mungkin peluang sebagus itu disia-siakan striker dengan segudang pengalaman seperti Higuain.

Sembilan  menit kemudian, Higuain sebenarnyaberhasil mengoyak jala Neuer, tetapi dia berdiri di posisi offside. Pertandingan berakhir 0-0 hingga waktu normal dan Mario Gotze mencetak gol tunggal di perpanjangan waktu. Jerman dengan generasi emasnya memboyong Piala Dunia, sedangkan Argentina dengan pemain paling berbakat yang pernah ada pulang dengan tangan hampa.

Higuain kembali menyia-nyiakan peluang di final Copa America 2015 melawan Chile. Di menit ke 92, bola yang dia cocor melenceng ke gawang yang sudah melompong. Argentina kalah 1-4 lewat adu penalti dan bola sepakan Higuain melayang tinggi di atas mistal gawang Claudio Bravo di babak tos-tosan.

Setahun kemudian, di final seabad Copa America, Argentina kembali kalah 2-4 lewat adu penalti dari Chile. Higuain lagi-lagi menjadi penyebabnya. Di menit ke-20, dia tinggal berhadapan dengan Claudio Bravo dan entah bagaimana, bola sepakannya melenceng ke kanan gawang. Semua orang membicarakan kegagalan Higuain dan dia sangat tertekan.

“Saya nyaris pensiun karena kegagalan itu,” ujar Higuain pada Maret 2018 kepada TNT Sports sebagaimana dikutip goal.com.

“Tetapi ibu saya menyarankan saya tak menyerah. Saya sudah berniat meninggalkan sepak bola, dunia yang saya cintai, tetapi saya lebih mencintai ibu saya. Dia meminya saya menatap ke depan dan tidak meninggalkan sesuatu yang saya sayangi . Semua saya lakukan demi dia.”

Apologi itu tak berarti untuk dunia sepak bola yang sudah kadung menyayangi Lionel Messi.

Jika saja Higuain lebih tajam dan lebih tenang dalam tiga kesempatan di tiga partai puncak, perjalanan Messi akan paripurna sebagai pesepak bola, dengan sembilan trofi La Liga, enam Copa del Rey, tujuh Supercopa de Espana, empat Liga Champions, tiga Piala Super Eropa, tiga Piala Dunia Antarklub, satu medali emas Olimpiade, satu trofi satu Piala Dunia U-20, satu Piala Dunia, dan dia Copa America. Kita tahu, Messi tak pernah merengkuh gelar juara bersama Argentina Senior dan seusai Copa America 2016, dia benar-benar putus asa, ngambek, dan pensiun dari sepak bola internasional sebelum dibujuk nyaris seluruh rakyat Argentina untuk kembali berbaju Albiceleste hanya untuk dipermalukan Prancis di perdelapan final Piala Dunia 2018.

Setelah Piala Dunia yang memalukan bagi Argentina di Rusia, Messi rehat sejenak dan Higuain tak pernah lagi membela negaranya.

“Orang-orang selalu mengingat gol yang tidak pernah saya cetak di tiga final dan tidak pernah mengenang gol-gol yang saya bikin untuk Argentina,” ucap Higuain dikutup Fox Sports, Jumat (29/3/2019).

“Ini sangat menyakitkan. Keluarga saya menderita, padahal saya mengerahkan semua kemampuan untuk tim nasional. Tim nasional memang gagal mencapai tujuan, tetapi ketika orang-orang membicarakan kegagalan, tentu saja ini sangat berat.”

Hari ini, Higuain memutuskan pensiun dari Timnas Argentina dalam usia 31 tahun. Dia mengakhiri waktunya di pentas internasional.

“Keputusan ini saya ambil karena saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk keluarga, bersama putri saya. Selain itu, saya rasa saya sudah memberikan yang saya bisa untuk negara,” ucap El Pipita.

“Saya ingin fokus sepenuhnya untuk Chelsea.”

Nasib Higuain barangkali akan lebih baik andaikata 12 tahun silam dia mengiyakan ajakan Domenech. Ketika Higuain menderita bersama Argentina, Prancis memenangi Piala Dunia 2018 dengan striker tunggal yang tak mencetak sebiji gol pun dalam perjalanan Les Bleus menuju kegemilangan. Olivier Giroud seolah-olah hanya menjadi pelengkap kebesaran Prancis dan dia Cuma dikenal sebagai striker kelas dua. Namun, dalam usia yang hampir sama dengan Higuain, dia adalah ujung tombak tim juara dunia di Rusia enam bulan lalu.