Liga Inggris Terancam Kehilangan Pasar Terbesar

Liga Inggris - www.livewire.ie
05 September 2020 11:47 WIB Herdanang Ahmad Fauzan Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Mulai akhir pekan ini para penggemar Liga Inggris (EPL) di China dipaksa menelan pil pahit. Pada musim kompetisi mendatang mereka hampir pasti gigit jari lantaran tidak akan ada stasiun televisi setempat yang bakal menayangkan kompetisi olahraga paling digemari di dunia tersebut.

Kepastian itu terjadi setelah penyelenggara EPL mengumumkan berakhirnya kesepakatan penayangan pertandingan di China pada Kamis (3/9/2020) petang. Pengumuman itu disampakan Premier League melalui akun Twitter resminya.

“Premier League mengumumkan bahwa hari ini telah membatalkan tayangan di China dan kawasan teritorinya. Kami belum ingin memberikan komentar lebih lanjut,” tulis mereka.

Sontak, hal ini menjadi kabar buruk yang harus ditelan para penggemar Liga Inggris di China. Terlebih musim depan, Liga Inggris dipastikan bakal lebih berwarna lantaran kedatangan sejumlah pemain bintang dari liga lain macam Donny van De Beek, Thiago Silva, dan Timo Werner. 

van de beek

Donny Van de Beek/Twitter MU

Belum lagi apabila isu kepindahan Lionel Messi dari Barcelona ke Manchester United atau bahkan Manchester City terwujud.

Takk heran jika Nigel Lee, sekretaris Manchester United Supporter Club di Hong Kong amat menyayangkan keputusan itu.

“Premier League punya basis penggemar besar di China. Bila akan benar-benar blackout, kesedihan yang dialami publik akan sangat dalam,” kata Lee kepada The Athletic.

Baca Juga : Ini Jadwal Pembuka Liga Inggris 2020/2021: Liverpool Vs Leeds

Kendati belum ada pengumuman duduk perkara yang jelas, New York Times melaporkan bahwa salah satu pemicu keputusan itu adalah negosiasi buntu antara EPL dengan Suning Holdings, perusahaan yang menguasai kepemilikan PPTV, stasiun pemegang hak siar EPL di China.  

Pada Maret 2020, kedua pihak sempat terlibat dalam tensi panas karena Suning tak mampu melunasi pembayaran hak siar tahun pertama senilai US$ 200 juta.

Di satu sisi Suning meminta keringanan pembayaran karena jadwal sempat karut marut akibat pandemi Covid-19. Sedangkan di sisi lain, EPL juga enggan memberikan toleransi lagi lantaran bisnis mereka juga tengah terpukul.

suning
Pengunjung mengunjungi stan pameran Suning Holdings Group selama CES Asia Show di Shanghai, China, pada 11 Juni 2019. /Bloomberg 

Aturan pembatasan sosial yang melarang penonton hadir ke stasiun bikin pemasukan mereka dari beberapa lini ikut terpangkas.

“Setelah rangkaian pertemuan EPL dan PPLive Sports gagal mencapai kesepakatan harga [penyesuaian]. Covid-19 telah memberikan banyak tantangan, terutama terkait negosiasi hak siar,” tulis Suning dalam pernyataannya.

Konflik China-Inggris

Terkait alotnya negosiasi antara EPL dan Suning, New York Times memaparkan salah satu yang jadi pemicu adalah tensi tinggi antara Inggris dan China.

Pada awal Juli 2020, Inggris mengumumkan keputusan memblokir Huawei dari pengembangan jaringan 5G di negaranya. Keputusan itu lantas bikin China geram, apalagi Perdana Menteri Boris Johnson memutuskan hal tersebut hanya sebulan setelah ‘ikut campur’ dalam polemik China-Hongkong.

Boris, sebelumnya menjanjikan bahwa orang-orang Hong Kong akan dibebaskan masuk Inggris bila China mengesahkan Undang-Undang Keamanan.

Tak kurang dari dua pekan setelahnya, China membalas dendam. Salah satunya, adalah dengan keputusan pemerintah memblokir penayangan sisa pertandingan musim 2019/2020 EPL yang harusnya ditayangkan CCTV.

