Sebatang Rokok Pelepas Dahaga Maurizio Sarri

Maurizio Sarri - Instagram @juventus
27 Juli 2020 22:47 WIB Chrisna Chaniscara Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Maurizio Sarri sulit dipisahkan dari sebatang rokok, termasuk ketika timnya Juventus tengah berpesta merayakan scudetto di ruang ganti Allianz Stadium, Senin (27/7/2020) dini hari WIB.

Ketika para pemain asyik bernyanyi dan berpelukan, pelatih 61 tahun itu justru menjepit rokok di mulutnya tanda ingin dinyalakan. Namun kebiasaannya itu urung dilakukan lantaran Juan Cuadrado tiba-tiba menyemprotkan krim ke kepala Sarri. Keinginan Sarri menghisap “rokok kemenangan” kembali tertunda ketika Paulo Dybala menyorongkan sebotol sampanye. Sang pelatih pun menenggaknya diiringi yel-yel juara. 

Mantan pelatih Hellas Verona itu akhirnya bisa menikmati sebatang rokok ketika Wojciech Szczesny menyodorkan korek api. Momen ini direkam ESPN di dalam video berdurasi 14 detik. Sarri pantas bangga dengan gelar tersebut mengingat dia kini menjadi pelatih tertua yang sukses memenangi Serie-A. Rekor sebelumnya dipegang Niels Liedholm yang membawa AS Roma ke tangga juara Serie-A 1982/1983 pada usia 60 tahun.

Itu juga menjadi scudetto pertama Sarri sejak berkarier sebagai pelatih di Negeri Piza medio 1990. Sebelumnya, prestasi terbaik Sarri hanya runner up bersama Napoli musim 2016/2017. “Saya katakan pada mereka [pemain Juventus], jika Anda memenangi [Serie-A] bersama saya yang belum pernah memenangkan apa pun, Anda pasti sangat bagus,” seloroh pelatih yang bisa menghabiskan lima bungkus rokok dalam sehari itu, dilansir Sky Sports Italia, Senin.

Kehadiran Sarri membuat Juve gemar memainkan ball possession, sama seperti saat dia membesut Napoli. Musim ini Juve memiliki rata-rata penguasaan bola 56,3%, hanya kalah dari Napoli (57,2%). Padahal musim sebelumnya atau akhir era Massimiliano Allegri, Juventus hanya tim dengan ball possession terbanyak keempat (54,9%). Koleksi gol Bianconeri juga naik di bawah Sarri dengan 75 gol dari 36 laga atau masih menyisakan dua laga. Jumlah itu lebih baik dibanding 2018/2019 (70 gol dari 38 laga).

Namun filosofi Sarri menimbulkan lubang di lini belakang Nyonya Tua. Dalam lima musim bersama Allegri, meneruskan era Antonio Conte, gawang Bianconeri tidak pernah koyak lebih dari 30 gol di Serie-A. Namun musim ini tim asuhan Sarri sudah jebol 38 kali atau rata-rata kemasukan 1,05 gol setiap partai. “Ini adalah gelar terindah sekaligus yang tersulit. Kami memulai dengan filosofi bermain yang baru di bawah Sarri. Itu tak mudah, kami sering melakukan kesalahan. Setelah itu ada pandemi. Namun kami mendapatkan fokus kembali pada sepak bola dan kami berhasil,” ujar bek Juventus, Leonardo Bonucci.

 

Sumber : JIBI/Solopos