Jelang Final Liga Champions: Liverpool & Spurs Sama-Sama Harmonis & Sudah Lama Puasa Gelar

Mauricio Pochettino - Reuters/Stefano Rellandini
31 Mei 2019 08:27 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Liverpool dan Tottenham Hotspur memiliki banyak kesamaan: yakni sama-sama kompak dan jarang diterpa rumor negatif di ruang ganti.

Ikatan emosional para pemain dengan manajer mereka masing-masing pun sangat kuat. Fans Liverpool sudah terbiasa disuguhi pemandangan Jurgen Klopp memeluk satu per satu para pemain seusai bertanding. Pelatih asal Jerman itu memiliki panggilan khusus untuk masing-masing anak buahnya. Seperti Roberto Firmino dengan panggilan Bobby, James Milner dengan sebutan Milly, Dejan Lovren dengan sapaan Lov.

Air mata pun membasahi pipi Mauricio Pochettino setelah anak buahnya menyingkirkan Ajax Amsterdam secara dramatis di Johan Cruyff Arena pada leg kedua semifinal Liga Champions belum lama ini. Dia menyebut para pemainnya adalah pahlawan. Pujian setinggi langit Pochettino untuk Lucas Moura dkk. diutarakannya sambil menangis tersedu-sedu di hadapan wartawan yang mewawancarainya.

Passion (gairah) dan emotion (perasaan). Begitulah yang disuntikkan Klopp dan Pochettino kepada tim mereka masing-masing, selain permainan menghibur yang diwarnai pressing tinggi. Tak ayal, seberapa pun cobaan tim itu, termasuk ditinggalkan sederet bintang, Liverpool dan Tottenham tetap solid.

Hanya, satu hal yang membuat ironi adalah sesolid dan seapik apa pun Liverpool di bawah besutan Klopp dan Tottenham bersama Pochettino, mereka sama-sama belum pernah mengangkat trofi! Sejak tiba di markas latihan Liverpool, Melwood, pada Oktober 2015, Klopp telah tiga kali mengantar Jordan Henderson dkk lolos ke final, masing-masing Piala Liga dan Liga Europa pada 2016 serta Liga Champions 2018. Namun, ketiganya gagal dituntaskan dengan gelar. Musim ini, Liverpool juga nyaris mengakhiri puasa gelar Liga Premier sejak 1990. Namun, mimpi itu dikandangkan Manchester City.

Pochettino tak jauh beda. Pelatih yang konon menolak menggantikan Sir Alex Ferguson sebagai pelatih Manchester United itu juga tak pernah sekalipun mempersembahkan gelar kepada Spurs sejak dirinya membesut tim London Utara ini pada musim panas 2014. Padahal Spurs di bawah kendali Pochettino hanya sekali gagal finis empat besar Liga Premier dalam lima tahun ini dan juga sempat lolos ke final Piala Liga pada 2015.

Akan tetapi, Klopp dan Pochettino kini sama-sama memiliki kesempatan memupus ironi nir-trofi tersebut ketika tim mereka berjumpa pada final Liga Champions di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6/2019) pukul 02.00 WIB (disiarkan langsung RCTI). Si Kuping Besar, sebutan trofi Liga Champions, menjadi impian Klopp dan Pochettino sebagai persembahan gelar perdana bagi tim yang mereka tangani saat ini.

"Apakah target saat memulai kampanye ini untuk menembus final Liga Champions? Jelas tidak, namun untuk memenangi setiap laga di depan kami, bisa mengalahkan segala penghalang, perlu usaha besar sebisa mungkin, dan punya kekuatan untuk mencapai sesuatu itu sangatlah indah. Saya pikir itu yang membuat kami bisa sampai sejauh ini," ujar Pochettino, seperti dilansir uefa.com, Kamis (30/5).

Ambisi Klopp untuk memberi gelar bagi Liverpool di Wanda Metropolitano bisa lebih besar ketimbang Pochettino. Maklum, Klopp sudah dua kali gagal di final kompetisi tertinggi di Benua Biru tersebut. Masing-masing bersama Borussia Dortmund pada 2013 dan Liverpool musim lalu. Pelatih berkacamata ini tentu sangat penasaran untuk mengangkat Si Kuping Besar kali pertama dalam karier manajerialnya.

Klopp memiliki catatan apik secara head-to-head dengan Pochettino. Dia hanya menelan sekali kekalahan dalam sembilan pertemuan, di mana empat pertandingan berakhir dengan kemenangan dan empat lainnya imbang. Dua kemenangan itu antara lain terjadi di Liga Premier musim ini.

"Liverpool dan Tottenham saling mengenal dengan baik. Terlepas dari itu, ini adalah laga final dan Anda harus mempersiapkan diri dengan mencari kelebihan dan kelemahan lawan," jelas Klopp.

Berbeda musim lalu yang masih mengandalkan skuat compang-camping terutama di lini belakang, Klopp bakal menurunkan tim yang hampir merata di semua lini saat turun di Wanda Metropolitano nanti. Tak ada lagi raja blunder, Loris Karius, di bawah mistar The Reds. Yang ada adalah Alisson Becker, kiper yang mengemas 21 clean sheet di Liga Premier musim ini.

Di lini depan, Mohamed Salah tak akan lagi membiarkan final impiannya rusak seperti partai puncak musim lalu. Salah terpaksa tidak bisa menuntaskan pertandingan ketika Liverpool dikandaskan Real Madrid 1-3 pada final lalu di Kiev, gara-gara pelanggaran horor kapten Madrid, Sergio Ramos.

"Saya sangat senang punya peluang bermain kembali di final. Saya harap bisa bermain penuh kali ini. Saya sangat tak sabar. Saya harap kami bisa memperbaiki apa yang terjadi musim lalu, meraih hasil bagus, dan menjuarai kompetisi ini. Tentu ini final dua kali secara beruntun. Kami kalah pada final pertama, tetapi kami merasa lebih baik kali ini dan kami lebih berpengalaman," ujar Salah, seperti dikutip telegraph.co.uk.

Salah akan mendapat saingan bomber haus gol Spurs, Harry Kane. Kapten Timnas Inggris ini mulai pulih dari cedera engkel yang dideritanya sejak menaklukkan Manchester City 1-0 pada leg pertama perempat final, 9 April lalu.

Sumber : JIBI/Solopos