Kompetisi Berhenti, Wasit Nyambi Jaga Angkringan

Dewi Latifah saat menjadi hakim garis dalam satu pertandingan. - Istimewa
17 Oktober 2020 20:37 WIB Abdul Hamied Razak Sepakbola Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pandemi Covid-19 membuat kompetisi sepak bola Indonesia terhenti. Selain pesepak bola, berhentinya kompetesi berdampak pula pada profesi wasit.

Di dunia pesepak bola lokal, nama Dewi Latifah mungkin tak asing lagi terdengar. Berbagai kompetisi sepak bola dari liga kasta terbawah hingga kasta tertinggi bisa dipastikan familier dengan sosok wasit ini. Terutama di berbagai kompetisi sepak bola wanita.

Mbak Latif, sapaan akrabnya merupakan satu-satunya wasit perempuan dari Sleman yang mengantongi Lisensi C1 Nasional. Dunia perwasitan sudah ia tekuni sejak 2013 lalu. Namun ia mengaku serius menjalani dunia perwasitan sejak awal 2019. "Setelah saya mengikuti kursus lisensi C1, saya ambil keputusan untuk fokus menjalani profesi wasit ini," katanya kepada Harian Jogja saat ditemui pada Selasa (13/10/2020).

Usianya saat ini beranjak 26 tahun, tetapi sosok wasit yang mengawali kariernya sebagai pemain sepak bola wanita ini memiliki segudang prestasi. Berbagai kompetisi resmi maupun tidak resmi diraihnya. Pada 2009, saat masih sekolah SMP kelas dua Latifah bergabung dengan klub Futsal Putri Mataram.

Pada kompetisi Porda DIY 2009, klub futsal ini meraih perunggu. Prestasi berlanjut pada kompetisi Porda DIY selanjutnya, baik 2011, 2013 dan 2015 dengan raihan emas. Saat menjadi atlet Porda sepak takraw pada 2017, ia pun berhasil menggondol medali emas.

Pada 2015, Latifah mengikuti kursus wasit C2 dan mengantongi lisensi. Sebagai pemegang lisensi wasit C2, ia aktif berkecimpung di berbagai kompetisi tingkat regional. Seakan belum puas, Latifa pun mengikuti tawaran PSSI untuk menjajaki lisensi wasit C1 pada 2019. "Jadi wasit itu tidak mudah. Selain harus terus latihan, ada rule atau aturan yang tidak boleh dilanggar," katanya.

Untuk mendapatkan lisensi, katanya, seorang wasit harus lolos berbagai tes. Misalnya tes lari 10 lap, sejauh empat kilometer nonsetop. Ada durasi waktu yang harus ditempuh. Jika tidak memenuhi ketentuan, calon wasit tak bakal lolos. Begitu juga dengan setiap kompetisi PSSI, wasit yang dipanggil pun harus lolos berbagai tes, mulai tes fisik, kebugaran agar namanya untuk masuk dalam daftar wasit. "Sebenarnya awal tahun ini saya sudah persiapkan diri mengikuti kompetisi. Namun, karena ada Corona, pertandingan tidak digelar dan saya pun tidak bekerja," kata Latifah.

Badai pandemi Covid-19 memang menyebabkan hampir semua sektor terpuruk. Banyak karyawan yang menjalani kerja per sif atau work from home. Namun itu tidak belaku bagi profesi wasit. Karena tidak ada pertandingan, mereka pun kehilangan pekerjaan. Pemasukan yang semestinya diterima hilang.

Begitulah yang menimpa Latifah. Namun bukan berarti hidupnya terus berhenti karena pandemi. Latifah tetap menggerakkan roda ekonominya meskipun tak menerima bantuan. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku harus tetap bekerja untuk memenuhi hajat hidupnya. Ia pun rela digaji Rp50.000 per hari sebagai penjaga warung angkringan. Setara dengan Rp1,3 juta per bulan. "Asal dapat pemasukan, dapat bayaran sebesar itu tidak masalah. Sedikit banyak tetap harus disyukuri," kata perempuan bertubuh atletis ini.

Ia menyebut 2019 laksana masa keemasannya. Berbagai kasta kompetisi sepak bola hampir diikuti mulai Porda, Elite Pro, Pertiwi, Piala Suratin, hingga Final Liga 1. Hampir setiap pekan saat itu, ia menjadi wasit pertandingan sepak bola. Penghasilan sebagai penjaga warung angkringan tentu jauh dari pemasukan selama menjadi wasit.

HonorWasit

Latifah mengaku penghasilan menjadi wasit diterima setiap pertandingan kelar. Bayarannya tergantung kasta kompetisi yang diikuti. Semakin tinggi kasta kompetisi yang ia ikuti, semakin tinggi juga bayaran yang dia terima.

Jika pertandingan dilakukan Sabtu-Minggu, untuk dua kali match ia bisa mengantongi pemasukan kotor sebesar Rp3,5 juta. "Kalau home turnamen di sini dulu hanya dapat Rp75.000 saat menjadi wasit profesional bayaran saya bisa 10 kali lipat untuk pertandingan nasional," ujarnya.

Keluarga Latifah sebenarnya keluarga sederhana. Hasil jerih payah menjadi wasit pun ditabung dan ia gunakan sedikit demi sedikit untuk memperbaiki rumahnya. "Dulu waktu latihan di Lapangan Tridadi Sleman saya pakai sepeda pancal, itu pun kalau tidak dipakai ibu. Kalau tidak nebeng [dijemput] teman," katanya.

Menjadi wasit sepak bola, bukan tanpa misi. Ia berupaya memperbaiki image negatif dari sebagian orang yang menilai wasit hanya mencari-cari kesalahan pemain. Belaku curang dan bahkan tidak berlaku adil. "Tidak semua wasit seperti itu. Saya pribadi tetap berupaya profesional. Saya lebih takut dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat," katanya.

Wasit, katanya, selain terikat dengan aturan juga diawasi oleh tim pengawas. Sebagai pengadil dalam sebuah pertandingan, wasit juga tak jarang mendapatkan tekanan psikologis. Baik dari pemain, manajemen hingga suporter tim. Namun demikian, sebagai wasit profesional, katanya tekanan yang muncul pun harus dilalui dengan keyakinan dan aturan yang disematkan.

"Kadang apa yang ada dalam teori tidak sesuai dengan yang dihadapi di lapangan. Saya sudah banyak belajar menangani berbagai tekanan yang di lapangan. Dengan belajar, maka kita bisa lebih dewasa menghadapinya," kata Latifah.