Liverpool Mencoba Mengulang Keajaiban Istanbul

Sadio Mane - Reuters/Scott Heppell
07 Mei 2019 18:27 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, LIVERPOOL—Liverpool mendapat julukan raja comeback dalam sejarah Liga Champions setelah mereka menciptakan keajaiban di Istanbul sekitar 14 tahun silam.

Saat itu, Liverpool tertinggal 0-3 dari AC Milan, pada babak pertama laga final Liga Champions 2004/2005 di Istanbul, Turki. Tak ada yang mengira Steven Gerrard cs. mampu bangkit mengejar defisit tiga gol tersebut. Tapi nyatanya, tim asal Merseyside ini mampu mematahkan pandangan sinis tersebut dengan membalas Milan lewat gol Gerrad, Vladimir Smicer, dan Xabi Alonso. Liverpool secara brilian akhirnya menuntaskan pertandingan dengan mengangkat trofi karena menang dalam adu penalti.

Comeback yang dialami Liverpool di Istanbul itu bisa dijadikan inspirasi Sadio Mane dkk. ketika menjamu Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions di Anfield, Liverpool, Rabu (8/5/2019) pukul 02.00 WIB (disiarkan langsung RCTI). Pasukan Jurgen Klopp dituntut menang minimal empat gol jika ingin menggapai final pertama mereka di Liga Champions sejak keajaiban Istanbul tersebut.

Jika Liverpool bisa membalikkan tiga gol hanya dalam setengah babak pertandingan, bukan mustahil mereka bangkit membalas Barcelona salam satu laga normal di Anfield.

“Jadi ketika skor menunjukkan 0-3 dalam laga Liga Champions, itu sulit diatasi. Siapa yang masih ingat Istanbul? Saya yang paling mengerti, karena ikut bermain pada final 2005. Liverpool sudah dianggap habis. Saya sangat terkesan dengan cara Jurgen Klopp di Barcelona dan tidak mengejutkan mereka mengkreasi banyak peluang. Kejutannya, mereka tidak mencetak gol. Liverpool jarang sekali membiarkan tim lolos dua kali dan jika mereka mendapatkan peluang itu lagi di Anfield hasilnya akan berbeda," ujar mantan penggawa Liverpool, Dietmar Hamann, seperti dilansir liverpoolecho.co.uk, Senin (6/5/2019).

Mimpi Liverpool untuk bangkit mengejar tiga gol di Anfield nanti terasa tidak mustahil jika mereka menengok rekor-rekor comeback terbesar dalam sejarah fase knock-out Liga Champions. Setidaknya, ada tiga tim yang mampu membalikkan ketertinggalan minimal tiga gol pada leg pertama untuk lolos ke babak berikutnya. Lawan Liverpool, Barcelona, yang membuktikannya ketika menyingkirkan Paris Saint Germain (PSG) pada babak 16 besar 2016/2017 silam. Saat itu, Barca dihajar habis-habisa 0-4 di markas PSG pada leg pertama. Namun mereka membalasnya dengan kemenangan telak 6-1 pada leg kedua di Camp Nou.

Ironisnya, Barca sendiri menjadi "korban" comeback gemilang AS Roma pada perempat final 2017/2018. Tim berjuluk Blauggrana ini seolah telah meletakkan satu kaki ke semifinal setelah menang 4-1 pada leg pertama di Camp Nou. Namun, siapa sangka, Roma membalikkan keadaan menjadi 3-0 pada leg kedua di Olimpico, untuk lolos dengan agregat 4-4 karena unggul produktivitas gol tandang.

"Ini adalah Liverpool. Ini mengapa kami sebuah tim unik. Ketika orang mengatakan sudah berakhir, mereka tidak langsung mengatakan itu kepada kami. Kami selalu menunjukkan comeback terbesar," ujar bek Liverpool, Dejan Lovren.

Masalahnya, Liverpool tidak mengantongi gol tandang pada semifinal kali ini. Skuat arahan Jurgen Klopp juga terancam pincang karena ditinggalkan sejumlah pilar karena cedera. Penyerang Roberto Firmino dan gelandang Naby Keita dipastikan absen pada bentrok di Anfield. Sedangkan Mohamed Salah juga dipastikan absen setelah terkapar karena cedera ketika melawan Newcastle United, Minggu (5/5/2019) dini hari WIB. Sebagai gantinya, Klopp kemungkinan menunjuk Divock Origi sebagai ujung tombak The Reds menggantikan Firmino. Sedangkan posisi Salah di sayap kanan kemungkinan diserahkan Xherdan Shaqiri.

"Saya harap Mo [Salah] baik-baik saja. Kami sudah membuktikannya beberapa kali bisa tampil bagus meski tanpa Mo dan juga dua pemain penting lain. Yang terpenting adalah dukungan suporter. Saya harap kami bisa memanfaatkan itu lagi, dukungan fans sangat memotivasi," lanjut Lovren.

Sumber : JIBI/Solopos