Baca Juga : AS dan Inggris Bahas Rencana Koalisi Lawan China

CCTV adalah stasiun televisi publik milik pemerintah yang punya hak siar menayangkan beberapa laga EPL lewat kerja sama dengan Suning dan PPTV.

“Tindakan CCTV adalah aksi simbolik untuk mengatakan bahwa efek campur tangan asing terhadap Huawei dan Hong Kong bisa menjalar panjang,” ujar pakar pemasaran China Skinny Mark Tanner, seperti diwartakan Bloomberg.

Direktur Kajian Kebijakan China di Nottingham University Jonathan Sullivian punya sudut pandang sedikit berbeda. Kendati tak menafikkan adanya tensi panas antara Inggris-China, menurutnya buntunya negosiasi EPL dan Suning lebih banyak dipicu perang dingin antara sejumlah pemain Liga Inggris dengan China.

“Benar bahwa Inggris dan China sedang punya hubungan panas dan akan ada konsekuensi dari keputusan mengakhiri kerja sama dengan Huawei, tapi sejuah ini belum ada pernyataan dari kedua pihak yang menyiratkan ke arah sana,” kata Sullivian kepada The Athletic.

Salah satu konflik yang dimaksud Sullivian adalah pernyataan bintang Arsenal Mesut Ozil yang sempat menyatakan kekesalan pada China karena kebijakan Negeri Panda terhadap kaum minoritas Uighur.

mesut ozil

Unai Emery dan Mesut Ozil /Sky Sports

“Kaum laki-laki di Uighur dipaksa bekerja keras sementara istri-istri dan keluarga mereka dipaksa hidup menjadi pesuruh orang China,“ tulis Ozil dalam pernyataan yang diunggah lewat akun Twitternya pada 13 Desember 2019.

Pernyataan tersebut sempat membuat China menghapus keberadaan Ozil dalam gim sepakbola Pro Evolution Soccer (PES) versi China. Mereka juga sempat memblokir tayangan pertandingan antara Arsenal melawan Manchester City yang berlangsung 3 hari setelah cuitan Ozil.

Saling Rugi

Terlepas dari adanya berbagai pemicu yang saling berkaitan, keputusan EPL dan Suning mengakhiri kerja sama jelas merugikan kedua pihak.

Bagi Suning, pembatalan tersebut berpotensi bikin mereka kehilangan banyak pemirsa.

Riset yang dirilis Ampere Analysis pada 2019 lalu menyebutkan bahwa EPL merupakan kompetisi olahraga dengan pemirsa paling tinggi di China. Mereka cuma tertinggal dari Liga Basket Amerika (NBA) dan mengungguli Liga Champions Eropa.

“Di China, NBA dan EPL pun telah menjadi dua kompetisi dengan kontrak televisi paling mewah, dan itulah mengapa orang-orang China bahkan lebih tertarik pada dua kompetisi itu ketimbang pertandingan-pertandingan olahraga lokal,” tutur analis senior Ampere Alexios Dimitropoulos seperti diwartakan South China Morning Post.

Di sisi lain, bagi pihak EPL, kerugian finansial yang mereka tidak akan kecil.

Pada 2019 lalu, kesepakatan antara EPL dan Suning bernilai US$ 650 juta untuk kurun 3 musim kompetisi (2019/2020, 2020/2021, dan 2021/2020). Suning baru melakukan pembayaran US$ 213 juta untuk tagihan musim pertama.

Artinya, bakalan ada kehilangan potensi pemasukan sebesar US$ 437 juta yang dialami pihak EPL.

Beban tersebut akan terasa semakin berat menimbang fakta bahwa sebelumnya EPL sudah merugi terlampau banyak karena penundaan jadwal di tengah pandemi Covid-19. Laporan The Athletic menaksir kerugian akibat keputusan tersebut menyentuh 500 juta poundsterling.

Tak cuma akan dialami oleh EPL, dampak pembatalan kontrak juga bakal dirasakan oleh 20 klub penghuni liga. Sebab dalam regulasi EPL disebutkan bahwa sebagian besar uang dari hak siar bakal dibagikan kepada 20 klub secara proporsional berdasarkan peringkat dan jumlah pertandingan yang ditayangkan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia