Game Over, Solskjaer

Ole Gunnar Solskjaer - Instagram
10 Desember 2020 14:17 WIB Chrisna Chaniscara Sepakbola Share :

Harianjogja.com, LEIPZIG—Tagar “Ole Out” kembali memenuhi jagat maya usai Manchester United (MU) kandas di fase grup Liga Champions. Kekalahan 2-3 dari RB Leipzig di Red Bull Arena, Rabu (9/12/2020) dini hari WIB, benar-benar menampar fans MU yang ingin klub mereka berprestasi di ajang Eropa menyusul inkonsistensi di Liga Premier.

Hasil tersebut membuat tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer harus finis di posisi tiga Grup H dan harus terdampar ke Liga Europa. Tak hanya nasib MU yang terhenti di Liga Champions, karier Solskjaer di Old Trafford bukan mustahil ikut segera berakhir. Para fans mulai gerah karena sang pelatih tak kunjung membawa MU solid dan menjadi tim yang disegani. Nama Mauricio Pochettino dan Massimiliano Allegri pun kembali mengemuka seiring rumor pemecatan Solskjaer.

Konsistensi memang jadi penyakit utama United. Dari 10 laga terakhir di seluruh kompetisi, Bruno Fernandes dkk. menang enam kali dan kalah empat kali. Di Liga Champions, kali pertama sejak musim 2012/2013 MU kalah beruntun. Sebelum dari RB Leipzig, Setan Merah dikalahkan Paris Saint-Germain (PSG) 1-3. Posisi Solskjaer bisa berada di titik nadir apabila tim kembali kalah dalam Derbi Manchester kontra Manchester City di Old Trafford akhir pekan ini. “Anda tidak bisa terus mengasihani diri sendiri. Kami memiliki pertandingan besar pada hari Sabtu [12/12/2020, waktu setempat melawan City) dan kami harus fokus pada itu,” kata Solskjaer seperti dikutip uefa.com, Rabu.

Kapasitas Solskjaer menakhodai MU memang masih dipertanyakan meski mampu membawa anak asuhnya finis di posisi ketiga klasemen Liga Premier 2019/2020. Di awal musim, United sempat hampir masuk zona degradasi meski belakangan mulai bangkit dan berada di posisi enam klasemen Liga Premier. Biang keladi inkonsistensi performa Harry Maguire dkk. tak lepas dari hobi Solskjaer gonta-ganti formasi.

Pelatih asal Norwegia itu punya tiga taktik berbeda yakni 4-2-3-1, 4-4-2 dan 3-4-1-2. Ketidakpakeman formasi membuat para pemain kikuk. Saat melawan Leipzig, MU yang mengadopsi 3-4-1-2 gagal menampilkan keseimbangan. Wing back Aaron Wan-Bissaka dan Alex Telles yang digadang-gadang mampu tampil optimal dalam formasi ini justru menjadi titik lemah. Tiga gol Leipzig berawal dari umpan pemain dari sisi sayap.

Pelatih Leipzig, Julian Nagelsmann, memuji anak asuhnya yang menampilkan performa meyakinkan sejak awal laga meski terbebani target wajib menang. Leipzig hanya butuh 13 menit untuk unggul 2-0 via gol Angelino dan Amadou Haidara. Sempat membuat skor menjadi 3-0 via Justin Kluivert di menit ke-69, MU menipiskan kedudukan lewat penalti dan bunuh diri Ibrahima Konate pada 10 menit akhir. “Saya katakan sebelum pertandingan bahwa mereka adalah mesin dan mereka menunjukkannya lagi malam ini,” ujar Nagelsmann.

 

Sumber : JIBI/Solopos