Ini Cibiran dari Mou, Wenger, & Pirlo terhadap Kualitas Final Liga Champions

Liverpool, memenangi final Liga Champions tanpa permainan menawan. - Reuters/Carl Recine
02 Juni 2019 21:17 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Final Liga Champions 2018-2019 di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6/2019) dini hari berjalan kurang berkualitas. Meski menang 2-0, Liverpool tak memeragakan permainan menekan yang menjadi ciri khas mereka. Tottenham Hotspur juga bermain buruk dan awut-awutan saat menyerang.

Dua mantan pelatih top, Jose Mourinho dan Arsene Wenger, mengkritik kualitas final yang membosankan. Sementara, legenda Italia, Andrea Pirlo menyebut beberapa pemain Spurs terlihat tak berminat memegang bola.

Mou menyoroti jarak antara tiga gelandang ddalam formasi 4-3-3 ala Jurgen Klopp yang terlalu dekat dengan kuartet bek.

“Mereka bermain sejajar tepat di depan empat bek. Jordan Henderson, Wijnaldum, Fabinho, atau James Milner yang masuk sebagai pengganti tak pernah dekat dengan tiga striker. Tidak ada gelandang yang masuk ke kotak penalti. Liverpool sangat pragmatis dalam bertahan,” kata Mourinho yang menjadi komentator Bein Sports, sebagaimana dikutip Mirror.

Wijnaldum memang tampil sangat jelek. Bersama Roberto Firmino, gelandang asal Belanda ini menjadi pemain Liverpool yang paling loyo. Firmino hanya 16 kali menyentuh bola, tujuh kali mengumpan, satu kali menciptakan peluang, dan tak sekali pun menembak. Saat digantikan Origi di menit ke-58, dia terlihat tak berkeringat.

Wijnaldum yang jadi pahlawan di semifinal malah lebih buruk. Selama 62 menit di lapangan, dia cuma 15 kali menyentuh bola dan akhirnya digantikan James Milner.

“Jika ini bukan final Liga Champions, jika ini adalah pertandingan Liga Premier atau final Piala Liga Inggris, kita semua akan mengatakan pertandingan ini membosankan, tidak bagus. Tetapi karena ini final Liga Champions, ada sisi emosional yang berperan. Tetapi menurut saya, kualitas permainan di final ini tidak bagus,” ujar Mou.

Wenger yang mendampingi Mou sebagai komentator juga melontarkan kritik senada. Menurut dia, Liverpool sangat semenjana dan tidak bagus, sementara Spurs tampil tanpa kepercayaan diri.

“Menurut saya, Liverpool sangat-sangat medioker. Sementara Tottenham seperti tidak percaya bisa tampil di final. Saya pikir ini semua masalah psikologis,” kata dia.

Komentar lain muncul dari Andrea Pirlo. Menurut dia, Tottenham kalah karena tak punya karakter yang kuat dan para pemain mereka tidak bisa tampil dengan lepas.

“Beberapa pemain seperti Dele Alli dan Christian Eriksen seperti enggan memegang bola,” kata Pirlo dikutip Sky Sport Italia.

Berkali-kali bangunan serangan The Lilywhites kandas karena salah umpan. Akurasi umpan Spurs hanya 80% dan kebanyakan umpan mereka meleset di sepertiga akhir lapangan. Saking buruknya permainan Spurs, performa jelek Liverpool jadi kelihatan tak terlalu buruk. Penguasaan bola The Reds yang sangat rendah juga tak masalah. Sebagaimana dicatat Opta, dengan persentase penguasaan bola hanya 35,4%, Liverpool menjadi tim pertama setelah Inter Milan (2010 mengalahkan Bayern) yang bisa memenangi final meski tak mendominasi permainan.