Anarkisme Sampaoli Benamkan Argentina dan Messi

Lionel Messi, terbenam di Nizhny Novgorod. - Reuters/Ivan Alvarado
22 Juni 2018 17:10 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jorge Sampaoli bikin kesalahan besar yang membenamkan Argentina di Nizhny Novogrod, Jumat (22/6/2018) dini hari WIB. Lionel Messi harus menanggung dosa itu. Reputasinya sebagai bintang besar tergerus habis-habisan.

Sampaoli, pelatih yang membawa Chile mengalahkan Argentina di final Copa America 2015 dan dikenal sebagai murid ideologis Marcelo Bielsa, si pengagum sepak bola menyerang, menurunkan formasi 3-4-3, skema yang tak disukai Messi dan akhirnya bikin Argentina bermain sangat buruk.

Maret lalu, dalam sebuah pesta barbecue bersama Timnas Argentina, Messi mendatangi Sampaoli, mengadu tentang betapa 3-4-3 yang kerap dipakai Sampaoli di Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Conmebol membuatnya kesulitan. Messi punya pengalaman buruk. Luis Enrique menerapkan 3-4-3 pada pengujung musim 2016-2017 di Barcelona dan Messi tidak cocok. Musababnya, bek sayap dalam formasi itu mengambil alih sisi kanan serangan yang menjadi jengkal lapangan favorit Messi.

Sampaoli sepakat. Sebelum Piala Dunia 2018, dia menyatakan Argentina bakal bermain dengan 2-3-3-2. Messi berada di belakang penyerang, ditemani gelandang bertipe playmaker lain. Publik dengan mudah bisa menebak, penyerang yang bakal dipakai Sampaoli adalah Sergio Aguero atau Gonzalo Higuain, sedangkan gelandang pengatur permainan yang mendampingi Leo adalah Angel Di Maria. Skema itu bisa malih rupa menjadi 4-4-1-1 dengan satu gelandang bertahan dan dua fullback yang sangat agresif.

Jika rencana berjalan, Argentina akan bermain sangat menyerang, Sampaoli bakal menabalkan citranya sebagai pelatih yang bisa membentuk tim ultraofensif, Messi bermain bebas dan berkilau sebagaimana di Barcelona, dan Albiceleste menang dengan skor besar, dengan Messi berperan dalam sebagian besar gol.

Di laga pertama menghadapi Islandia, Argentina bermain dengan 4-4-1-1. Lionel Messi bermain di belakang striker tunggal Aguero, disokong Di Maria dan gelandang serang minim pengalaman Maximiliano Meza di sisi sayap.

Javier Mascherano serta Lucas Biglia di pusat permainan melindungki keempatnya. Strategi itu tak berjalan baik. Messi and Co. kelimpungan membongkar pertahanan berlapis Islandia dan Messi gagal mengeksekusi penalti. Argentina bermain seri 1-1.

Sampaoli membuat perubahan, sebuah perubahan yang justru mendatangkan mala. Tanpa disangka, Sampaoli memakai 3-4-3 dan menurunkan pemain-pemain medioker.

Tiga bek tengah yang dia pasang adalah: Gabriel Mercado, pemain 31 tahun yang baru dua tahun lalu melanglang ke Eropa dan lebih banyak menjadi cadangan bersama Sevilla; Nicolas Otamendi, bek yang acap kesulitan menerapkan possession football ala Pep Guardiola di Manchester City; dan Nicolas Tagliafico, bek kiri Ajax Amsterdam yang sudah berumur 25 tahun tetapi baru mengantongi enam caps bersama Albiceleste. Marcos Rojo dan Federico Fazio malah disimpan.

Pilihan di lini tengah juga tidak lazim. Mascherano, yang reputasinya melambung karena menjadi bek tengah di Barcelona, ditemani Enzo Perez. Nama terakhir sebenarnya tak masuk dalam skuat final Argentina untuk Piala Dunia 2018, tetapi Sampaoli kemudian menariknya setelah gelandang serang Manuel Lanzini didera cedera lutut. Dua gelandang bertahan kawakan, Lucas Biglia dan Evar Benegar dicadangkan.

