Sekarang, Meludah di Lapangan Langsung Kartu Kuning

Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-Yong memimpin latihan perdana di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Jumat (14/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
29 April 2020 13:22 WIB Newswire Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Pada saat sepak bola hendak bergulir lagi, para pelatih punya tugas baru. Tidak hanya menerapkan taktik atau strategi permainan di lapangan, pelatih juga harus menghentikan kebiasaan para pemainnya meludah saat pertandingan berlangsung. Kemarin, Badan Sepak Bola Dunia (Fédération Internationale de Football Association/FIFA) mengeluarkan aturan soal itu.

Bagi pemain yang melanggar, seperti meludah, wasit akan segera memberi kartu kuning.

Larangan itu ditetapkan dalam rangka mencegah penularan Covid-19 kepada pemain lain. Seperti yang sudah banyak diinformasikan, saliva atau air ludah merupakan media untuk penyebaran berbagai penyakit, termasuk juga virus corona ini. Saliva yang mengandung virus yang berada di rumput selama beberapa jam bisa menjadi media penularan.

Tidak membuang ludah merupakan hal yang sulit dilakukan. Bagi pemain sepak bola, meludah telah menjadi kebiasaan.

Meludah ada sebabnya. Dalam keadaan kepanasan, membuang ludah di mulut bisa mengurangi rasa kering di tenggorok.

Dalam sejarah sepak bola modern, ludah juga pernah menjadi bagian cerita seru. Pada Piala Dunia 1990, dua pemain, Frank Rijkaard dan Rudy Voller, saling meludah di lapangan.

Tak disangkal lagi, meludah menjadi bagian tak terpisahkan dari permainan di lapangan hijau.

Hal itu juga yang disadari oleh Anggota Komite Kesehatan FIFA Michel D'Hooghe. “Meludah seperti sudah menjadi kebiasaan dalam olahraga sepak bola. Padahal itu sangat tidak sehat,” katanya.

Menurutnya, para pemain sudah harus bisa mengubah kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah menjadi masalah.

D'Hooghe menegaskan bahwa saat sepak bola akan mulai bergerak lagi, sudah saatnya semua pihak berupaya maksimal untuk mencegah kebiasaan buruk itu.

“Kebiasaan itu tidak sehat dan menjadi jalan yang baik untuk penularan wabah. Itu sebabnya kita harus berhati-hati pada saat memulai kembali. Saya tidak pesimistis, tapi lebih agak ragu-ragu,” kata D'Hooghe.

Seruan D'Hooghe, yang berasal dari Belgia itu, disambut baik oleh ahli virus dari Universitas Cambridge, Ian Brierley.

“Ketika seseorang terinfeksi meski tak memperlihatkan gejala, virus yang ada di tenggorok akan menyebar dengan cara dia meludah,” katanya.

Untuk itu, selain mengubah kebiasaan di lapangan, Brierley menyarankan agar para pemain mengurangi hal-hal yang bisa menjadi sarana penularan. Salah satunya saat mereka merayakan gol.

“Para pemain harus mulai memikirkan cara mereka dalam meluapkan emosi saat mencetak gol. Mereka tidak lagi harus bersentuhan,” kata Brierley.

Sumber : Bisnis Indonesia