Son Heung-Min: Menapak Jejak Park Ji-Sung

Son Heung-Min - Reuters/John Sibley
08 Mei 2019 17:02 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Khalayak Korea Selatan (Korsel) pernah memiliki pesepak bola kebanggaan yang tampil pada final Liga Champions Eropa pada 2010/2011.

Bersama Manchester United, Park Ji-Sung melangkah ke babak pamungkas turnamen sepak bola paling glamor di Eropa tersebut berhadapan dengan Barcelona di Stadion Wembley, London, 28 Mei 2011. Meski gagal meraih trofi karena United takluk 1-3, Ji-Sung telah menorehkan tinta emas dalam sejarah persepakbolaan di Negeri Gingseng. Pemain berjuluk Three-Lungs tersebut menjadi satu-satunya pemain asal Korsel yang bisa merumput di final Liga Champions.

Ji-Sung sebenarnya pernah menjuarai Liga Champions dengan United pada 2007/2008. Namun ketika itu, dirinya tidak masuk seleksi skuat yang diplih pelatih Sir Alex Ferguson untuk babak final di Moskow, 21 Mei 2008. Belakangan, Ferguson menyatakan penyesalannya tidak memasukkan Ji-Sung ke skuat final tersebut.

Nah, untuk kali pertama sejak penampilan Ji-Sung di Wembley delapan tahun silam, pemain Korsel lainnya, Son Heung-min, berpeluang tampil di final Liga Champions musim ini. Namun, beban yang ditanggung Son cukup berat. Dia harus mampu membawa Tottenham Hotspur membalikkan ketertinggalan 0-1 ketika melawat ke markas Ajax Amsterdam di Johan Cruyff Arena, Amsterdam, Kamis (9/5) pukul 02.00 WIB (disiarkan langsung RCTI).

Spurs sangat berharap besar pada Son yang absen pada leg pertama karena sanksi akumukasi kartu. Tanpa Son dan Harry Kane, serangan Spurs menjadi tidak efisien. Tim berjuluk The Lilywhites tersebut sebenarnya mengkreasi beberapa peluang setelah 30 menit pembuka. Tapi "hanya" dengan mengandalkan striker Fernando Llorente dan Lucas Moura, tidak ada satu pun penyelesian akhir yang berbuah gol.

"Anda bisa lihat, mereka [Spurs] kehilangan Son pada leg pertama. Sebagai seorang defender, Anda selalu berpikir mungkin perlu dua bek untuk mengawalnya, dan Ajax harus waspada," ujar mantan pemain Spurs dan Ajax sekaligus mantan rekan setim Son di Hamburg, Rafael van der Vaart, seperti dilansir standard.co.uk, Selasa (7/5/2019).

Kendalikan Emosi

Namun, Son harus pandai mengendalikan emosinya jika tidak ingin merugikan timnya di Johan Cruyff Arena. Pemain berusia 26 tahun ini terprovokasi pemain Bournemouth, Jefferson Lerma, di Liga Premier, akhir pekan lalu. Son akhirnya dikartu merah wasit Craig Pawson yang memaksa Spurs hanya bermain 10 orang sejak menit ke-43.

"Itu terdengar bodoh, namun saya senang dengan hal seperti itu. Itu bukan tindakan cerdas, namun terkadang Anda perlu energi seperti itu. Ketika saya bermain dengannya, dia baru berusia 18 atau 19 tahun, dan dia masih sedikit malu-malu," jelas Van der Vaart.

Sejarah Son juga akan menjadi sejarah Spurs apabila bisa lolos ke final. The Lilywhites akan menjadi tim ke-40 dalam sejarah Liga Champions apabila berhasil menjejakkan kaki mereka di Wanda Metropolitano Stadium, Madrid, lokasi final Liga Champions musim ini.

Dirijen orkestra permainan Ajax, Frenkie de Jong, sendiri enggan meremehkan Spurs. Pemain yang musim depan dipastikan hijrah ke Barcelona tersebut menilai kemenangan 1-0 pada leg pertama belum menggaransi timnya ke final. "Itu akan sangat spesial [apabila Ajax lolos ke final], namun kami tidak mau membicarakan itu. Itu sama saja tidak menghargai Tottenham," ujar De Jong, seperti dikutip insidefutbol.com.