Sampaoli memercayakan pos bek sayap (yang dikhawatirkan Messi bakal menyerobot area permainannya), kepada dua gelandang serang yang bermain di Liga Primera Portugal, Marcus Acuna sebagai bek sayap kiri dan Eduardo Salvio sebagai bek sayap kanan.

Di lini depan, Aguero kembali menjadi striker tunggal ditopang Messi dan Meza. Di Maria yang tampil buruk saat melawan Islandia dicadangkan.

"Saya membuat rencana berbeda karena mengharapkan hasil yang berbeda pula. Saya pikir formasi ini akan menekan lawan," kata Sampaoli seusai laga sebagaimana dilansir Reuters.

Sampaoli mengubah formasi karena ingin menekan Kroasia, dan ternyata gagal. (Reuters)

Pada babak pertama, Argentina kerepotan dan Messi terbukti benar: 3-4-3 tak cocok dengan dirinya. Argentina memang bisa menekan Kroasia sebagaimana keinginan Sampaoli, tetapi tak apalah gunanya tekanan tanpa peluang membikin gol yang layak.

Wajah permainan Albiceleste tak ubahnya anarkisme, tak ada pemimpin yang mengarahkan haluan serangan. Messi sama-sekali tak mampu meliuk-liuk, mengecoh pemain lain, apalagi melepaskan sepakan melengkung yang biasa kita lihat hampir saban pekan di La Liga. The Messiah, pemain yang diyakini punya bakat paling besar sepanjang sejarah sepak bola, terkurung oleh kedisiplinan Marcelo Brozovic, Luca Modric, dan rekan setimnya di Blaugrana, Ivan Rakitic. Messi sama sekali tak mencatat tembakan ke gawang kiper Danijel Subasic. Parahnya, dia cuma menyentuh bola 20 kali, paling sedikit di antara pemain Argentina.

Aguero sama saja. Ketajamannya lenyap. Meza (tak ada orang yang kenal orang ini kecuali penggemar Superliga Argentina yang kadang-kadang saja ditayangkan di saluran televisi berbayar) agak lumayan, bisa mencatat satu tembakan, yang sayangnya tak akurat.

Tanpa Arah

Di babak kedua, kekeliruan taktik berubah menjadi bencana. Anarkisme yang dipertontonkan Argentina makin menjadi setelah Willy Caballero bikin blunder fatal sehingga Ante Rebic bisa mencetak gol indah di menit 53.

“Setelah mereka mencetak gol, kami limbung, kehilangan arah, dan secara emosional sangat terguncang,” ucap Sampaoli.

Argentina bermain bentuk yang buram. Sampaoli, yang selalu mondar-mandir di tepi lapangan, ke kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-kanan lagi, merespons kekacauan permainan anak asuhnya dengan buruk. Alih-alih mengubah formasi, dia justru memasukkan dua pemain yang sama sekali tak berguna: Higuain menggantikan Aguero di depan dan Christian Pavon menggantikan Eduardo Salvio sebagai bek sayap kanan.

Saat pergantian pemain yang dia buat tak berhasil, muka Sampaoli semakin memerah. Dia berkali-kali mengelus kepala botaknya dan berjalan lebih cepat sebelum melepas jaket dan memperlihatkan rajah di kedua lengannya. 22 Menit menjelang pertandingan bubar, Sampaoli baru mafhum betapa 3-4-3 memang tak bisa diterapkan. Enzo Perez digantikan striker Paulo Dybala.

Tetapi Argentina semakin tak jelas, akan bermain dengan formula apa mereka. Frustrasi memuncak. Lini belakang Argentina merosot, sangat merosot. Jangankan di level Piala Dunia, Mercado, Otamendi, dan Tagliafico tak pantas bermain di kompetisi profesional, selevel Liga Indonesia sekali pun.

