PENGATURAN SKOR: Mbah Putih Tiga Kali Bertemu mantan Manajer Persibara

Dwi Irianto alias Mbah Putih - Harian Jogja/Jumali
29 Desember 2018 06:25 WIB Jumali Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Satgas Antimafia Pengaturan Skor Sepak Bola meringkus Dwi Irianto, anggota nonaktif Komisi Disiplin PSSI yang juga menjadi tokoh sepak bola di Kota Jogja, Jumat (28/12/2018). Dwi, karib disapa Mbah Putih, diduga terlibat pengaturan skor di Liga 3 2018.

Satu hari sebelum dibekuk polisi, Mbah Putih menyangkal keterlibatannya dalam praktik lancung tersebut. Dia juga mengaku siap memberikan keterangan kepada penyidik untuk menjernihkan persoalan tersebut.

Skandal ini terkuak setelah mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indriyani dan Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono mengungkapkannya di gelar wicara Mata Najwa yang ditayangkan di televisi. Johar Lin Eng disebut menerima fulus Rp25 juta, sedangkan Dwi Irianto Rp15 juta.  Persibara dijanjikan promosi ke Liga 2, tetapi gagal. Lasmi kemudian melaporkan kasus itu ke Polda Metro Jaya pada 19 Desember.  

Mbah Putih mengaku tiga kali bertemu dengan Lasmi. Pertemuan pertama saat Kongres PSSI Jawa Tengah. Saat itu, Dwi bertemu dengan Lasmi setelah dikenalkan oleh Johar Lin Eng, anggota Komite Eksekutif PSSI yang sudah diciduk dan dijadikan tersangka pengaturan skor. Adapun pertemuan kedua di gelar di Banjarnegara saat Persibara menjamu Gama FC di Piala Indonesia 2018.

“Di sana saya berikan saran secara teknis untuk tim. Saya sempat tawarkan agar ada penambahan pemain. Bahkan saya sempat tawarkan Mas Erwan [Erwan Hendarwanto, Manajer PSIM Jogja] untuk menangani tim dan empat pemain asal Jawa Timur untuk memperkuat tim. Tetapi tidak ada jawaban. Hanya sebatas itu,” ungkap Mbah Putih, Kamis (27/12/2018) petang.

Kali terakhi Dwi bertemu dengan Lasmi adalah pada uji coba Persibara melawan Timnas U-19 di Stadion UNY beberapa waktu lalu. Dari pertemuan terakhir tidak ada komunikasi intens dan pembahasan mengenai bagaimana meloloskan Persibara ke Liga 2.

“Terkait dengan uang Rp500 juta untuk meloloskan Persibara, itu berkaitan dengan biaya penyelenggaraan pertandingan di Stadion Moch. Soebroto, Magelang. Sebab, biaya penyelengaraan di stadion tersebut pasti minimal habis sekitar Rp150-an juta untuk sekali penyelenggaraan. Ini main dua kali. Jadi kalau dibilang uang itu untuk PSSI jelas salah,” kata Dwi.

“Persibara sendiri harus mengajukan diri sebagai tuan rumah 32 besar  Liga 3 2018 karena kandang mereka tidak memenuhi persyaratan. Oleh karena itu mereka berencana menggunakan stadion di Magelang. Sampai babak 32 besar digelar tidak ada proposal pengajuan tuan rumah. Padahal, tim lainnya sudah mengajukan. Jika ada anggapan saya bela Persibara, itu juga keliru. Buktinya Komdis PSSI dua kali hukum mereka dengan denda maksimal.”

Sebelum meringkus Mbah Putih, polisi lebih dahulu menangkap Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah yang juga anggota Komeks PSSI Johar Lin Eng, serta mantan anggota Komisi Wasit Priyanto, dan anaknya, Anik Yuni Kartika Sari. Johar, Mbah Putih, Priyanto, dan Anik diduga terlibat pengaturan skor pertandingan Persibara Banjarnegara di Liga 3 di fase Jawa Tengah.

Mbah Putih ditangkap Jumat pagi. Kamis sekitar pukul 16.00 WIB, dia sempat berbincang dengan awak media dan mengomentari penangkapan Johar Ling Eng.

Saat berbincang dengan wartawan, sekitar pukul 18.00 WIB dia sempat menerima telepon dan berjanji akan bertemu pada pukul 20.30 WIB. Dalam perbincangan di telepon, Mbah Putih menyebut kata-kata kombes. Kepada wartawan, dia mengaku ada janji pertemuan malam itu, berkaitan dengan kasus yang membelit Johar Lin Eng.

“Semua tergantung malam ini. Saya ada janji ketemu dengan mereka malam ini pukul 20.30 WIB,” kata Mbah Putih.

Jumat sekitar pukul 08.00 WIB, Mbah Putih bertemu dengan aparat kepolisian di New Saphir Hotel. Dia kemudian diantar sepuluh polisi ke rumahnya di Demangan, Gondokusuman, Kota Jogja.

“Mereka datang baik-baik, sopan. Papa juga diperlakukan dengan baik, tidak ada sampai diborgol. Di depan kami mereka juga tunjukkan surat penangkapan ada beberapa lembar, dan mereka menjelaskan Papa ditangkap sebagai lanjutan penyelidikan laporan di Mata Najwa,” ungkap Bremandika Candra Pramdita, putra Mbah Putih.

Polisi kemudian mengambil sejumlah dokumen dan membawa Mbah Putih ke Polsek Gondokusuman sebelum ke Jakarta.

“Papa tunjukkan di mana berkas disimpan, baru mereka ambil. Lebih banyak berkas terkait dengan ketugasan Papa di Komdis,” ucap Bremandika.