Liga 1 seperti Buah Simalakama bagi PSS Sleman

Pemain PSS Sleman Derry Rachman Noor berebut bola dengan pemain PS Tira Persikabo pada laga pekan ke-2 Liga 1 2020 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (8/3/2020) malam - Harian Jogja/Jumali
22 Oktober 2020 19:17 WIB Hey Setiawan (ST18) Sepakbola Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Direktur PT Putra Sleman Sembada [PSS], Marco Paulo Garcia menganggap lanjutan kompetisi Liga 1 di tengah pandemic ibarat memakan buah simalakama. Terdapat dua situasi yang sama-sama memberatkan.

Marco, sapaannya, mengatakan bahwa kompetisi seperti Liga 1 muaranya akan tetap ke timnas. Kompetisi menjadi tempat bagi para pemain menunjukan kemampuan. Jika betul memikat, kans untuk masuk ke skuat timnas terbuka lebar untuknya. Jadi, dapat dikatakan bahwa antara kompetisi dan eksistensi timnas jelas tak bisa dipisahkan.

“Timnas itu konsekuensi logis dari kompetisi. Sejatinya pemain memang dibina di kompetisi. Semua hal yang didapat di kompetisi dibawa ke timnas yang menjadi panggungnya. Dalam konteks ini saya sepakat,” ujar Marco, direktur yang membawahi klub PS Sleman, Rabu (21/10/2020).

Kendati demikian, seperti yang telah disinggung di awal, opsi melanjutkan kompetisi di tengah pandemi juga menyajikan konsekuensi tersendiri. Kata Marco, apabila kompetisi dilanjutkan dengan terpaksa maka luaran yang diharapkan oleh timnas justru tidak akan tercapai. Para pemain yang berkompetisi di tengah pandemi tak bisa lepas dari risiko penularan Covid – 19. Jika demikian, kerugian tak hanya diderita klub saja, timnas pun juga ikut kena imbasnya.

“Karena pemain-pemain yang bermain di kompetisinya, jika tetap dipaksakan, bisa terinfeksi Covid dan tidak siap untuk timnas nantinya,” kata Marco.

Marco juga menyoroti pada segi daya saing kompetisi yang tidak seimbang. Maka demikian, katanya, di tahun yang tak normal ini, pihaknya mesti memandang sepakbola dari dimensi berbeda. Khususnya, bila menyangkut konteks dan kondisi yang ada di Indonesia.