Prancis Menjadi Juara karena Menyadari Napas Utama Piala Dunia 2018

Antoine Griezman dan teman-temannya bisa menjadi juara berkat serangan balik dan kejelian memanfaatkan bola mati. - Reuters/Christian Hartmann
16 Juli 2018 00:25 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJAAllez Les Bleus. Maqnifique Les Bleus.

Prancis merengkuh trofi Piala Dunia 2018 setelah menekuk Kroasia 4-2 dalam final di Stadion Luzhniki, Moskwa, Minggu (15/7/2018). Prancis berhasil menampilkan performa yang sesuai dengan napas utama turnamen: membiarkan lawan mengendalikan permainan dan mengambil keuntungan dari kelengahan musuh.

Piala Dunia 2018 adalah panggung yang menyesakkan bagi tim-tim yang gemar mengendalikan permainan. Mereka yang rata-rata menguasai bola hingga lebih dari 60% selalu menderita. Jerman terjungkal di fase grup. Spanyol dan Argentina terhenti di 16 besar. Brasil kandas di perempat final karena Belgia membiarkan Selecao memegang bola. Prancis mafhum dengan kecenderungan ini dan mengikuti arus dengan sangat baik.

Di tiga laga penyisihan grup, Prancis tak pernah memenangi penguasaan bola, tetapi mendapat hasil yang diharapkan. Di fase gugur, Prancis juga membiarkan lawan memegang kendali permainan. Argentina mereka buat kocar-kacir lewat serangan balik kilat dan kecepatan lari Kylian Mbappe. Uruguay yang punya gaya sama dengan Les Bleus, yakni enggan menguasai bola terlalu lama, masih kurang piawai dalam menjebak musuh dan harus mengakui keunggulan Prancis.

Di semifinal, pemain Belgia dibuat frustrasi. Thibaut Courtois dan Eden Hazard sampai mengejek Prancis sebagai tim jelek yang menang karena kejelian memanfaatkan bola mati.

“Saya lebih suka kalah dari Brasil ketimbang dari Prancis. Setidaknya, Brasil lebih sungguh-sungguh bermain bola,” ucap Courtois selepas Belgia kalah di empat besar.

Gaya dan semangat itu kembali ditunjukkan Les Bleus di partai puncak. Prancis hanya perlu menguasai bola sekitar 39% dan melepas delapan tembakan, tetapi sangat sangkil dengan mencetak empat gol. Lini belakang Prancis juga disiplin. Kroasia boleh saja menguasai bola sampai 61% dan mengoper 548 kali, dua kali lipat daripada umpan yang dicatat pemain Les Bleus. Namun, Vetrani hanya bisa mencetak dua gol.

Bola Mati

Sejak wasit Nestor Pitana meniup peluit kick off, Prancis membiarkan Kroasia memegang bola. Sepuluh pemain Prancis menyusun barisan yang rapi sesuai posisi mereka dan di beberapa momen, formasi 4-3-3 sangat kelihatan.

Les Bleus menang menggunakan cara yang dicibir Courtois, dilengkapi senjata yang mereka pakai saat memulangkan Argentina dan Lionel Messi: bola mati, kejelian, kecepatan, ditambah tren baru di Piala Dunia 2018, yakni kecenderungan wasit mengandalkan video assistant referee (VAR) untuk mengambil keputusan penting.

Gol pertama Prancis lahir di menit 18 lewat bunuh diri Mario Mandzukic. Striker yang bersinar di semifinal itu salah mengantisipasi sepakan bebas Antoine Griezmann. Gol kedua Les Bleus di menit 38 tercipta berkat sepakan Antoine Griezmann dari titik putih. Pitana memberikan Prancis penalti setelah mengevaluasi rekaman VAR yang memperlihatkan Ivan Perisic menyentuh bola di kotak penalti saat berusaha mengintersep bola tembakan sudut Antoine Griezmann. Kroasia sempat membalas berkat tendangan keras Perisic.

Serangan Balik

Di babak pertama, ejekan Courtois ada benarnya. Namun, di babak kedua, Prancis bermain seperti ketika menghadapi Argentina: menunggu lawan lengah saat menyerang untuk melancarkan serangan balik kilat. Aktor utamanya adalah Kylian Mbappe, bocah 19 tahun yang punya laju lari sangat kencang. Gol ketiga Prancis lewat kaki Paul Pogba di menit 59 lahir dari kombinasi serangan balik dan kecepatan Mbappe. Striker yang mencetak dua gol ke gawang Argentina dan bikin Lionel Messi seperti pemain semenjana ini berlari kencang sebelum mengirim umpan kunci ke Griezmann. Griezmann kemudian mengirim operan ke Pogba yang langsung menembak. Bola sempat diblok Demagoj Vida dan Pogba langsung menghantam bola rebound untuk menambah keunggulan Les Bleus menjadi 3-1.

Gol keempat Prancis adalah paras kegemilangan Mbappe. Pada menit 65, Mbappe menerima umpan dari Lucas Hernandez, mengontrolnya sebentar, dan melepaskan tendangan keras menggunakan kaki kanan. Bola tak mampu ditahan Danijel Subasic dan Kroasia praktis sudah kalah.

Kesalahan Hugo Lloris di menit 69 yang menyebabkan Mandzukic mencetak gol kedua Kroasia tak ada artinya di laga ini. Blunder itu tertutup kepiawaian Didier Deschamps meracik strategi yang pas untuk membawa Prancis menjadi juara dunia kali kedua setelah 1998. Allez Les Bleus.