Gol Luka Modric di menit 80 lahir karena ketiganya tak menutup ruang para pemain Krosia dan membiarkan gelandang Madrid itu menembak dari kejauhan. Bahkan, bek-bek Iran lebih piawai soal bertahan. Gol Ivan Rakitic memperlihatkan buruknya organisasi pertahanan Argentina. Mereka mungkin saja mengira Mateo Kovacic sudah berdiri dalam posisi offside sebelum melepas assist untuk Rakitic. Namun, saat Rakitic menerima bola, tak ada satu pun pemain Albiceleste di kotak penalti yang memepet Rakitic.

Kemalasan ini tentu saja sangat menjengkelkan, tetapi Sampaoli enggan mengambinghitamkan bek-bek yang menjaga pemain lawan layaknya pemain amatir.

“Saya memohon maaf sebesar-besarnya, terutama untuk suporter Argentina yang bersusah payah datang ke sini. Saya ulangi, saya bertanggung jawab. Saya, seperti semua fans dari Argentina, juga punya mimpi. Jadi hasil ini benar-benar mengecewakan. Saya sudah berusaha sekuat tenaga tetapi tak bisa memberikan apa yang orang-orang kehendaki,” ucap Sampaoli.

Messi, sandaran dan tempat Argentina mencari solusi ketika dibebat kesulitan, tak bisa berbuat banyak. Dia sudah kadung dilumpuhkan dari dua sisi: oleh pemain Kroasia dan oleh ketidakcakapan teman-temannya sendiri, juga gagasan Sampaoli yang sangat kebangetan tergantung kepada Messi.

Lionel Messi terisolasi gara-gara jarak gelandang dan penyerang terlalu jauh. (Reuters)

Messi, Higuain, Meza, Dybala, dan Pavon (bagaimana pun dia adalah gelandang serang yang belum pernah dicoba sebagai bek sayap) benar-benar terisolasi setelah Enzo Perez keluar. Mascherano terlalu repot membantu bek-bek semenjana tim Tango dan tak punya kesempatan mengatur permainan. Masalah itu disadari Sampaoli, tetapi tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Sampaoli hanya bisa berkata singkat, bahwa kualitas tim Argentina layaknya awan yang menutupi kecemerlangan Messi.

"Tumpuan kami adalah Leo, tetapi kami tak bisa memberinya bola. Kami bekerja sebagai tim untuk memberinya bola. Tetapi lawan bekerja sangat bagus untuk mencegah rencana ini."

Messi masih berusaha mencari gol pertama di Piala Dunia 2018. Kegagalan dalam penalti melawan Islandia sangat memukulnya. Saat rekan-rekan setimnya melepas lelah dan sedikit berleha-leha dalam pesta barbecue sebelum dipermalukan Kroasia, Messi mengurung diri dalam kamar.

Di pertandingan kemarin, Messi banyak menatap ke tanah. Sementara teman-temannya yang kurang becus main bola menyanyikan Himno Nacional Argentino, Messiah membisu, memegang kening dan alisnya, seolah tahu dia bakal hancur di Nizhny Novgorod.

Argentina memang hancur, dipermalukan, dan harus menanggung kesalahan Sampaoli. Skor 0-3 menjadi kekalahan terbesar kedua Albiceleste di Piala Dunia setelah babak belur dibantai Cekoslovakia 1-6 di Piala Dunia 1958. Hasil itu juga memojokkan Messi dan perlahan-lahan memupus ikhtiarnya menjadi pemain terhebat melebihi Pele, Maradona, Cristiano Ronaldo.

Perjalanan Messi di Rusia bergantung partai melawan Nigeria di Stadion Krestovsky, Rabu (27/6/2018) dini hari WIB. Dia yang dielu-elukan jutaan orang bisa saja berubah menjadi pahlawan layaknya protagonis di film India yang terlunta-lunta dan memikul penderitaan mahaberat sebelum akhirnya meraih kemenangan. Namun, Messi juga bisa bernasib seperti tokoh-tokoh dalam realisme John Steinbeck: dari awal hingga tamat cerita, selalu saja kalah dan terluka.