Preview Uruguay Vs Ekuador: La Celeste Masih Andalkan Pasangan Tersubur

Edin Dzeko - Reuters/Washington Alves
16 Juni 2019 17:37 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Uruguay diberkahi duet paling maut sejagat di lini depan.  Luis Suarez dan Edinson Cavani adalah pasangan striker tersubur di sepak bola internasional sejauh ini.

Suarez mengoleksi 56 gol untuk menahbiskan diri sebagai top scorer sepanjang masa La Celeste (Si Biru Langit), julukan Uruguay. Di panggung internasional, Suarez hanya kalah dari rekan seklubnya di Barcelona, Lionel Messi, yang mendulang 67 gol untuk Argentina. Sementara Cavani mempersembahkan 46 gol selama membela Uruguay.

Itu artinya, kombinasi Suarez dan Cavani telah menghasilkan 102 gol di panggung internasional. Pelatih Uruguay, Oscar Tabarez, pun tetap mengandalkan duo kawakan tersebut untuk mengawal lini serang timnya pada Copa America 2019 di Brasil. Sejak Diego Forlan pensiun, tidak ada lagi striker Uruguay yang lebih berbahaya ketimbang Suarez dan Cavani. Christian Stuani yang masih aktif bersama Uruguay sejauh ini baru memborong delapan gol di panggung internasional. Urutan berikutnya, Diego Godin, yang juga mengoleksi delapan gol, berposisi sebagai bek.

Namun, usia Suarez dan Cavani sudah tak muda lagi. Mereka sama-sama berumur 32 tahun. Suarez bahkan dibayangi cedera lutut sebelum berangkat ke Brasil. Bintang Barcelona itu sempat menjalani operasi lutut kanan pada 9 Mei lalu.

Cedera sepertinya sudah sangat akrab dengan Suarez sebelum membela Uruguay di turnamen mayor. Lima tahun lalu di Brasil pula, dia dihantui cedera pada Piala Dunia 2014. Namun, Suarez menyelamatkan La Celeste untuk tidak terdepak lebih cepat dari fase grup dengan mencetak dua gol saat Uruguay menyingkirkan Inggris 2-1. Di Copa America 2016, Suarez juga tak masuk daftar skuat La Celeste karena persoalan kebugaran. Tanpa Suarez, Uruguay secara mengenaskan tersingkir dari fase grup.

"Faktor fisik ikut menentukan ketenangan dalam bermain. Saya ingin bermain di semua laga, namun itu semua tergantung pada pelatih," jelas Suarez, seperti dilansir apnews.com, Sabtu (15/6).

Suarez dan Cavani diharapkan bisa mengakhiri puasa gelar Uruguay di Copa America sejak 2011. La Celeste mengoleksi 7 gelar Copa America. Mereka hanya kalah dari Argentina yang mencetak rekor juara dengan 10 kali. Namun, perjuangan Suarez dkk. kali ini tidak mudah. Mereka tergabung pada grup tricky bersama bertahan dua kali beruntun, Chile; tim kuda hitam, Ekuador; dan wakil tangguh dari Asia, Jepang, pada Grup C.

Uruguay akan memulai kampanye mereka dengan melawan Ekuador di Governador Magalhaes Pinto, Belo Horizonte, Senin (17/6/2019) pukul 05.00 WIB. Setali tiga uang dengan lini depan Uruguay, barisan serang Ekuador diperkuat pemain-pemain kawakan, di antaranya duo Valencia, Antonio dan Enner. Antonio Valencia berusia 33 tahun, sedangkan partner-nya, Enner, berumur 29 tahun.

Peluang Ekuador menjuarai Copa America 2019 disebut-sebut sangat tipis. Berdasarkan penilian Metro Ecuador memakai penghitungan matematis, kans Antonio Valencia dkk. finis sebagai juara di Brasil hanya 1 persen. Hanya, sepak bola bukan matematika. Ekuador bertekad mematahkan prediksi dan membuat kejutan di Brasil. Tim berjuluk La Tricolor ini terinspirasi dengan pencapaian pembalap sepeda Ekuador, Richard Carapaz, yang sukses membuat kejutan di Giro d'Italia. Kendati tak begitu diperhitungkan, Carapaz menjuarai kejuaraan balap sepeda paling prestisius kedua di dunia setelah Tour de France tersebut.

"Kami punya atlet [Carapaz] yang bisa mengangkat derajat negara kami dan kami berharap juga bisa melakukan hal serupa," ujar bek Ekuador, Arturo Mina, seperti dikutip afp.com.

Sumber : JIBI/Solopos