Mengenal Erling Braut Haaland: Anak Musuh Roy Keane yang Membuat Sensasi di Liga Champions

Erling Braut Haaland - Reuters/Leonhard Foeger
18 September 2019 20:22 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJAMatchday pertama Liga Champions 2019-2020 langsung melahirkan rekor. Pemuda Norwegia berusia 19 tahun, Erling Braut Haaland, menjadi remaja pertama dalam 15 tahun yang mampu mencetak hattrick di Liga Champions.

Sebagaimana dikutip dari Opta, Haaland mengikuti jejak Wayne Rooney, yang melesakkan hattrick untuk Manchester United saat berumur 18 tahun 340 hari pada September 2004 ke gawang Fenerbahce. Halland adalah pemain termuda ketiga yang membuat trigol di Liga Champions, di belakang Rooney, dan Raul yang membuat hattrick untuk Real Madrid ke gawang Ferencvaros saat berusia 18 tahun 113 hari pada Oktober 1995. Hanya ada empat pemain di bawah usia 20 yang bisa menjebol gawang lawan tiga kali dalam satu laga di Liga Champions.

Remaja lain adalah Yakubu Ayegbini yang mencetak hattrick untuk Maccabi Haifa ke gawang Olympiacos pada September 2002.

Haaland membuat hattrick untuk Red Bull Salzburg ke gawang Genk pada pertandingan Grup E di Red Bull Arena, Rabu (18/9/2019) dini hari WIB. Di laga tersebut, Salzburg, klub Austria, menang 6-2. Hwang Hee-Chan, Dominik Szoboszlai, dan Andreas Ulmer, melengkapi tiga gol Haaland. Sementara dua gol balasan Genk dibuat Jhon Lucumi dan Mbwana Samatta.

Haaland punya bakat besar untuk menjadi bintang di kemudian hari. Dia sangat tajam. 30 Mei lalu, Haaland memecahkan rekor di Piala Dunia U-20 dengan mencetak sembilan gol saat Norwegia mencukur Honduras 12-0. Potensinya bahkan lebih gede ketimbang Martin Odegaard, yang pernah dilabeli sebagai bocah ajaib Norwegia sebelum layu di Real Madrid dan kini mereparasi karier di Real Sociedad.

Haaland bergabung dengan Salzburg awal tahun ini. Dia dipinang dari Molde, klub tempatnya mengemas 14 gol dalam 39 pertandingan. Haaland butuh adaptasi di Bundesliga Austria, tetapi singkat saja. Pada paruh kedua 2018-2019, dia hanya tampil dua kali dan mencetak satu gol. Kemudian, musim ini dia meledak. Haaland sebelas kali menjebol gawang lawan dalam tujuh pertandingan. Di semua kompetisi, dia mencetak 17 gol dan sudah empat kali membuat hattrick: dua di Bundesliga Austria, satu di Piala Austria, dan satu di Liga Champions.

Siapa sebenarnya Haaland?

Sebelum Erling Braut mencuri perhatian di Liga Champions, nama Haaland sudah lumayan kondang lantaran kebrutalan. Erling Braut punya ayah bernama Alf Inge Haaland, musuh bebuyutan legenda Manchester United dan Republik Irlandia: Roy Keane. Alf Inge adalah gelandang yang juga piawai menjadi bek dan mencatat 34 caps bersama Timnas Norwegia. Setelah merumput di kampung halaman bersama Bryne FK, dia hijrah ke Inggris untuk bermain di Nottingham Forrest (1993-1997), Leeds United (1997-2000), dan Manchester City (2000-2003).

Di City, kariernya hancur karena Roy Keane. Perseteruan Alf Inge dan Keane dimulai pada 1997 saat United berjumpa Leeds. Keane dengan keras menekel Alf Inge dan keduanya tersungkur. Alf Inge meradang dan langsung berdiri, meminta Keane tak pura-pura cedera. Keane ternyata tak berbohong karena dia cedera lutut parah dan harus absen berpekan-pekan.

