PSIS Vs PSS: Seto Belajar Banyak dari Kekalahan di Putaran Pertama

Pertandingan PSS Sleman melawan PSIS Semarang di putaran pertama. - Harian Jogja/Jumali
01 November 2019 14:17 WIB Jumali & Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantoro mengaku telah banyak belajar saat timnya dikalahkan PSIS Semarang 1-3 pada putaran pertama Liga 1 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, 17 Juli lalu.

PSS akan menghadapi PSIS di tempat yang sama pada laga pekan ke-26, Sabtu (2/11/2019).

“Kami belajar banyak di pertemuan pertama tersebut. Selain masalah motivasi, masalah compact defense [pertahanan yang rapat], kami juga mudah kemasukan tiga gol. Sementara peluang yang kami miliki masih minim,” kata Seto, Jumat (1/11/2019).

Macetnya kreativitas PSS Sleman menjadi penyebab utama kekalahan 1-3 dari PSIS Semarang. Seto menyebut kegagalan menguasai lini tengah dan buruknya kebugaran menjadi biang penampilan buruk timnya.

PSS dan PSIS sama-sama menurunkan formasi 4-3-3. Bedanya lini tengah Mahesa Jenar lebih bertenaga. Duo gelandang Patrick Mota dan Arthir Bonai secara sempurna menjalankan peran sebagai pemutus aliran serangan sekaligus penyokong Septian David Maulana saat menyerang.

Mota dan Bonai juga sukses mematikan pergerakan Brian Ferreira. Brian, gelandang Argentina berpaspor Irak, adalah sumber kreativitas utama Super Elang Jawa. Hingga pekan ketujuh atau sebelum melawan PSIS, di tiap pertandingan gelandang serang Argentina itu mencatat rata-rata 2,5 tembakan, 2,1 dribel sukses, dan 3,2 operan kunci. Tak ada pemain PSS yang membuat operan kunci lebih banyak ketimbang Brian.

Ketika menghadapi PSIS, Brian sepertinya akan meneruskan performa apik. Di menit keempat dia sudah mencetak gol setelah meneruskan umpan operan ke dalam dari bek kanan Bagus Nirwanto. Namun, setelah gol tersebut, Brian tenggelam bersama nyaris semua pemain PSS lain.

Brian terkunci. Pergerakannya nyaris selalu mandek karena dilanggar Mota maupun Bonai. Sepanjang laga, Brian hanya sekali sukses mendribel bola dan dia dilanggar tujuh kali. Dia juga Cuma membuat satu operan kunci, sangat jauh dibandingkan dengan rata-rata 3,2 operan kunci yang dia catat di tujuh pertandingan sebelumnya.

Saat Brian macet, Ricky Kambuaya yang dipasang menggantikan Dave Mustaine tak mampu menyokongnya. Dia memang mampu bertahan dengan baik dengan torehan tiga tekel, dua intersep, dan dua pelanggaran. Namun, atribut Kambuaya dalam menyerang sangat minim. Gelandang 23 tahun itu hanya melepas tujuh operan di sepertiga akhir lapangan, dan tak sampai separuh yang akurat. Satu-satunya pemain PSS yang tampil lumayan justru gelandang bertahan Batata. Pemain yang lama cedera dan baru mencatat debut kala PSS mengalahkan Kalteng Putra 2-0 tersebut memenangi tiga duel, mencatat masing-masing satu blok dan satu pelanggaran, serta membuat dua tekel. Namun, Batata adalah gelandang bertahan sehingga dia tak bisa diharapkan membantu Brian yang mati kutu.

“Tidak ada kreativitas di lini tengah. Ini yang menjadi kekurangan kami. Karena kalah di lini tengah, kami main umpan jauh dan bola-bola atas, tetapi kami juga selalu kalah. Begitu juga dengan duel satu lawan satu. Ini jadi pembelajaran saya dan pemain,” ucap Seto.

Duet bek tengah PSIS Muhammad Rio Saputro dan Wallace Costa tampil sangat apik di bolo-bola atas. Keduanya terlibat dalam sembilan duel udara dan memenangi tujuh duel. Akibatnya, ketika lini tengah kalah dominan, lini depan PSS juga kepayahan. Yevhen Bokhasvilli hanya dua kali punya kesempatan melepas tembakan ke gawang lawan dan dia selalu kalah duel dalam empat kesempatan.

Lini belakang PSS pun kerepotan. Bek kiri Derry Rachman yang tampil apik saat menghadapi Kalteng Putra dan Persebaya tidak bisa menyokong Haris Tuharea. Derry hanya tiga kali membawa bola ke sepertiga akhir lapangan. Dia juga gagal menutup pergerakan Fredyan Wahyu yang sukses mengirim asis untuk gol penyama kedudukan PSS yang diciptakan Silvio Escobar di menit ke-32.

Bagus Nirwanto yang cukup konsisten dalam menyerang dan bertahan kurang piawai dalam mengoper. Dia mencoba melepas dua umpan silang dan dua-duanya gagal menemui sasaran. Duet bek tengah Asyraq Gufron dan Purwaka Yudi sebenarnya tampil lumayan, setidaknya hingga menit ke-32. Keduanya mampu membuat dua tekel, tiga blok, dan dua intersep untuk meredam serangan PSIS.

Sayangnya, mereka lemah dalam mengantisipasi umpan silang. Kelemahan ini terbukti sangat krusial. Asyraq gagal mengintersep umpan silang Ferdyan Wahyu dan menutup pergerakan Silvio Escobar di menit ke-32 sehingga PSS kebobolan. Di menit ke-46, Asyraq, Purwaka Yudi, dan Derry Rachman malah gagal membaca posisi Bayu Nugroho yang dengan leluasa melepas tendangan voli menyambut bola umpan silang Safrudin Tahar.

“Di briefing juga saya sudah bilang counter attack dari PSIS sangat cepat. Tetapi karena faktor fisik akhirnya sulit diantisipasi. Ini jadi bahan pembelajaran kami,” ucap Seto kala itu.

Setelah pertandingan tersebut, kedua tim berjalan ke arah yang berbeda. PSS mampu bermain konsisten dan kini berada di peringkat kelima klasemen sementara dengan nilai 39. Sementara, PSIS terjerembab di papan bawah di anak tangga ke-13 dengan nilai 25. Laskar Mahesa Jenar saat ini ditangani Bambang Nurdiansyah yang menggantikan Jafri Sastra.

“Pertandingan besok pasti berat. Banyak perubahan di PSIS. Baik komposisi pemain maupun pelatih. Mereka juga punya rekor cukup baik saat main away. Untuk itu pertandingan besok bukan pertandingan mudah buat kami, kami akan berusaha mencuri poin, entah satu entah tiga,” ucap Seto.