Poster Antirasisme Liga Italia Malah Dianggap Langgengkan Stigma

Poster kampanye antirasisme di Serie A Liga Italia - Reuters/Simone Fugazzotto
18 Desember 2019 03:27 WIB Chrisna Chaniscara Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tiga lembar poster bergambar monyet dengan corak warna-warni di wajah yang dibikin seniman Italia, Simone Fugazzotto menjadi salah satu konten kampanye antirasialisme yang baru saja diluncurkan Serie A Liga Italia.

Poster itu diklaim mewakili nilai-nilai integrasi, multikulturalisme dan persaudaraan yang terus dipupuk di kompetisi sepak bola Italia. Kampanye menolak rasialisme memang menjadi salah satu fokus utama Serie A menyusul sejumlah kasus rasialisme yang tak kunjung hilang di negara tersebut.

Terakhir media Italia, Corriere dello Sport, mendapat kritik tajam setelah menulis headline berjudul “Black Friday”. Berita itu menerangkan pertemuan pertama di Serie A antara eks Manchester United yakni Romelu Lukaku (Inter Milan) dan Chris Smalling (AS Roma).

Jangankan mendapat simpati, upaya Serie A menggandeng seniman untuk memerangi rasialisme justru menjadi masalah baru. Otoritas dianggap tidak sensitif dengan memilih monyet sebagai objek utama dalam kampanye. Hewan tersebut memang kerap diasosiasikan dengan pelecehan ras. “AS Roma sangat terkejut melihat apa yang tampak sebagai kampanye antirasis dari Serie A yang menampilkan monyet-monyet yang dilukis di media sosial hari ini. Kami tidak percaya itu adalah cara yang tepat,” tulis pernyataan AS Roma dalam akun Twitter mereka, Selasa (17/12/2019) WIB.

Kelompok antirasialisme, Fare, menganggap poster kampanye tersebut adalah guyonan yang tak lucu. “Sekali lagi, sepak bola Italia membuat dunia tak bisa bicara. Di sebuah negara di mana otoritasnya gagal mengatasi rasisme dari pekan ke pekan, Seri-A telah meluncurkan kampanye yang tampak seperti gurauan sakit,” cuit Fare dalam Twitter.

Manajer Direktur Liga Seri-A, Luigi De Servio, sebelumnya mempresentasikan rencana antirasialisme yang mencakup penandatanganan piagam oleh pemain yang mewakili 20 klub Serie A. Di acara itu liga juga menampilkan karya kontroversial Fugazzotto. Seri-A mengklaim karya itu bertujuan mempertahankan nilai-nilai integrasi, multikulturalisme dan persaudaraan. Namun, ketika kritik bermunculan, liga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan “seni sejati adalah provokasi.”

Fugazzotto hampir selalu melukis monyet dalam berbagai gaya artistik di karyanya. Monyet yang digambar biasanya mengenakan pakaian manusia dan mewakili berbagai budaya dan periode sejarah. “Saya hanya melukis monyet sebagai metafora bagi manusia,” jelas Fugazzo. “Kami mengembalikan konsep itu pada kaum rasis, karena kita pada mulanya adalah kera. Jadi, saya melukis monyet Barat, monyet Asia, dan monyet hitam,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Solopos