Keane kemudian membalas dendam empat tahun kemudian, saat Alf inge sudah hijrah ke City. Dalam Derby Manchester, yang kala itu belum terlalu prestisius karena City bukan tim kaya, Keane secara sengaja menggasak lutut Alf Inge. Keane gantian memaki dan meminta Alf Inge tak bersandiwara. Nasib berbalik lebih kejam untuk Alf Inge. Dia cedera betulan. Lututnya dioperasi dan dia tak pernah sembuh seperti sedia kala. Alf Inge kemudian gantung sepatu. Namun, legasinya kemungkinan akan sangat awet.

Erling Braut lahir di Leeds, saat ayahnya memasuki musim terakhir di Leeds United dan menjadi bagian dari kesuksesan klub tersebut menembus semifinal Liga Champions, pada 21 Juli 2000.

Keluarga Haaland pulang kampung ke Norwegia dua tahun setelah karier Alf Inge dihabisi Roy Keane. Erling Braut kemudian tumbuh di negara nenek moyangnya dan menapaktilasi perjalanan bapaknya.

Seperti Alf Inge, Erling Braut juga belajar sepak bola di Bryne FK, klub di kota dengan populasi 12.000 orang yang memiliki stadion berkapasitas 8.200 orang dengan hanya 2.107 tempat duduk.

Erling Braut membuat debut untuk tim senior Bryne di usia 15 tahun dan semusim kemudian langsung dibeli klub elite Norwegia, Molde, yang saat itu ditangani Ole Gunnar Solskjaer. Di usia 17 tahun, Erling Braut membuat sensasi dengan mencetak empat gol dalam waktu 21 menit ketika Molde mengalahkan Brann, 4-0. Saat itu, Brann adalah pemuncak klasemen Liga Norwegia dan belum pernah tersentuh kekalahan.

Solskjaer menyamakan anak asuhnya punya kemampuan mirip Romelu Lukaku: dibekali tubuh bongsor dan teknik olah bola yang prima serta pandai mencium peluang di kotak penalti. Solskjaer mengatakan Molde menolak tawaran dari beberapa klub elite Belanda yang menginginkan bakat Erling Braut.

“Dia akan menjadi striker top. Dia mengingatkan saya akan Romelu Lukaku,” kata Solskjaer seperti dikutip Manchester Evening News, 2 Juli 2018.

Hingga akhir tahun, Erling Braut mengemas 12 gol dalam 25 laga. Sebulan setelah quatrick ke gawang Brann, Erling Braut menandatangani kontrak dengan Salzburg dengan durasi lima musim yang dimulai 1 Januari 2019. Kariernya mekar di Austria dan dia langsung menjadi mesin gol yang bisa diandalkan.

“Haaland akan menjadi striker kelas dunia. Dia kuat seperti beruang dan cepat bagai kuda. Dia adalah mesin gol. Pilihannya untuk bermain di Slazburg sangat bagus karena dia akan menjadi pemain penting di klub tersebut. Sangat penting bagi dia untuk sering bermain di usia belia,” kata Oyvind Godo, jurnalis media Norwegia, Dagbladet, kepada ESPN.

Bulan lalu, Haaland mendapat panggilan dari pelatih Norwegia, Lars Lagerback, untuk memperkuat Timnas Viking di dua laga Kualifikasi Euro 2020 melawan  Malta dan Swedia. Erling Braut menjadi starter di pertandingan melawan Malta dan bermain 66 menit sebelum diganti Tarik Elyounoussi. Saat menghadapi Swedia, Erling Braut masuk di menit ke-76 menggantikan Stefan Johansen.

Erling Braut Haaland punya klub favorit yang dia inginkan untuk bermain di sana suatu saat. Klub tersebut pernah mempekerjakan ayahnya dan terdegradasi dari Liga Premier Inggris saat usia Erling Braut Haaland masih dua tahun.

“Saya bermimpi bisa bermain di Leeds United dan meraih trofi bersamanya.”