Pemain Jerman Protes Dugaan Pelanggaran HAM Jelang Piala Dunia 2022 di Qatar

Lusail Iconic Stadium di Lusail, Qatar - E/Architect
26 Maret 2021 16:17 WIB M. Syahran W. Lubis Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Para pemain Timnas Jerman mengenakan kaus untuk menunjukkan dukungan kepada pekerja migran Qatar sebelum bertanding melawan Islandia pada Kualifikasi Piala Dunia 2022, Jumat (26/3/2021) dini hari WIB.

Menjelang pertandingan yang akhirnya dimenangi Jerman tiga gol tanpa balas itu, skuat Der Panzer mengenakan kemeja hitam dengan satu huruf putih di atasnya yang bertuliskan 'Human Rights' atau 'Hak Asasi Manusia'.

Mereka mengikuti pemain Norwegia yang mengenakan kaos bertuliskan 'Hak asasi manusia di dalam dan di luar lapangan' sebelum menghadapi Gibraltar sehari sebelumnya. Piala Dunia dijadwalkan akan dimulai di Qatar pada 21 November tahun depan.

"Kami memiliki Piala Dunia yang akan datang dan akan ada diskusi tentang itu," kata gelandang Jerman Leon Goretzka, yang mencetak gol pembuka timnya dalam kemenangan 3–0 di Duisburg.

"Kami ingin menunjukkan bahwa kami tidak mengabaikannya. Kami memiliki jangkauan yang luas dan kami dapat menggunakannya untuk memberi contoh bagi nilai-nilai yang ingin kami perjuangkan."

Setelah melakukan protes pada Kamis dini hari WIB, Federation Internationale de Football Association (FIFA) mengatakan Norwegia tidak akan menghadapi proses disipliner. FIFA menambahkan mereka "percaya pada kebebasan berbicara, dan pada kekuatan sepak bola sebagai kekuatan untuk kebaikan".

Sebuah laporan di Guardian bulan lalu mengatakan 6.500 pekerja migran meninggal di Qatar sejak Piala Dunia 2022 ditetapkan di negara itu 11 tahun lalu.

Menanggapi laporan itu, panitia penyelenggara Qatar mengatakan: "Kami sangat menyesali semua tragedi ini dan menyelidiki setiap insiden untuk memastikan pelajaran yang didapat. Kami selalu menjaga transparansi seputar masalah ini dan akan menyengketakan klaim yang tidak akurat seputar jumlah pekerja yang meninggal pada proyek kami."

Negara ini secara kontroversial mengalahkan tawaran saingan dari Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, dan Jepang untuk menjadi tuan rumah turnamen, dengan ratusan ribu pekerja konstruksi datang dari luar negeri.

Qatar telah membangun tujuh stadion baru untuk menggelar turnamen, yang dipindahkan ke musim dingin atau akhir tahun depan untuk menghindari panasnya musim panas yang ekstrem di negara Tumur Tengah tersebut.

Pada awal pekan ini, Amnesty International meminta FIFA menekan Qatar agar menghormati reformasi ketenagakerjaan yang dijanjikan sebelum turnamen.

Dalam surat empat halaman kepada Presiden FIFA Gianni Infantino, organisasi hak asasi manusia itu mengatakan tindakan mendesak dan konkret diperlukan.

Sebagai tanggapan, Pemerintah Qatar mengatakan berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitra internasionalnya termasuk Amnesty International untuk melindungi semua pekerja dan memastikan undang-undang baru diterapkan dan ditegakkan secara efektif.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia