Malam Ini Pukul 21.00 WIB, Puncak Mendebarkan Perebutan Takhta Liga Premier Inggris

Sergio Aguero - Reuters/Phil Noble
12 Mei 2019 15:52 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sensasi menegangkan dalam penentuan gelar juara di pekan terakhir pernah terjadi pada Liga Premier 2011/2012. Saat itu, duo Manchester, City dan United, bersaing sengit untuk menduduki takhta hingga detik terakhir.

City dan United mengoleksi poin yang sama dan hanya terpisahkan selisih gol hingga satu laga tersisa. Pada matchweek terakhir musim, United unggul sejak menit ke-20 lewat gol Wayne Rooney di markas Sunderland. Para pemain United berserta pelatih legendaris mereka, Sir Alex Ferguson, sudah bersiap menggelar pesta juara begitu peluit akhir menunjukkan kemenangan 1-0 atas Sunderland.

Sementara di Etihad Stadium, City sempat tertinggal 1-2 dari Queen Park Rangers (QPR).  Namun, memasuki injury time, Edin Dzeko membawa City menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-90+2. Selanjutnya, Sergio Aguero benar-benar memupus mimpi United setelah secara heroik merobek gawang QPR pada menit ke-90+4, sekaligus memastikan City menjuarai Liga Premier 2011/2012.

Sensasi penentuan juara yang tak kalah mendebarkan pun bakal tersaji di Liga Premier musim ini. City dan Liverpool bakal berjuang habis-habisan sejak menit awal hingga akhir untuk memastikan juara Liga Primera 2018/2019 pada matchweek penutup musim yang digelar serentak, Minggu (12/5) pukul 21.00 WIB. The Citizens yang hanya unggul sebiji poin atas Liverpool bakal melakoni partai penutup di markas Brighton & Hove Albion, di The America Express Community Stadium (Falmer). Sedangkan Liverpool menjamu Wolverhampton Wanderers di Anfield.

Jika dua tim sama-sama menanng pada laga penutup, berarti City yang bakal menahbiskan diri sebagai juara. Namun, sejarah telah membuktikan tidak ada yang mustahil dalam sepak bola. Meski tidak bisa menentukan juara lewat tangan sendiri, Liverpool masih pantas berharap bisa mengakhiri puasa gelar Liga Premier sejak 1990 alias 29 tahun silam.

"Liverpool bermain tanpa tekanan karena mereka tahu ini bukan tergantung mereka. Mudah saja. Kami punya tekanan. Jujur saja, rasanya tidak mudah, namun kami tidak merasa memikul tekanan terlalu besar," ujar Pelatih City, Josep "Pep" Guardiola, seperti dilansir express.co.uk, Sabtu (11/5).

Rivalitas City dan Liverpool memperebutkan takhta Liga Premier musim ini tak kalah seru dibandingkan skenario drama perebutan singgasana besi (Iron Throne) dalam serial buatan HBO, Game of Throne. Dua tim ini sama-sama mengalami pasang surut dan melakoni perjuangan "berdarah-darah" demi mendapatkan singgasana.

Liverpool sebenarnya sempat memiliki peluang untuk memimpin pacuan gelar dengan keunggulan 10 poin atas City. Namun, tim polesan Jurgen Klopp ini takluk 1-2 pada pertemuan kedua dengan City  di Etihad, 3 Januari silam. Itulah satu-satunya kekalahan yang dialami Liverpool dalam 37 laga. Mohamed Salah dkk. juga sempat beberapa kali terselip, antara lain ditahan imbang Leicester City 1-1 pada 30 Januari lalu.

Perjalananan Manchester Biru juga tak selalu mulus. Setelah menaklukkan Liverpool 2-1 di Etihad, anak asuh Guardiola secara mengejutkan takluk 1-2 dari Newcastle United pada 29 Januari lalu. Akan tetapi, kemenangan 2-0 pada Derby Manchester seolah menunjukkan sinyal bahwa Aguero dkk. pantas mempertahankan gelar yang menjadi simbol supremasi sepak bola di Negeri Ratu Elizabeth II ini.

"Ini adalah akhir musim, jadi kami harus benar-benar bergairah menuntaskannya dengan cara terbaik dan menjadi juara Liga Premier lagi. Kami tidak memiliki persiapan yang berbeda dibandingkan laga lain," koar bek City, Aymeric Laporte, seperti dikutip manchestereveningnews.co.uk.

Liverpool memiliki beberapa skenario untuk menduduki singgasana juara. Salah satunya, The Reds harus menang atas Wolves sementara City kalah atau imbang di kandang Brighton. Lantas, bagaimana jika Liverpool bermain imbang melawan Wolves sedangkan City kalah dari Brighton? Jika skenario itu terjadi, maka dua tim sama-sama mengantongi 95 poin.

Selisih gol dua tim yang bakal menjadi penentu juara. Saat ini, The Citizens hanya unggul tipis dalam urusan selisih gol dibanding punya Liverpool, yakni +69 berbanding +65. Jika dua tim finis dengan poin dan selisih gol yang sama, maka produktivitas gol yang bakal menentukan. Yang membuat sangat seru, City dan Liverpool juga tak terpaut jauh dalam urusan mencetak gol. City mengoleksi 91 gol, hanya unggul tipis atas Liverpool yang mengoleksi 87 poin. Seandainya jumlah poin, selisih gol, dan produktivitas gol dua tim sama persis, maka tak ada jalan lain untuk menentukan gelar juara selain melalui play-off.

"Kami bangga dengan musim ini namun kami masih bisa lebih baik. Salah satunya menjadi konsisten, tetap konsisten lain kali," ujar Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp.

Klopp sebaiknya waspada dengan Wolves. Sebab tim berlogo kepala Serigala ini kerap memangsa tim-tim dari big six. Namun,  yang melegakan bagi pendukung Liverpool, Virgil van Dijk, bakal memainkan duel melawan Wolves pada laga penutup Liga Premier musim ini di Anfield. Atmosfer Anfield masih memanas setelah Liverpool melakoni comeback sensasional dengan menundukkan Barcelona 4-0 untuk lolos ke final Liga Champions dengan agregat 4-3, Rabu (8/5) dini hari WIB. Bayangkan betapa hebohnya respons pendukung Liverpool jika mereka kembali menorehkan kejaiban dengan menuntaskan dahaga gelar Liga Premier sejak hampir tiga dekade silam di Anfield.

"Kami akan berusaha mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan dan kembali melawan Wolves. Sekarang, saya paham atmosfernya akan sangat brilian lagi dan mereka akan menekan kami, karena ini akan jadi laga yang sulit," ujar Klopp.

Sumber : JIBI/Solopos