Ihwal Ajakan Rekonsiliasi dari Brajamusti, Begini Tanggapan Pasoepati

Dua tersangka pelemparan batu yang menewaskan suporter PSS Sleman sudah diringkus dan kini ditahan di Mapolres Sleman, Jumat (25/1/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
26 Januari 2019 18:07 WIB Ivan Andimuhtarom Sepakbola Share :

Harianjogja.com, SOLO—Presiden Pasoepati Aulia Haryo Suryo menyatakan kelompok suporter Persis Solo yang dia pimpin membuka pintu bagi siapa pun yang menyerukan kata damai.

“Sebagai suporter yang cinta damai, sudah selayaknya hal itu diupayakan,” kata dia kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Jumat (25/1/2019).

Sebelumnya, Muslich Burhandin, Presiden Brajamusti, kelompok suporter PSIM Jogja, menyerukan semua wadah pendukung klub sepak bola saling menjalin komunikasi demi iklim sepak bola yang aman dan beradab. Pernyataan itu dia lontarkan menyusul tewasnya salah satu suporter karena terkena lemparan batu di Kalasan, Sleman, saat hendak pulang setelah menonton laga PSS melawan Persis Solo, Sabtu (19/1/2019) pekan lalu. Mapolres Sleman telah menetapkan dua tersangka, keduanya adalah pendukung fanatik PSIM yang mengincar suporter Persis Solo.

“Tidak ada pilihan selain rekonsiliasi.  Kami ingin hal ini segera tercipta. Langkah awal berupa koordinasi akan kami jalankan,” kata pria yang karib disapa Tole itu saat dihubungi Harian Jogja melalui ponsel, Jumat.

Presiden Pasoepati mengatakan rekonsiliasi bukan perkara gampang karena adanya hambatan sejarah. Di kalangan elite, ia yakin perdamaian bakal berjalan dengan mudah. Tetapi hal yang sama tak bisa serta-merta terealisasi di kalangan akar rumput.

“Perselisihan Solo dan Brajamusti sudah lama. Bisa [rekonsiliasi] di tingkat atas,  tetapi di akar rumput harus secara bertahap. Konsekuensi damai tak bisa dilakukan secara instan. Ini butuh proses dan waktu yang tidak singkat,” kata dia.

Ia mencontohkan, upaya rekonsiliasi dengan BCS sudah berlangsung sejak 2015, saat dirinya belum menjadi Presiden Pasoepati. Ia yang saat itu masih berstatus sebagai tetua Pasoepati kerap berkunjung dengan sesama tetua.

“Begitu saya jadi presiden, mereka welcome [menyambut baik] untuk rekonsiliasi. Kami sudah nandur [menanam benih-benih perdamaian] lama. Suatu ketika pernah ada tur PSS Sleman dan saya turun langsung mengawal. Jadi, kalau Brajamusti ingin rekonsiliasi, ya tidak segampang itu,” kata dia.

Lelaki yang akrab disapa Rio itu menyambut baik jika Brajamusti, suporter PSIM Jogja, menawarkan rekonsiliasi kepada Pasoepati.

“Tetapi saat ini belum ada yang menghubungi Pasoepati.”

Aulia juga menyatakan korban penganiayaan suporter PSIM Jogja di dekat Masjid Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Seleman pada Sabtu lalu bukanlah suporter Persis Solo.

“Tidak ada anggota saya yang jadi korban. Kalau ada, saya pasti tahu. Infonya itu anggota BCS asal Wonosari,” ujar dia.

Keterangan tentang suporter Persis Solo yang jadi korban penganiayaan diungkapkan Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Anggito Hadi. Dalam konferensi di Mapolres Sleman, AKP Anggito mengatakan pelaku penganiayaan adalah bocah berusia 17 tahun yang tergabung dalam Begundal Street, salah satu kelompok suporter PSIM.

Sumber : JIBI/Solopos