Perempuan Iran Bakar Diri & Tewas karena Ketahuan Menonton Bola di Stadion

Suporter Iran - Reuters/Gleb Garanich
11 September 2019 19:47 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Seorang perempuan Iran meninggal dunia karena membakar diri di luar ruang sidang setelah dia terancam hukuman enam bulan penjara akibat berusaha masuk ke Stadion Azadi, Teheran.

Sahar Khodayari, perempuan berusia 29 tahun tersebut, meninggal di sebuah rumah sakit di Teheran, Senin (9/9/2019). Kematiannya memicu protes di negeri yang melarang perempuan masuk stadion untuk menonton sepak bola. Dia dikenal dengan nama Blue Girl di medsos, sesuai dengan seragam warna biru milikklub Liga Iran kesayangannya, Esteghlal.

Khodayari membakar dirinya pekan lalu setelah ditangkap polisi akibat mencoba masuk Stadion Azadi untuk melihat pertandingan Esteghlal. Dia menyamar sebagai laki-laki yang memakai wig biru dan mantel panjang. Namun, polisi memeriksanya dan mengetahui Khodayari sesungguhnya perempuan. Dia kemudian ditahan selama tiga hari sebelu, dibebaskan untuk menunggu persidangan.

Khodayari belum menerima vonis akibat menonton bola, tetapi dia ketakutan dipenjara selama enam bulan. Sarjana ilmu komputer ini dikabarkan pernah mencoba bunuh diri saat masih kuliah. Saudarinya mengaku Khodayari dalam perawatan mental dan situasi tersebut bisa meringankannya dalam kasus yang dia hadapi.

Iran sebenarnya sudah mengizinkan beberapa wanita menonton bola di stadion, termasuk saat Presiden FIFA Gianni Infantino mengunjungi negara tersebut pekan lalu. Namun, kelompok hak asasi manusia di negara itu mengatakan izin itu hanya publisitas dan sebenarnya Iran masih membatasi perempuan pergi ke stadion.

Infantino memberi tenggat kepada pemerintah Iran hingga 15 Juli untuk mencabut larangan perempuan menonton bola ke stadion agar bisa berlaga di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Iran akan memulai pertandingan kualifikasi melawan Kamboja pada 10 Oktober melawan Kamboja.

Kematian Khodayari memancing banyak simpati. Beberapa pemain timnas putri Swedia menyebutnya sebagai tragedi. “ Ini tragedi yang tak boleh terulang,” kata Kosovare Asllani, kapten Swedia.

“Sekarang waktunya untuk bersuara. Kami harus membantu perempuan di Iran untuk memerangi ketidakadilan ini,” ujar dia dikutip dari The Guardian.

Eks gelandang Ali Karimi yang pernah memperkuat Iran di 127 laga internasional menyerukan penduduk Iran untuk memboikot pertandingan bola di stadion sebagai bentuk protes.