BCS Ancam Kosongkan Tribun, Jika Alfonso, Pelatih Kiper Hingga Komisaris PT PSS Tidak Mundur

Aksi Brigata Curva Sud. - Harian Jogja/Jumali
17 Januari 2020 06:57 WIB Jumali Sepakbola Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Pergantian pelatih dari Seto Nurdiyantoro ke Eduardo Perez yang dilakukan oleh manajemen PSS jelang Liga 1 2020 akhirnya ditanggapi serius oleh kelompok suporter PSS, Brigata Curva Sud (BCS).

Melalui laman resmi mereka, Jumat (17/1/2020), BCS mengancam akan memboikot semua pertandingan PSS Sleman, jika delapan tuntutan dan enam orang yang duduk di struktur manajemen, pemain, dan pelatih PSS tidak meninggalkan posisinya.

Adapun delapan tuntutan BCS tersebut adalah program pembinaan dan akademi usia muda PSS, mes untuk pemain, lapangan untuk berlatih, pembenahan di tubuh marketing dan bussines development, pemaksimalan media klub sebagai pusat informasi dan publikasi. Selain itu, mereka juga menuntut adanya penghapusan peran dan posisi ganda. BCS juga menyorot mengenai penyelenggaraan pertandingan yang dinilai belum profesional, dan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dalam perusahaan.

Di sisi lain, BCS juga menyoroti kegagalan dari PT Putra Sleman Sembada dalam merangkul pihak-pihak yang berkompeten dan berprestasi untuk PSS.

“Sekarang PT PSS berisikan orang yang latar belakang prestasi dan peran tidak jelas,” tulis laman tersebut.

BCS juga menyebut sederet nama yang dinilai cakap dan mampu membawa prestasi bagi PSS, dan keberadaan mereka justru dihilangkan.

“Bapak Sismantara, Manajer PSS musim 2018, membawa PSS Juara Liga 2 2018. Bapak Dewa, asisten manajer PSS musim 2018, membawa PSS Juara Liga 2 2018. Ibu Retno istri almarhum Bapak Supardji, pemiliki saham minoritas PT PSS. Bapak Erry Febrianto (Mas Ableh), ofisial tim PSS 2018, oprasional tim membawa PSS Juara Liga 2 2018. Bapak Sigit, fisioterapi PSS musim 2017 – 2018, membawa PSS Juara Liga 2 2018. Ibu Viola, CEO PSS April - Agustus 2019, menjalin kerja sama dengan sponsor, bonus pemain dan sistem kinerja. Coach Seto, Pelatih PSS 2016 - 2019, membawa PSS Juara Liga 2 2018 dan finis peringkat 8 Liga 1 2019,” sebut laman tersebut.

Sementara enam orang yang duduk di susunan komisaris hingga pemain dinilai BCS tidak memiliki kompetensi serta perannya membawa PSS lebih baik. Keenam orang tersebut adalah Komisaris PT PSS Soekeno yang dinilai gagal memenuhi delapan tuntutan dan mengontrak pemain tanpa rekomendasi pelatih. CEO PT PSS Fatih Chabanto yang dinilai gagal memerankan posisinya sebagai CEO. Teguh Wahono selaku GM PT PSS yang dinilai gagal menjalankan perannya, Yohanes Sugianto yang dinilai memiliki peran ganda baik secara PT dan Manajemen.

“Coach Bejo [Listiyanto Raharjo, pelatih kiper PSS 2018 – 2019], gagal menujuklan sikap profesional dalam peran dan tugasnya, merujuk tidak adanya evaluasi regular pelatih kiper. Belum memiliki lisensi sesuai regulasi PT LIB, dan Alfonso de La Cruz, pemain PSS yang gagal menunjukkan sikap profesional seorang pemain. Terutama mengenai kedisiplinan dalam berlatih,” tulis laman tersebut.

“Oleh karena itu berdasarkan pertimbangan dan alasan kami di atas. Kami sepakat tidak ingin lagi PS Sleman berjalan mundur dan diisi oleh SDM yang tidak kompeten. Serta beberapa pihak yang tidak berkompeten yang tidak kami ketahui dimohon untuk meninggalkan peran dan jabatannya,” lanjutnya.

“Tuntutan kami jelas, delapan tuntutan dan deretan nama yang tidak berprestasi. Sekarang tinggal pilih, keluarkan semua yang tidak berkompeten atau kami yang keluar dari tribune selamanya/boikot semua pertandingan PSS Sleman?,” tulis BCS.