Final Liga Champions: Tradisi Kuat Melawan Modal Cekak

Son Heung-Min - Reuters/Dylan Martinez
01 Juni 2019 13:17 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Liverpool memiliki tradisi yang lebih mengakar di Liga Champions ketimbang rival yang akan mereka hadapi pada final di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6/2019) dini hari pukul 02.00 WIB nanti.

The Reds berpengalaman mengoleksi lima Si Kuping Lebar, julukan trofi Liga Champions. Sementara, jangankan memperoleh gelar, Spurs baru akan menjejakkan kaki di partai puncak untuk kali pertama saat bertemu Liverpool.

Sejarah dan nama besar memang ikut menentukan di panggung sekelas Liga Champions. Maka jangan heran, tim seperti Atletico Madrid tetap gagal memperoleh trofi, setelah dua kali bertemu tim pemegang rekor juara sekaligus rival sekota mereka, Real Madrid, pada partai puncak masing-masing pada 2013/2014 dan 2015/2016.

Wajar apabila sejumlah bursa taruhan menempatkan Liverpool sebagai tim favorit pada partai puncak di Wanda Metropolitano nanti. Sebab, tidak mudah tim minim pengalaman di panggung elite seperti Tottenham berhasil merengkuh gelar yang menjadi simbol supremasi turnamen antarklub di Eropa ini.

Chelsea menjadi juara baru terakhir di Liga Champions, setelah tim London Barat ini menundukkan Bayern Munich lewat drama adu penalti pada 2012. Itu pun setelah Chelsea mencoba berulang kali, dengan mengumpulkan bintang-bintang ternama di duniamemakai uang taipan Rusia, Roman Abramovich, pada 2003. Sejak tujuh tahun berlalu sejak Chelsea juara pada 2012, tidak ada lagi juara baru di panggung terelite di Benua Biru ini. Namun, Pelatih Tottenham, Mauricio Pochettino, sudah terbiasa dengan label underdog.

Tim asal London Utara ini pun tidak memiliki track record yang mumpuni di level Eropa. Bahkan, Spurs baru saja ditinggalkan bintang utama mereka, Gareth Bale, dengan rekor transfer dunia senilai 100 juta euro ke Real Madrid.

"Ketika saya tiba di Tottenham, saya tahu akan menjadi tantangan yang sangat besar. Klub berada di level berbeda. Tidak ada yang percaya kami, tidak ada yang yakin kami bakal membawa sukses," ujar Pochettino, seperti dilansir afp.com, Kamis (30/5/2019).

Pochettino bermodal Rp0 untuk membawa timnya menembus Liga Champions musim ini. Ia tidak bisa belanja pemain karena tim sedang "ngirit" demi pembangunan stadion baru mereka yang diresmikan, 3 April lalu. Son Heung Min pun mencoba menentang mitos bahwa trofi Liga Champions hanya bisa dimiliki tim dengan tradisi kuat atau tim yang punya uang banyak. Jika berhasil, Spurs akan menjadi tim ke-23 yang pernah mengangkat Si Kuping Lebar sepanjang sejarah turnamen kasta tertinggi di Eropa.

Sementara Liverpool sangat yakin bisa membalaskan sakit hati mereka ketika keok 1-3 dari Real Madrid di partai puncak musim lalu. Pasukan Jurgen Klopp bisa jadi lebih lega karena sudah mengenal betul musuh mereka kali ini, karena sebagai tim sesama Inggris. Dalam pertemuan di Liga Premier 2018/2019, Liverpool pun selalu menang.

"Kami harus come back, kami harus kembali dan melakukannya dengan benar! Namun kami sangat respek dengan lawan kami. Kami respek dengan mereka sebagai tim bagus dengan cerita sangat spesial di Liga Champions setahun ini. Jadi, ini akan jadi laga berat, tentu saja," ujar Klopp, seperti dilansir liverpoolfc.com.