Ini Pemain yang Akan Diandalkan Low di Timnas Jerman Era Baru

Marco Reus (kiri), Niklas Sule (dua kiri), dan Kai Havertz (kanan) berlatih di bawah pengawasan Pelatih Timnas Jerman Joachim Low di Volkswagen Arena, Wolfsburg, Selasa (19/3/2019). - Reuters/Fabian Bimmer
20 Maret 2019 21:27 WIB Hanifah Kusumatuti & Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jerman memulai lembaran baru setelah kegagalan memalukan di Piala Dunia 2018 dan hasil buruk di UEFA Nations League 2018-2019.

Pelatih Joachim Low merimbak timnya dan menyingkirkan pemain-pemain yang berpengaruh besar memberikan corak permainan Jerman dalam lima tahun terakhir. Tiga bintang yang ikut membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 2014, Mats Hummels, Jerome Boateng, dan Thomas Muller, dicoret dan tak akan dipanggil lagi ke skuat Die Mannschaft selama Low masih menjadi pelatih.

Perubahan besar ini harus dilakukan karena karakter permainan Jerman harus diganti setelah terdegradasi ke Liga B UEFA Nationa League.

Jogi, sapaan karib Los, ingin membangun sebuah era baru yang sukses untuk Jerman bersama generasi pemain muda. Dia tak ingin lagi Jerman memainkan gaya penguasaan bola yang terlalu lama tetapi mubazir di depan gawang. Gaya tersebut terbukti menenggelamkan Jerman di Rusia secara tragis.

“Kami punya sebuah pimikiran sejak Piala Dunia. Kami harus lebih cepat, lebih amibisius, dan lebih dinamis. Kami kehilangan semuanya di Piala Dunia lalu dan permainan kami jadi sangat mudah diprediksi,” ujar Low, seperti dilansir sport24.co.za.

Low memanggil tiga pendatang baru dalam skuat yang dipersiapkan untuk menghadapi Serbia di laga persahabatan dan Belanda di Kualifikasi Euro 2020, yakni bek Hertha Berlin, Niklas Stark, 23; gelandang Werder Bremen, Maximilian Eggestein, 22, dan full-back RB Leipzig, Lukas Klostermann, 22. Dia hanya mempertahankan dua pemain inti Jerman yang menjuarai Piala Dunia 2014, Toni Kroos dan Manuel Neuer, di skuatnya saat ini.

Low mengaku Neuer tetap akan menjadi kiper nomor satu Jerman. Dia belum mengamini desakan agar kiper Barcelona, Marc-Andre ter Stegen, dipromosikan sebagai kiper utama Der Panzer.

Di sisi lain, Low menaruh harapan besar kepada tiha pemain mudanya, Niklas Sule, 23; Leon Goretzka, 24, dan Joshua Kimmich,24, sebagai pilar tim. Kimmich sudah menjadi pemain inti Jerman sejak Euro 2016. Goretzka dan Sule mulai stabil Timnas Jerman sejak Piala Konfederasi 2017. Sule akan mengambil peran paling penting. Bek tengah ini menjadi palang pintu utama sepeninggal Hummels dan Boateng yang sudah menguasai lini belakang Jerman sejak Euro 2012.

“Beberapa pemain perlu mengambil langkah maju. Goretzka dan Kimmich adalah pemain dengan ide jelas, ambisi, dan opini. Sule harus ambil tanggung jawab, kami berharap lebih kepadanya mulai sekarang. Dia perlu mengatur dan memproses langsung pertahanan,” ujar Low.

Jerman akan menghadapi Serbia pada laga persahabatan di Volkswagen Arena, Wolfsburg, Kamis (21/3/2019) pukul 02.45 WIB dan melawan Belanda pada Kualifikasi Euro 2020 di Amsterdam Arena, empat hari kemudian.

Hummels, Boateng, dan Muller sama-sama mempertanyakan keputusan Jogi tersebut. Mereka keberatan dan menilai keputusan Jogi tidak fair. Sebab, mereka masih mampu bersaing di level atas bersama klub.

Keputusan Jogi itu juga mendapat kritik keras dari media-media Jerman. Alih-alih dianggap sebagai upaya pencarian kembali jati diri Jerman, keputusan Jogi lebih mirip sebagai sebuah perjudian. “Low akan mengantar semuanya ke sebuah permainan poker berisiko tinggi,” tulis Kicker.

Eks Pelatih Jerman, Jurgen Klinsmann, bahkan ikut mengkritik kebijakan mantan asistennya di Piala Dunia 2006 itu.

“Harapanku pribadi, pintu bisa selalu terbuka untuk Hummels, Boateng, dan Muller. Mereka para pemain top, dan sangat penting memiliki mereka. Jelas ini akan menambah tekanan ke tim ketika Anda membuat sebuah keputusan seperti ini,” ujar Klinsmann, seperti dikutip afp.com, Selasa (19/3/2019).

Yang pasti, trio Bayern  Munchen itu sudha menjadi masa lalu Jerman dan kini Low ingin anak asuhnya bergerak ke depan dengan ciri khas permainan yang lebih anyar, lebih dinamis, dan lebih mematikan ketimbang Jerman di Piala Dunia 2014, Euro 2016, apalagi Piala Dunia 2018.