Hadapi Ajax, Pochettino Mengingat Kembali Inspirasi dari Kolombia

Mauricio Pochettino - Reuters/Andrew Pochettino
08 Mei 2019 20:47 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelatih Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, mengingat kembali momen inspiratif di Kolombia untuk menyntikkan semangat kepata timnya yang harus membalikkan ketertinggalan 0-1 ketika melawat ke markas Ajax Amsterdam untuk duel leg kedua semifina Liga Champions di Johan Cruyff Arena, Amsterdam, Kamis (9/5/2019) pukul 02.00 WIB.

Poche, sapaan akrab Pochettino, setidaknya pernah mengalami situasi sulit dalam fase knock-out ketika masih menjadi pemain klub Argentina, Newell's Old Boys, pada semifinal Copa Libertadores 1992. Saat itu, Newell's yang dibela Poche ditahan imbang 1-1 oleh klub Kolombia, America de Cali, pada leg pertama di kandang.

Berkaca dari hasil leg pertama, Newell's pun datang ke markas Cali dengan status underdog pada leg kedua di Kolombia. Namun, Pochettino dan rekan-rekan setimnya berhasil memberi perlawanan kepada Cali 1-1 dalam waktu normal dan pertandingan harus dilanjutkan drama adu penalti. Dalam adu tos-tosan yang berlangsung sengit, Newell's menuntaskan dengan kemenangan 11-10!

"Itu benar-benar gila. Saya masih ingat pertandingan itu, bagaimana tak ada satu pun orang percaya dengan kami. Mereka [Cali] favorit. Semua orang menjagokan merka. Saya ingat saat tiba di stadion mereka, itu seperti hutan di mana Anda tidak bisa melihat karena bebatuan. Anda memasuki lapangan melewati tunnel dari plastik. Rekan setimku terkena lemparan batu baterai yang merobek bagian kepalanya. Kami menunggu, masuk ke dapam, dan dia dijahit sebelum laga semifinal dimulai," kenang Poche, seperti dilansir dailymail.co.uk, Selasa (7/5/2019).

Poche pun tak bisa melupakan kegilaan dalam adu tos-tosan dalam penentuan ke final Copa Libertadores, 27 tahun silam tersebut. "Kami berlatih penalti sehari sebelumnya dan di sana ada sebuah bukit di belakang gawang dengan patung Jesus di puncaknya. Saya kemudian bilang, 'oh seandainya besok saya menendang sebuah penalti'...dan dalam pertandingan saya benar-benar melesakkan bola ke atas gawang [gagal jadi gol]. Saya pikir kami [pemain dua klub] melesakkan 26 tembakan penalti sebelum kami menang, itu benar-benar gila. Tidak ada yang yakin dengan kami, tapi kami menang," jelas Poche.

Poche akan kembali berdoa untuk kemenangan timnya. Kali ini, Spurs yang diharapkan mampu membalas kekalahan dari Ajax dengan skor 0-1 pada leg pertama. The Lilywhites memerlukan setidaknya dua gol agar bisa melenggang ke final pertama dalam sejarah dengan klub asal London Utara ini.

"Kami semua kecewa dengan hasil leg pertama karena kami tidak memulai pertandingan dengan baik. Kami tidak menerjemahkan emosi atau gambaran layaknya laga semifinal Liga Champions," ujar pelatih berpaspor Argentina ini.