Ini Rekam Jejak Liestiadi sebelum Menangani PSIM

Erwan Hendarwanto (kiri) dan Liestiadi. - Harian Jogja/Jumali
10 Oktober 2019 19:07 WIB Jumali Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelatih baru PSIM, Liestiadi, punya rekam jejak yang kurang baik di musim ini.

Liestiadi sudah berpengalaman sebagai juru taktik sejak hampir dua dekade. Pria kelahiran Medan, 14 Oktober 1968 ini mengawali karier dengan melatih klub lokal Medan, kemudian menjadi Direktur Teknik PSMS Medan sebelum kemudian menjadi pelatih tim senior. Dia lantas menjadi asisten pelatih di Arema hingga Timnas Indonesia.

Liestiadi pernah membesut Persiba Balikpapan dan Persipura. Di Liga 2 2019, dia melatih Blitar Bandung United hingga 15 pertandingan. Racikannya tak bisa membuat Bandung United bersaing. Klub hasil merger tersebut berada di zona degradasi. Liestiadi kemudian mundur dan digantikan Budiman. Bandung United tak membaik dan akhirnya terdegradasi ke Liga 3 bersama PSGC.

Liestiadi mengaku sudah mengenal baik skuat Laskar Mataram. Menurut dia, tim yang dia tangani punya materi yang sangat baik untuk menyelesaikan fase penyisihan Grup Timur dengan hasil positif.

“Saya sudah lihat laga melawan Martapura FC. Saya amati pemain yang main pernah bersama saya semua. Terdekat saya fokus lawan Persatu, baru setelah itu persiapan lawan Persis Solo,” kata Liestiadi saat diperkenalkan kepada awak media, Kamis (10/10/2019).

Liestiadi menanggapi positif langkah manajemen menggandeng Erwan Hendarwanto sebagai asisten pelatih untuk mendampingi dirinya. Sebab, Erwan sangat paham PSIM.

“Dari pengalaman, beliau bisa membantu. Saya rasa ini kekuatan tersembunyi untuk menghadapi laga terdekat,” ujar dia.

“Namun, ini adalah sepak bola, pelatih sudah kerja keras, tetapi yang eksekusi di lapangan adalah pemain.”

Liestiadi ditunjuk untuk menggantikan Aji Santoso yang mundur meski putaran grup masih menyisakan dua laga. Aji meninggalkan catatan buruk. Dia direkrut untuk menggantikan Vladimir Vujovic yang mundur saat baru menangani tim di empat laga Liga 2 karena tekanan dari suporter. Saat Vlado mundur, PSIM berada di papan tengah klasemen sementara dengan enam poin dari empat laga, hasil dari dua kemenangan dan dua kekalahan.

Aji kemudian datang dan mulai memimpin tim saat melawat ke kandang Persatu. Kala itu, PSIM meraup tiga poin berkat kemenangan 2-0. Aji membuat beberapa perubahan minor, seperti mengembalikan Raphael Maitimo menjadi gelandang. Selebihnya, Aji tak banyak mengubah fondasi permainan yang disusun Vlado. Aji terlihat sangat menjanjikan karena membawa PSIM menang empat kali dan kalah dua kali dalam enam pertandingan. Laskar Mataram mengakhiri paruh pertama Liga 2 dengan berada di peringkat kedua di bawah Persis Solo.

Lantas, Aji merombak skuat dengan melepas sebelas pemain-pemain racikan Vlado dan mendatangkan sembilan pemain baru sesuai keinginannya, kebanyakan dari mereka adalah pemain pelapis di klub-klub Liga 1.

Namun, langkah ini rupanya keliru besar. PSIM ambrol, kalah enam kali dan menang hanya dua kali dalam delapan pertandingan di paruh kedua kompetisi. Akibatnya, Laskar Mataram yang awalnya berada di papan atas dan punya harapan besar lolos ke delapan besar, juga promosi ke Liga 1, terperosok di papan tengah. Laskar Mataram terancam gagal lolos ke delapan besar.

PSIM mengoleksi 24 poin, tertinggal empat poin dari Martapura FC yang menjadi penghuni peringkat keempat.

Liestiadi masih punya peluang untuk membawa PSIM ke delapan besar asalkan mengalahkan Persatu serta Persis Solo dan Martapura FC serta Persewar tidak menang di laga tersisa mereka.