Bali United & Persija Siap IPO, Mengapa Melantai di Bursa Saham Penting untuk Klub Bola?

Pemain Bali United sedang berlatih - Antara
12 Februari 2019 14:07 WIB Surya Rianto Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Bali United dan Persija berniat melakukan initial public offering (IPO) atau melantai di bursa efek. Apakah saham klub sepak bola liga 1 Indonesia punya prospek bagi para investor?

Jaringan Informasi Bisnis lndonesia membedah klub sepak bola yang sudah melantai di bursa efek.

Di Eropa, ada beberapa klub yang sudah melantai di bursa saham seperti, Juventus, Manchester United, AS Roma, SS Lazio, dan Borussia Dortmund.

Lalu, kinerja sahamnya dalam lima tahun ke belakang bisa dibilang lumayan aktif dan bercuan.

Misalnya, harga saham Juventus pada perdagangan Selasa (12/2/2019) senilai 1,31 euro per saham. Nilai itu sudah melonjak 469,56% dibandingkan harga pada 14 Februari 2014 senilai 0,23 euro per saham.

Harga saham Lazio juga melejit 156,86% dalam lima tahun terakhir. Dari 0,51 euro per saham pada 14 Februari 2014 menjadi 1,31 euro per saham.

Begitu juga saham Borussia Dortmund yang melonjak 119,14% menjadi 8,24 euro per saham dibandingkan dengan lima tahun lalu senilai 3,76 euro per saham.

Namun, tidak semua saham klub sepak bola indah dalam lima tahun terakhir. Manchester United dan AS Roma menjadi dua klub yang harga sahamnya tidak melonjak tinggi.

Saham Manchester United hanya naik 31,53% dalam lima tahun terakhir menjadi US$19,52 per saham.

Harga saham AS Roma justru melorot 16,67% dalam lima tahun terakhir menjadi 0,55 euro per saham.

Beberapa faktor penggerak harga saham dari emiten klub sepak bola adalah bursa transfer dan hasil pertandingan. Pemain bintang yang datang bisa direspons positif karena bisa meningkatkan pendapatan klub dari segi penjualan merchandise.

Di sisi lain, rencana klub sepak bola di Indonesia untuk melantai di bursa juga harus disesuaikan dengan kompetisi yang lebih profesional. Jadwal kompetisi harus sudah teratur sehingga tidak mempengaruhi kinerja keuangan klub.

Apalagi jika melihat kinerja keuangan klub sepak bola dunia yang sudah melantai di bursa cenderung tidak stabil.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia