Anaknya Diduga Diperkosa 6 Orang Hingga Hamil, Ini Keluh Kesah Ibu Miskin di Wonogiri

Ilustrasi - Antara
10 November 2019 21:07 WIB Cahyadi Kurniawan Sepakbola Share :

Harianjogja.com, WONOGIRI—Rumah itu memanjang ke belakang dengan ujung sebuah toilet kecil tak berpintu. Sebagian dindingnya tembok dan kaca. Sisanya seng dengan pintu tak berengsel.

Rumah di Nguntoronadi, Wonogiri, Jawa Tengah, itu adalah tempat tinggal remaja putri 16 tahun yang diduga menjadi korban perkosaan oleh enam orang. Di rumah itu, dia tinggal bersama ibunya yang berumur 45 tahun dan adiknya yang berusia delapan tahun.

“Ceritanya panjang banget,” kata ibu si korban pemerkosaan.

Setiap menjawab pertanyaan, dua selalu mengawali dengan “tidak tahu” meski ia lantas menceritakan apa yang ia tahu.

“Dia sekarang ada di Pacitan. Berangkatnya kemarin sore. Ya sudah, semuanya sudah kelar. Tinggal itu doang. Apa itu? Pengadilan?” ujar dia, Jumat (8/11/2019).

Anaknya menjadi korban pemerkosaan oleh enam orang. Kasus itu berujung mediasi dengan kesepakatan setiap pelaku memberi Rp7,5 juta untuk biaya perawatan yang kini hamil enam bulan.

Menurut si ibu, anaknya selama ini dikenal sebagai gadis polos dan pemalu. Ia sehari-hari ikut neneknya di luar kota. Ia pulang ke rumahnya di Wonogiri tak tentu, bisa dua pekan sekali atau sebulan sekali.

Si ibu tak punya penghasilan pasti untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ia kadang bekerja di toko dekat rumahnya meski tak saban hari.

Jika butuh uang, ia akan menjual ayam peliharaannya yang hanya beberapa ekor. Sumber pendapatan lain yang ia andalkan adalah bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH). Dia tidak paham soal hukum terkait hal yang menimpa anaknya.

Dia membantah anaknya yang mengajak berhubungan seksual sebagaimana tudingan orang-orang kepada anaknya selama ini. “Iya, menerima imbalan setelah berhubungan [seksual]. Enggak tahu berapa nominalnya. Namanya saja anak kecil, dikasih ini itu kan mau. Keadaan orang tua yang enggak punya jadi bisa saja.”

Ia dan anaknya jarang berkomunikasi. Percakapan keduanya hanya terjadi dalam tanya-jawab sederhana. Saat pulang ke rumah, ia melihat perut anaknya membesar.

Seusai mandi, anaknya selalu berusaha menutupi perutnya pakai jaket. Saat ditegur soal perutnya, anaknya hanya diam. Dia tidak mau keluar rumah karena malu. Ia lalu memilih tinggal di Pacitan untuk menenangkan diri.

“Sudah diperiksa dokter. Dulu [janinnya] kekurangan gizi. Tapi sekarang sudah normal lagi. Saya hanya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya,” ujar si menutup perbincangan pagi itu.

Sumber : JIBI/Solopos