Preview Ajax Vs Tottenham: Menuju Ujung Penantian Panjang

Ajax Amsterdam - Reuters/Dylan Martinez
08 Mei 2019 16:32 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ajax Amsterdam dan Tottenham Hotspur sama-sama menjalani penantian panjang untuk bisa menembus partai final Liga Champions. Ajax menanti selama 23 tahun. Spurs malah belum pernah mencicipi partai puncak turnamen paling elite di Eropa ini sejak berdirinya klub tersebut 136 tahun silam. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia Hanifah Kusumastuti.

 Pada awal musim, jarang yang menduga Ajax Amsterdam dan Tottenham Hotspur bisa melesat hingga babak semifinal di Liga Champions 2018/2019. Maklum, Ajax sudah terlalu lama terlelap dalam tidur panjang mereka di kompetisi kasta tertinggi di Benua Biru ini. Pasukan Erik ten Hag juga "hanya" bermodalkan skuat muda kurang pengalaman di level elite.

Sementara itu, Tottenham selalu dipandang sebagai tim yang tak memiliki mental juara. Jika tak percaya, tengok saja kapan kali terakhir tim asal London Utara ini bisa mengangkat trofi? Titel juara terakhir yang digaet Spurs yakni Piala Liga Inggris pada 2007/2008. Dengan kata lain, mereka mengalami nirgelar sejak 11 tahun silam.

Namun, Ajax dan Spurs sama-sama membalikkan prediksi itu. Di fase knock-out, dua tim ini sama-sama menyingkirkan tim raksasa yang diunggulkan juara. Ajax bersama serdadu mudanya menundukkan juara bertahan tiga kali, Real Madrid, dan tim raksasa Italia, Juventus, yang diperkuat megabintang Cristiano Ronaldo. Sedangkan Spurs melibas Borussia Dortmund dan Manchester City besutan Josep Guardiola.

Kini, tak ada lagi yang meragukan kemampuan Ajax maupun Spurs. De Godenzonen (Anak-Anak Tuhan), julukan Ajax, tinggal sejengkal lagi untuk meraih final pertama dalam sejarah mereka sejak 1997 alias 23 tahun silam. Frenkie de Jong dkk. menundukkan Spurs 1-0 pada leg pertama semifinal lalu. Artinya, mereka hanya butuh bermain imbang agar lolos ke partai puncak ketika gantian menjamu Spurs pada leg kedua semifinal di Johan Cruyff Arena, Amsterdam, Kamis (9/5) pukul 02.00 WIB (disiarkan langsung RCTI).

Ajax juga termotivasi untuk menuntaskan musim ini dengan treble winner. Akhir pekan lalu, Matthijs de Ligt dkk., memenangi satu dari tiga trofi yang berpeluang mereka peroleh musim ini, yakni dengan menjuarai Piala KNVB (KNVB Beker). Jika Ajax mampu menggenapinya dengan gelar Eredivisie Belanda dan Liga Champions, maka Duscan Tadic dkk. mengulang sejarah Ajax ketika meraih treble winner pada era Johan Cruyff pada 1971/1972.

"Kami memasang banyak target di awal musim ini. Para pemain ingin memenangi semuanya: mereka memegang kartunya. Sekarang saatnya memanen keuntungan atas musim bagus yang kami jalani," ujar Ten Hag, seperti dikutip uefa.com, Selasa (7/5/2019).

Spurs tak kalah ambisius. Anak asuh Mauricion Pochettino ingin meraih final pertama dalam sejarah mereka di Liga Champions. Ini sekaligus bakal menjadi final pertama Spurs di kompetisi Eropa sejak mereka lolos ke babak pamungkas Piala UEFA 1984. Tim berjuluk The Lilywhites ini yakin kekalahan tipis 0-1 pada leg pertama di kandang tidak serta merta menutup peluang mereka lolos ke laga puncak.

"Kami dalam posisi, itu tergantung di tangan kami apakah bisa lolos ke final Liga Champions atau tidak," jelas Pochettino.

Hanya ada satu tim yang bisa menembus babak pamungkas dalam sejarah Liga Champions setelah mereka menelan kekalahan pada leg pertama semifinal di kandang. Ironisnya, tim tersebut adalah Ajax. Makanya Spurs tak perlu malu belajar dari Ajax ketika lolos ke final 1995/1996. Saat itu, Ajax juga kalah 0-1 pada leg pertama di kandang melawan Panathinaikos. Namun, mereka membalas dengan skor 3-0 di markas Panathinaikos.

Di sisi lain, Ajax tidak selalu menang ketika bermain di Johan Cruyff Arena musim ini. De Godenzonen sudah tiga kali beruntun tak meraih kemenangan pada laga kandang di Liga Champions. Bahkan satu-satunya kekalahan Ajax sejak babak kualifikasi, juga terjadi di Johan Cruyff Arena. Tepatnya ketika mereka takluk 1-2 dari Real Madrid pada leg pertama babak 16 besar.

Spurs semakin percaya diri karena bisa kembali memainkan Son Heung-min. Pada leg pertama lalu, The Liliwhites tak diperkuat dua bomber andalan mereka, Harry Kane, karena cedera dan Son yang terkena sanksi. Son kini siap memimpin serangan Spurs yang tampak mubazir pada leg pertama lalu. Pemain asal Korea Selatan (Korsel) ini menopang separuh dari total gol Spurs (4 dari delapan) pada fase knock-out.

Kemonceran Son bakal ditandingi gelandang serang Ajax, Hakim Ziyech. Pemain berdarah Maroko-Belanda ini minimal mencetak satu gol atau satu assist dalam empat pertandingan selama lima laga fase knock-out. Salah satu assist-nya menginisiasi gol Donny van de Beek ke gawang Spurs pada leg pertama lalu.

Sumber : JIBI/Solopos