Senjata Makan Tuan, PSIM Kalah 1-2 dari Persik karena Gagal dalam Duel Udara

Budiyana (kiri) dan Rosi Noprihanis gagal membawa PSIM menang atas Persik meski sudah unggul di babak pertama. - Harian Jogja/Jumali
01 Juli 2019 18:12 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, BANTUL—PSIM Jogja luluh lantak di babak kedua ketika menghadapi Persik Kediri pada laga pekan ketiga Liga 2 2019 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Senin (1/7/2019) sore. Lini belakang Laskar Mataram sangat rapuh, lemah dalam duel udara, dan ceroboh, sehingga keunggulan 1-0 di babak pertama terbuang sia-sia.

PSIM menggunakan gaya umpan lambung dalam pertandingan ini. Di babak pertama, skema tersebut berjalan bagus. PSIM mengandalkan dua targetman sekaligus di lini depan, yakni Cristian Gonzales dan Raphael Maitimo, untuk menyambut umpan lambung dari lini tengah maupun belakang sembari menunggu barisan gelandang serang masuk kotak penalti Persik.

Meski tak menarik, gaya seperti ini cukup manjur menghadirkan kemenangan. Gonzales selalu unggul dalam dua duel udara. Maitimo juga jago, meski kalah dalam dua duel, kekalahan tersebut melahirkan tendangan bebas untuk Laskar Mataram. Dalam 45 menit, PSIM menguasai serangan, melepaskan empat tembakan ke gawang, dan mencetak satu gol lewat Rosi Noprihanis tujuh menit sebelum turun minum. Gol tersebut tercipta berkat strategi baku, yakni umpan lambung. Rosi berhasil mengontrol bola kiriman Budiyana dan membawa PSIM memimpin.

Namun, di babak kedua situasi berubah. Musababnya adalah performa medioker lini belakang. Kiper I Putu Pager Wirajaya tampil buruk. Pada menir ke-53, ketika Persik mendapat tendangan bebas jauh dari luar kotak penalti, dia tak bisa mengambil keputusan dengan tepat. Putu Pager gagal menepis tendangan keras bek Persik Risna Prahala Benta yang meluncur di kiri bawah gawang Pager sehingga kedudukan menjadi 1-1.

Gol yang mengejutkan ini langsung direspons Pelatih Vladimir Vujovic. Di menit ke-63, dia menarik keluar Maitimo serta Rosi dan memasukkan Raymond Tauntu dan Hendrico Satriadi. PSIM hanya menyisakan Gonzales sebagai satu-satunya targetman. Dengan skema ini, PSIM mencoba mengombinasikan umpan jauh dengan umpan pendek di lini serang PSIM. Gonzales masih jago di duel udara dan tak pernah kalah, tetapi operan pendek gagal diperagakan dengan sempurna oleh barisan gelandang serang.

Ketika lini depan PSIM kebingungan membongkar pertahanan Persik, lini belakang mereka tampil kacau. Permainan jelek bek PSIM sebenarnya sudah terlihat di babak pertama. Di menit ke-18 Achmad Hisyam Tolle gagal mengontrol bola dan membut PSIM nyaris kebobolan. Untung saja Putu Pager bisa memblok tendangan keras Septian Bagaskara. Kualitas buruk barisan pertahanan juga tertutup dengan kemampuan lini depan dalam bertarung.

Di babak kedua, ketika umpan jauh tak lagi ampuh dalam menyerang, barisan bek tetap tampil semenjana dan hasilnya adalah kekalahan. Gaya umpan lambung yang diandalkan untuk mendulang angka berbalik menjadi senjata maan tuan. Pada menit ke-83, bek tengah Fandy Edy kalah berduel udara dengan Bagaskara yang melakoni tugas sebagai targetman Persik. Celaka, Fandy Edy adalah orang terakhir di lini belakang PSIM. Ketika dia kalah berduel, bola meluncur ke kotak penalti PSIM dan dengan mudah dikuasai gelandang serang Persik Arif Yanggi. Momen selanjutnya sangat mengecewakan untuk PSIM. 

Arif Yanggi menyepak bola ke kiri bawah gawang yang tak bisa ditahan Putu Pager. PSIM secara mengejutkan takluk 1-2.

Laskar Mataram mencoba membalas, lagi-lagi menggunakan skema umpan panjang yang kerap terburu-buru, dan hasilnya tidak manjur. Di menit terakhir, PSIM sebenarnya punya kesempatan menyamakan kedudukan. Tetapi sepakan keras Gonzales masih melenceng.

Ini adalah kekalahan kedua PSIM dalam tiga laga awal Liga 2. Di pertandingan pertama, PSIM mengalahkan tuan rumah Persiba Balikpapan 1-0, kemudian di pertandingan kedua kalah 0-1 dari Mitra Kukar dan kalah lagi dari Persik Kediri.

Persik kini malah memuncaki klasemen sementara Grup Timur dengan nilai tujuh, hasil dua kemenangan dan sekali imbang.