MU Kalah, Martial & Tuanzebe Jadi Korban Pelecehan Rasial

Pemain depan Manchester United Anthony Martial - Reuters
29 Januari 2021 03:27 WIB M. Syahran W. Lubis Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Manchester United murka setelah Axel Tuanzebe dan Anthony Martial dilecehkan secara rasial di media sosial setelah kekalahan dari Sheffield United di Old Trafford.

Gelandang United Scott McTominay menulis di media sosial bahwa dia muak dengan apa yang dia baca. Kapten klub Harry Maguire menambahkan, "Bersatu melawan rasisme. Kami tidak akan menoleransinya."

Mantan bek United Rio Ferdinand menyebutnya sebagai "aib" dan berkata, "Para idiot bodoh ini perlu diekspos sehingga semua orang dapat melihat mereka apa adanya."

Dalam sebuah pernyataan, klub berjuluk Setan Merah mengatakan semua orang di Manchester United muak dengan pelecehan rasial yang diterima para pemain melalui media sosial.

"Kami benar-benar mengutuknya dan sangat menggembirakan melihat penggemar lain juga mengutuk ini di media sosial. Mengidentifikasi idiot tak berotak tanpa nama ini tetap bermasalah. Kami mendesak platform media sosial dan otoritas regulasi untuk memperkuat langkah-langkah untuk mencegah perilaku semacam ini."

Badan amal anti-rasisme Kick it Out mengatakan pelecehan yang berkelanjutan terhadap pemain di media sosial "sama sekali tidak dapat diterima" dan menegaskan kembali pendiriannya bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kebencian online harus menghadapi "konsekuensi kehidupan nyata".

"Kami tahu bahwa pelecehan diskriminatif dapat memiliki dampak dunia nyata yang signifikan pada kesejahteraan para korban," kata Ketua Kick it Out Sanjay Bhandari.

"Kami akan terus bekerja dengan otoritas sepak bola, penegak hukum, dan perusahaan media sosial untuk mencoba menyingkirkan sepak bola dari perilaku yang penuh kebencian dan diskriminatif."

Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA), persatuan para pemain, telah mendorong Tuanzebe, Martial, dan pemain lain yang menjadi sasaran pelecehan rasial untuk mengajukan tuntutan.

"Kami ingin para pelaku dimintai pertanggungjawaban atas perilaku online mereka," kata PFA dalam sebuah pernyataan. "Akun pengirim pesan harus dilarang. Detail mereka perlu diberikan kepada pihak berwenang yang sesuai untuk mengambil tindakan lebih lanjut.”

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia