Bali United Melantai di Bursa: Bagaimana Nasib Klub Sepak Bola Eropa di Pasar Saham?

CEO PT Bali Bintang Sejahtera Tbk Yabes Tanuri (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi (kiri), seusai pencatatan perdana saham perseroan, di Galeri BEI, Jakarta, Senin (17/6/2019). - JIBI/Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
17 Juni 2019 19:02 WIB Ahmad Rifai Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Harga saham Bali United langsung melejit begitu resmi melantai di Bursa Efek Indonesia, Senin (17/6/2019). Bali United bisa berkaca ke beberapa klub Eropa yang sudah lebih dahulu masuk bursa saham. Performa di lapangan dan kebijakan transfer sangat penting untuk menggenjot keuntungan.

Sejumlah pelaku pasar cukup antusias menyambut hadirnya emiten berkode BOLA, apalagi Bali United adalah  klub sepak bola pertama di Asia Tenggara yang melantai di bursa. Bali United mampu menghimpun dana segar Rp350 miliar dari aksi penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Perseroan melepas 33,33% sahamnya dengan harga penawaran Rp175 per saham.

Saat dibuka pertama kali di BEI, harga saham BOLA langsung melejit 69,14% menjadi Rp296 per saham.  Bali United juga mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe sekitar 110 kali, seiring dengan tingginya minat para investor untuk memiliki saham tersebut.

Euforia atas klub sepak bola kesayangan yang go public bisa dibanggankan. Namun, seperti dikutip dari The Wall Street Journal pada 1998, para analis memperkirakan ada masalah yang bakal dihadapi suatu klub sepak bola dalam jangka panjang jika melantai di bursa efek.

Klub bola melantai di bursa bukan hal yang baru di Benua Biru. Apalagi, setelah Liga Premier Inggris diluncurkan pada 1992, banyak klub Liga Inggris yang melantai di bursa karena pendapatan siaran yang melonjak. Para pemilik klub pun tergiur untuk melonjakkan valuasi asetnya. Tercatat ada 27 tim yang melantai di bursa pada pertengahan 1990-an.

The Economist pada 2012 mencatat ada beberapa tim yang sempat tercatat di bursa London pada pertengahan 1990-an antara lain, Arsenal, Birmingham City, Celtic, Tottenham Hotspur, dan Millwall FC. Harga saham klub bola asal Inggris itu dipatok dengan harga tinggi, tetapi tidak berbanding lurus saat periode pembagian dividen. Pasalnya, klub Inggris pada 1990-an itu tidak mampu membagikan dividen. Akhirnya, nilai pasarnya pun anjlok.

Analis saham AFV Milla Ilario Presta seperti dikutip Wall Street Journal pada 1998 mengatakan, kinerja saham klub bola sangat terkait dengan peforma tim di lapangan sehingga harga sahamnya cenderung berfluktuasi.

Untuk kasus di Liga Inggris, ada beberapa penyebab para klub bola itu angkat kaki dari bursa antara lain, ketidakpuasan dari pemegang saham dan biaya untuk mematuhi aturan bagi perusahaan publik yang tinggi bisa mencapai 100.000 paun per tahun.

Selain itu, pasar saham global juga tengah mengalami tekanan pada 2000 akibat krisis moneter global. Alhasil, harga saham klub bola mendapatkan tekanan hebat. Belum lagi banyak klub yang mengalami kesulitan keuangan saat itu.

Prestasi & Transfer

Nasib buruk klub Liga Inggris yang melantai di bursa tidak membuat S.S Lazio, klub asal Serie A Italia, gentar. Biancocelesti, julukan Lazio, memberanikan diri untuk IPO pada 6 Mei 1998. Klub asal kota Roma itu pun yakin pendukungnya bakal berbondong-bondong membeli sahamnya.

Jika harga saham perusahaan publik sangat dipengaruhi dengan prospek kinerja keuangan dan bisnisnya. Berbeda dengan sepak bola, hasil di lapangan bisa memengaruhi harga sahamnya.

Kondisi inilah yang membuat Lazio salah perhitungan. Aksi beli saham dari para penggemar tidak cukup untuk mengindahkan harga saham emiten klub bola tersebut.

Kinerja Lazio di Serie A yang kurang mengesankan membuat sahamnya tidak menarik dibeli oleh penggila bola atau investor ritel selain penggemar beratnya.

Keberhasilan Ajax lolos ke semifinal Liga Champions bisa menjadi contoh sentimen positif untuk harga sahamnya. Apalagi, klub Belanda itu mampu menang di semifinal leg pertama melawan Tottenham Hotspurs 1-0 di Inggris.

Setelah kemenangan itu, harga saham Ajax langsung melejit 26,02% menjadi 24 euro per saham dalam empat hari perdagangan. Namun, harga sahamnya langsung anjlok 29,16% menjadi 17,05 euro per saham setelah Ajax dikalahkan Tottenham 2-3 di kandang sendiri. Sampai perdagangan Senin (17/06/2019), harga saham Ajax turun 0,58% menjadi 17 euro per saham.

Tak hanya kinerja di lapangan, sentimen penggerak saham klub bola bisa dibilang lebih rumit dari emiten biasa. Penggerakkan harga saham bisa liar ketika masa bursa transfer. Pasalnya, investor ritel bisa saja tidak puas dengan strategi klub di bursa transfer. Hal itu bisa menekan harga saham. Sebaliknya, pemain besar yang dibeli bisa mendongkrak harga saham.

Kebijakan penunjukkan pelatih pun bisa mempengaruhi gerak saham klub bola. Jika pendukung tidak menyukai sosok pelatih yang dipilih, siap-siap saja harga saham langsung memerah. Bahkan, kebijakan klub tidak memainkan pemain bintang yang disukai pendukung bisa membuat harga saham memerah.

Tidak ada yang baru di bawah matahari, sepertinya frasa yang cukup pantas untuk menggambarkan fenomena saham BOLA yang dikabarkan oversubscribe. Menjadi klub sepak bola pertama di Asia Tenggara yang melantai di bursa, mari kita nantikan bagaimana performa saham Bali United.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia