Suporter Penganiaya Manajer Umum PSS Sleman Junior Sempat Teriak Kurang Ajar

Logo PSS Sleman. - Ist
23 Juni 2019 00:17 WIB Jumali Sepakbola Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Manajer Umum PSS Sleman Junior, Johannes Sugianto menceritakan detail kronologi penganiayaan yang dilakukan suporter terhadap dirinya.

Manajer Umum PSS Sleman Junior, Johannes Sugianto, dianiaya sejumlah suporter pada Jumat (21/6/2019), di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Alih-alih menanyakan hasil penjualan tiket pertandingan yang ditangani oleh kelompok suporter PSS Brigata Curva Sud (BCS), saat PSS Sleman menjamu Arema FC di laga pembukaan Liga 1 2019, Pak Jo, panggilan akrab Johannes Sugianto justru dianiaya oknum suporter.

Padahal, tujuan Pak Jo menanyakan hasil penjualan tiket tersebut sudah berdasarkan koordinasi dan komunikasi dengan manajemen. Karena hingga Jumat, manajemen PSS belum menerima laporan hasil dari penjualan tiket yang ditangani BCS. Insiden pemukulan terjadi di dalam Stadion Maguwoharjo seusai pertandingan PSS Sleman melawan Bhayangkara FC yang berakhir imbang 1-1.

Saat itu Pak Jo, tengah berbicara dengan pengurus PSS lainnya di pinggir lapangan di dekat para pemain dari kedua tim biasa berdiri, sebelum memasuki lapangan.

Tiba-tiba sekitar empat atau lima orang oknum suporter yang tidak menggunakan tanda pengenal mendatanginya. Salah seorang di antara mereka kemudian memukul Johannes hingga korban terjatuh.

“Setelah memukul pelaku berteriak, kurang ajar, kenapa nanya-nanya uang BCS lewat asisten manajer [PSS] U-16. Saya tidak takut,” kata Pak Jo menirukan pernyataan suporter tersebut, Sabtu (22/6/2019).

Meski dipukul pada bagian pinggang, Johannes masih bersabar. Saat hendak berbicara, tiba-tiba dari sisi kanan ada oknum suporter lainnya yang kembali memukulnya di bagian telinga. Insiden itu berlangsung cepat dan kemudian dilerai.

Johannes kemudian melaporkan penganiayaan itu ke Polda DIY. Dia juga sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Meski diminta untuk dirawat lebih lanjut di rumah sakit, namun Johannes memilih untuk pulang malam itu juga.

Perihal uang BCS, Johannes menjelaskan bila dirinya diminta bantuan oleh manajemen untuk menanyakan hasil penjualan tiket pertandingan saat PSS menjamu Arema FC di laga pembukaan Liga 1. Sebab, manajemen belum menerima laporan hasil dari penjualan tiket yang ditangani BCS.

"Berhubung saya dekat dengan beberapa teman di BCS, salah satunya asisten manajer tim U-16, saya pun meminta tolong melalui dia untuk menanyakannya. Mereka yang mengelola pun bisa menjelaskannya kenapa belum masuk laporannya," kata dia.

"Yang saya heran kenapa mereka [pelaku penganiayaan] bisa bebas masuk. Padahal, petugas yang menjaga pintu sangat ketat. Wartawan yang punya ID card saja tidak boleh masuk," lanjutnya.

Menanggapi kejadian yang menimpa Johannes, CEO PT Putra Sleman Sembada, Viola Kurniawati mengaku menyesal dan kecewa. Dia juga menyerahkan kasus ini kepada pihak yang berwajib.

"Insiden sungguh disesalkan. Kami mendukung bila kasus ini diserahkan kepada pihak yang berwajib. Ini harus diproses secara hukum. Saya juga harus melindungi rekan-rekan yang bekerja di klub ini," tegasnya.