LONG-FORM: Melongok Keuangan Klub Bola yang Melantai di Bursa Saham

Cristiano Ronaldo - Reuters/Alberto Lingria
12 Februari 2019 21:13 WIB Surya Rianto Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bali United kemungkinan besar akan menjadi klub pertama di Indonesia yang melantai di bursa saham. Masuk bursa saham punya banyak keuntungan bagi klub sepak bola, setidaknya di Eropa.

Dua klub papan atas Benua Biru, Juventus dan Manchester United contohnya. Juventus memiliki struktur pendapatan terbesar dari hak siar televisi, radio, dan media lainnya.  Pada periode Juni 2018, Si Nyonya Tua, meraup pendapatan 200,16 juta euro dari hak siar tersebut. Nilai itu berkontribusi sebesar 39,66% dari total pendapatan Juventus senilai 504,66 juta euro.

Kontributor pendapatan kedua terbesar berasal dari transaksi transfer pemain. Juventus meraup pendapatan hingga 102,4 juta euro.

Pendapatan dari sponsorship dan iklan berada pada posisi ketiga senilai 86,89 juta euro. Pendapatan sisanya berasal dari penjualan tiket senilai 56,41 juta euro, penjualan produk dan lisensi senilai 27,79 juta euro, serta pendapatan lainnya 30,99 juta euro.

Berbeda dengan Juventus, Manchester United meneguk pendapatan terbesar dari pendapatan komersial.

Sampai Juni 2018, Setan Merah, meraup 276 juta paun . Nilai itu berkontribusi 46,79% dari total pendapatan United saat itu senilai 590,02 juta paun.

Pendapatan lainnya berasal dari hak siar senilai 204,13 juta paun dan pendapatan pertandingan senilai 109,78 juta pound sterling. Di sisi lain, beban biaya klub sepak bola paling besar adalah gaji pemain, pelatih, dan staff.

Juventus mencatat beberapa beban operasionalnya di laporan keuangan seperti, pembelian material dan bahan konsumsi, pembelian produk untuk dijual, servis eksternal, gaji pemain dan staff, kebutuhan personel lainnya, beban transfer pemain, dan beban lainnya.

Beban tertinggi berasal dari gaji pemain dan staf. Pada Juni 2018, Juventus mencatat beban gaji pemain dan staff senilai 233,32 juta euro. Nilai itu berkontribusi sebesar 60,87% dari total beban operasional Si Nyonya Tua yang senilai 383,26 juta euro. Kontribusi beban operasional terbesar kedua datang dari servis eksternal. Beban ini berisi biaya transportasi, akomodasi, makan, keamanan, asuransi, dan sebagainya.

Selain itu, beban terbesar ketiga adalah biaya transfer pemain. Sisanya, biaya yang kontribusinya rata-rata kecil seperti, pembelian produk untuk dijual, pembelian material, supplies, dan konsumsi, sampai biaya personel lainnya.

Kondisi di Manchester United pun sama, biaya pegawai dan pemain menjadi yang tertinggi.

Pada Juni 2018, Setan Merah mencatat beban pegawai senilai 295,93 paun. Nilai itu berkontribusi sebesar 52,64% dari total beban operasional yang senilai 562,08 juta paun.

Tingkat hilir mudik pemain yang dinamis setiap tahunnya membuat beban operasional klub sepak bola naik turun. Selain itu, pendapatan juga tidak selalu konstan naik sehingga hal itu membuat laba bersih klub sepak bola bisa naik turun bak roller coaster.

Kerugian

Juventus sempat mengalami rugi bersih selama tiga tahun berturut-turut pada musim 2011-2012, 2012-2013, dan 2013-2014.

Pada musim 2011-2012, Juventus mencatat kerugian hingga senilai 48,7 juta euro. Namun, kerugian itu perlahan ditekan.  Pada musim 2012-2013 dan 2013-2014 rugi kian susut menjadi 15,9 juta euro dan 6,7 juta euro. Juventus kembali meraup laba pada musim 2014-2015 senilai 2,29 juta euro. Puncaknya, pada musim 2016-2017 laba Juventus tembus 42,56 juta euro.

Namun, pada 2018, Juventus malah kembali rugi 19,22 juta euro. Salah satu yang menyebabkannya adalah penurunan operating income hingga minus 1,43 juta euro. Sebelumnya, operating income Juventus pada 2017 senilai 67,37 juta euro.

Lalu, bagaimana dengan Manchester United? Tren keuntungan Setan Merah juga naik turun.

Pada musim 2010-2011, United mencatat laba senilai 12,99 juta pound sterling. Tren laba Setan Merah terus menanjak hingga puncaknya mampu meraup 146,41 juta paun pada musim 2012-2013.

Sayangnya, nilai itu terus menyusut hingga merugi pada musim 2014-2015 senilai 895.000 paun.

Setan Merah pun berupaya meningkatkan kinerja keuangannya. Satu musim kemudian, United kembali meraup laba 36,37 juta paun.

Sayangnya, pada musim 2016-2017, United kembali mengalami rugi senilai 37,27 juta paun.

Lagi-lagi, hanya dalam semusim, Setan Merah kembali meraup untung 39,17 juta paun.

Prospek Melantai di Bursa

Nah, setelah sedikit membedah keuangan klub besar di Eropa. Apakah jika ada klub sepak bola di Indonesia yang melantai di bursa layak dibeli atau tidak?

Di Eropa, ada beberapa klub yang sudah melantai di bursa saham seperti, Juventus, Manchester United, AS Roma, SS Lazio, dan Borussia Dortmund.

Lalu, kinerja sahamnya dalam lima tahun ke belakang bisa dibilang lumayan aktif dan bercuan.

Misalnya, harga saham Juventus pada perdagangan Selasa (12/2/2019) senilai 1,31 euro per saham. Nilai itu sudah melonjak 469,56% dibandingkan harga pada 14 Februari 2014 senilai 0,23 euro per saham.

Harga saham Lazio juga melejit 156,86% dalam lima tahun terakhir. Dari 0,51 euro per saham pada 14 Februari 2014 menjadi 1,31 euro per saham.

Begitu juga saham Borussia Dortmund yang melonjak 119,14% menjadi 8,24 euro per saham dibandingkan dengan lima tahun lalu senilai 3,76 euro per saham.

Namun, tidak semua saham klub sepak bola indah dalam lima tahun terakhir. Manchester United dan AS Roma menjadi dua klub yang harga sahamnya tidak melonjak tinggi. Saham Manchester United hanya naik 31,53% dalam lima tahun terakhir menjadi US$19,52 per saham. Harga saham AS Roma justru melorot 16,67% dalam lima tahun terakhir menjadi 0,55 euro per saham.

Beberapa faktor penggerak harga saham dari emiten klub sepak bola adalah bursa transfer dan hasil pertandingan. Pemain bintang yang datang bisa direspons positif karena bisa meningkatkan pendapatan klub dari segi penjualan merchandise.

Di sisi lain, rencana klub sepak bola di Indonesia untuk melantai di bursa juga harus disesuaikan dengan kompetisi yang lebih profesional. Jadwal kompetisi harus sudah teratur sehingga tidak mempengaruhi kinerja keuangan klub.

Apalagi jika melihat kinerja keuangan klub sepak bola dunia yang sudah melantai di bursa cenderung tidak stabil.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia