Imbas Pandemi Investor AS Lirik Klub Jerman

Penyerang Bayer 04 Leverkusen Moussa Diaby. - Bundesliga.com
08 April 2021 23:07 WIB Lorenzo Anugrah Mahardhika Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Investor asal AS mulai melirik sejumlah klub sepak bola di Jerman seiring dengan potensi dampak pandemi Covid-19 terhadap kelangsungan operasional di klub-klub tersebut.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (8/4/2021), investor dari Pacific Media Group, Paul Conway dan Jordan Gardner merupakan salah satu dari sejumlah pemilik dana asal Negeri Paman Sam yang berminat untuk berinvestasi pada klub-klub di Jerman.

Ketertarikan Conway dan Gardner untuk berinvestasi di Jerman muncul seiring sejumlah klub yang membuka kemungkinan untuk menarik dana dari eksternal, seperti Eintracht Frankfurt dan SC Paderborn 07.

SC Paderborn 07 yang berlaga di 2.Bundesliga, atau divisi kedua Liga Jerman. dikabarkan tengah membahas rencana investasi dengan setidaknya satu konsorsium asal AS.

Sementara itu, klub divisi satu Liga Jerman atau Bundesliga, Eintracht Frankfurt juga dikabarkan tengah membahas kemungkinan untuk investor baru. Berdasarkan sumber dari klub tersebut, Eintracht Frankfurt masih berada dalam tahap awal dengan bank untuk menjual kepemilikan minoritas.

Adapun, pada tahun lalu, kelompok investor internasional dikabarkan melakukan pendekatan kepada klub divisi tiga Jerman, TSV 1860 Munich untuk mengakuisisi saham mayoritas tim tersebut.

“Secara strategis, pasar di Jerman sangat menarik. Kami sudah menyampaikan ketertarikan pada sejumlah klub untuk melihat adanya kesamaan filosofi dan juga untuk menolong klub tersebut,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Conway melanjutkan, tim-tim di Jerman sangat cocok untuk perusahaannya yang memiliki portofolio sejumlah klub di divisi bawah wilayah Eropa. Klub-klub yang dimiliki oleh Conway berfokus pada pengembangan pemain muda dan permainan sepakbola yang menyerang.

“Banyak klub di Jerman yang bermain dengan high press, anggaran yang stabil dan komitmen yang bagus untuk pemain muda. Kami dapat melakukan investasi pada lebih dari satu klub di Jerman,” katanya.

Sementara itu, Gardner mengatakan, potensi pasar di Jerman sangat potensial dan belum terjamah. Gardner merupakan pemilik saham mayoritas klub Denmark, FC Helsingor, serta investor minoritas pada Swansea City di Inggris dan Dundalk FC di Irlandia.

Kepemilikan mayoritas investor komersial di Jerman saat ini dibatasi oleh peraturan 50+1 yang ditetapkan pada 1998 lalu. Hal in berarti, investor komersial hanya dapat memegang kepemilikan sebuah klub sebesar 49 persen, dengan 51 persen sisanya dimiliki oleh pendukung dan anggota klub tersebut.

Peraturan ini dinilai berimbas pada nilai gaji pemain dan harga tiket untuk penonton yang relatif rendah dibandingkan negara lain seperti Spanyol dan Inggris.

Pengecualian diberikan pada sejumlah klub seperti Vfl Wolfsburg yang dimiliki oleh perusahaan otomotif Volkswagen, dan Bayer Leverkusen yang dimiliki perusahaan farmasi Bayer AG. Keduanya diberikan keringanan seiring dengan investasi konstan yang diberikan pada klub tersebut selama lebih dari dua dekade.

Selanjutnya, klub TSG 1899 Hoffenheim yang dimiliki pendiri perusahaan perangkat lunak SAP SE, Dietmar Hopp, dan RB Leipzig yang diakuisisi oleh perusahaan minuman energi Red Bull juga menandakan pergeseran budaya sepakbola di Jerman. Akusisi keduanya memunculkan perdebatan sengit di kalangan suporter sepakbola di Jerman.

Data dari DFL menyebutkan, klub-klub pada dua divisi teratas di Jerman mencatatkan penerimaan sebesar 4,5 miliar euro atau US$5,3 miliar pada musim kompetisi 2019/2020. Jumlah tersebut turun 5,7 persen dibandingkan musim sebelumnya.

Selain itu, DFL juga memperingatkan dampak negatif dari pandemi virus corona akan semakin terasa dalam beberapa waktu kedepan seiring dengan lockdown pada stadion-stadion di negara tersebut.

“Pandemi virus corona akan berimbas pada struktur kepemilikan klub sepakbola Jerman dalam jangka panjang. Pada akhirnya, mereka tidak akan menemukan solusi jangka panjang lainnya, selain menerima investasi dari eksternal,” jelas pengacara dari Pinsent Masons di Jerman, Daniel Erd.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia