Kingsley Coman, Kesempurnaan The Bavarians

Kingsley Coman - Instagram @king_coman
25 Agustus 2020 01:27 WIB Chrisna Chaniscara Sepakbola Share :

Harianjogja.com, LISBON—Kingsley Coman adalah produk asli Paris Saint-Germain (PSG). Masuk akademi PSG saat berusia delapan tahun, 2004 silam, Coman kemudian diorbitkan ke tim senior Les Parisiens pada tahun 2013. Namun bakat Coman waktu itu tampaknya tertutupi dengan gelontoran duit investor baru PSG yang mulai mengakuisisi klub sejak 2011.

Layu sebelum berkembang, Coman pun dijual ke Juventus pada 2014 untuk kemudian bergabung ke Bayern Munich. Transfer Coman enam tahun silam agaknya menjadi keputusan yang paling disesali PSG saat ini. Gol semata wayang Coman di Estadio Da Luz, Senin (24/8) dini hari WIB, sudah cukup mengakhiri mimpi skuat triliunan PSG untuk memboyong trofi Liga Champions dalam sejarah klub. Pada menit 59, Sundulan Coman memanfaatkan umpan akurat Joshua Kimmich di dalam kotak penalti gagal dihalau Keylor Navas. “Ini salah satu hari terbaik dalam karier sepak bolaku. Namun, ada kesedihan karena Paris selalu ada dalam hati saya,” tutur Coman dilansir uefa.com, Senin.

PSG dengan trio berbahayanya yakni Neymar, Kylian Mbappe dan Angel Di Maria ternyata tak mampu menerobos ketatnya pertahanan The Bavarians, julukan Bayern. Penampilan heroik Manuel Neuer di bawah mistar gawang dengan sedikitnya tiga penyelamatan krusial turut andil membawa timnya merebut treble winners musim ini. Gelar tersebut juga menjadi trofi Liga Champions keenam Bayern, menyamai torehan Liverpool. Lebih istimewa lagi, Thomas Muller dkk. memetik gelar itu dengan memenangi seluruh laga Liga Champions musim ini, mencetak 43 gol dan hanya kebobolan delapan kali. (selengkapnya lihat grafis). “Anda melihat selama musim dingin seberapa besar tekad yang kami miliki, yang jelas merupakan sesuatu yang Anda inginkan sebagai seorang pelatih,” ujar Pelatih Bayern, Hans-Dieter Flick.

Sementara itu kegagalan di final menyisakan kesedihan mendalam bagi penggawa PSG. Neymar bahkan tak kuasa menahan air mata begitu wasit Daniele Orsato meniup peluit akhir. Striker Timnas Brasil itu pantas menyesal karena beberapa kali gagal mengoptimalkan peluang emas, salah satunya ketika tinggal berhadapan dengan Neuer. Pelatih PSG, Thomas Tuchel, mencoba membesarkan hati pemain andalannya itu. “Dia hebat di turnamen ini, tapi dia tak bisa melakukan segalanya.” Tuchel mengaku sudah berfirasat bahwa gol Coman bakal mengakhiri laga tersebut. “Ada perbedaan satu gol di antara dua tim superkuat ini. Ya, saya kecewa [gagal juara], tapi tidak terlalu jika melihat bagaimana kami bermain beberapa waktu terakhir,” ujar Tuchel.

Sumber : JIBI/Solopos