Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 114

Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
14 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Sepakbola Share :

114

Sejenak diam. Demang Martapura tampak berpikir.

Ehh, paman. Engkau bahagia sebagai penggembala?”

Kakek itu tercenung. Mungkin bingung mendapat pertanyaan yang “sulit” ini. Ia memang tidak ditanya tentang nama-nama ikan; nama-nama hewan. Tapi, bahagia itu makanan apa?!

“Ampun gusti. Hamba kurang paham. Hamba tidak memerlukan bahagia.”

Demang Martapura tertawa sambil menengadah, memandang awang-awang di mana sang awan bergerak lucu seperti domba-domba putih. Ada persamaan antara awan putih dengan kakek lugu ini. Tidak memerlukan apa-apa; tidak kekurangan apa-apa. Karena tidak pernah merencana, maka tidak pernah kecewa. Karena tidak membutuhkan, maka tidak kekurangan.

“Ha-ha-ha. Aku senang jawabanmu paman.” Demang Martapura merogoh saku.

“Aku tahu paman tidak memerlukan sesuatu. Namun terimalah hadiah dariku ini. Engkau beli satu dua ekor kerbau untuk lebih meningkatkan kesejahteraan keluargamu,” ujar demang itu sambil memberikan sepotong emas.Waktu itu belum ada sepeda sebagai hadiah, maka yang diberikan rajabrana.

Kakek itu kaget mendapat hadiah dari pengampu Tembayat. Ia menghaturkan terima kasih kepada junjungannya. Demang Martapura menjalankan kudanya dengan raut cerah. Kakek polos itu mengajarkan filosofi kehidupan yang tidak ternilai dan dia sendiri yang memahami. Para pengawal saling pandang tidak mengerti. Lohgawe bergembira; ia senang melihat ayahnya memberi “upeti” kepada rakyatnya.

Mereka berburu di hutan yang masih perawan. Sebagaimana dikhawatirkan Gayatri hutan itu tempat berhimpun binatang liar seperti macan, kijang, kelinci, ayam alas juga ular dengan berbagai variannya. Mulailah mereka menyiapkan busur dan anak panah.

“Jangan ganggu rusa dan kelinci. Lebih menegangkan jika kita berhasil mendapat macan. Lohgawe, engkau jangan jauh-jauh dari paman-paman prajurit.” Demang Martapura sudah acap berburu bersama para pengawalnya di beberapa hutan selain Tambakbaya. Jika mereka bertemu harimau, para prajurit dengan tombak panjang mengurungnya, kemudian demang itu sendiri menghadapi dengan tangan kosong, lalu menangkapnya dengan ajian Brajamusti andalannya.

Jika kebetulan bersua macan yang terlampau gesit, dan sulit dikurung, para prajurit akan menghujani dengan anak panah. Kalau seharian tidak mendapatkan harimau, terpaksa kijang dan binatang buruan lainnya yang menjadi korban. Mereka pulang ke Tembayat dengan rasa bangga memanggul bangkai macan atau pun rusa, rasanya seperti balik dari medan perang.

Sudah paruh hari mereka berburu, namun hasilnya cuma tiga ekor rusa itu pun langsing. Tidak ada harimau, bahkan suara aum sama sekali tak terdengar. Hati sang adipati mulai jengkel. Beda dengan Lohgawe yang baru sekali itu masuk hutan, wajahnya sangat gembira, dan anak itu tentu saja tidak “berhitung” mau dapat berapa ekor kijang, bahkan tidak mendapatkan apapun ia tetap riang. Suasana di alam liar yang dipenuhi pohon-pohon besar itu menggairahkan hatinya. Tiga kali mereka berpapasan ular piton sebesar paha jenis sanca kembang. Dengan tangkas para prajurit berhasil menangkapnya hidup-hidup.

“Jangan bunuh ular itu paman. Kita pelihara di rumah.”