Piala AFC U-19: Pelatih UEA U-19 Pernah Tangani Kylian Mbappe

Ludovic Batelli - Marca
24 Oktober 2018 08:25 WIB Hanifah Kusumastuti Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pertarungan hidup dan mati akan tersaji saat Indonesia U-19 bertemu dengan Uni Emirat Arab (UEA)U-19 di Piala AFC U-19. UEA adalah lawan berat yang sekarang ditangani pelatih yang pernah memoles Kylian Mbappe.

Pelatih UEA, Ludovic Batelli, dikenal memiliki intuisi besar mengendus talenta muda. Pelatih asal Prancis itu pernah memimpin tim junior Prancis untuk meraih gelar Euro U-19 pada 2016 bersama pemain-pemain muda berbakat, termasuk bintang Paris Saint Germain, Kylian Mbappe. “Terkadang, saya ingin tim bermain sebagai satu kesatuan, namun terkadang seorang pemain bisa jadi pembeda, salah satunya [Ali] Saleh,” ujar Batelli, seperti dilansir the-afc.com, Selasa (23/10/2018).

Indonesia akan mengerahkan semuanya untuk menang.

“Timnas Indonesia U-19 akan memberikan penampilan terbaik melawan Uni Emirat Arab (UEA) U-19.” Begitu janji penggawa Timnas Indonesia U-19, Todd Rivaldo Ferre, seusai berlatih dengan timnya di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Selasa.

Itu merupakan latihan terakhir Garuda Nusantara, julukan Timnas Indonesia U-19, sebelum laga penutup Grup A Piala AFC U-19 di Stadion Gelora Utama Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Rabu (24/10) pukul 19.00 WIB. Rivaldo memastikan dirinya dan rekan-rekannya akan mati-matian pada partai hidup-mati yang menentukan lolos atau tidaknya mereka ke perempat final.

Rivaldo sepertinya tidak sedang sesumbar. Pemain Persipura Jayapura tersebut memimpin rekan-rekannya untuk tidak mudah menyerah ketika Indonesia mereduksi ketertinggalan mereka dari 1-6 menjadi 5-6 saat melawan Qatar pada matchday kedua Grup A.

Kekalahan dari Qatar memaksa Indonesia menemui jalan terjal agar bisa lolos ke perempat final. Pasukan Indra Sjafri harus menang atas UEA untuk fase knock-out Piala AFC U-19 untuk kali pertama sejak 1978.

Indonesia bisa lolos sebagai runner up Grup A jika bisa mengalahkan UEA minimal dengan selisih satu gol. Sementara andai bisa menggunduli UEA dengan selisih tiga gol, Witan Sulaeman cs. bakal lolos sebagai juara grup.

Sebenarnya hasil imbang atas UEA masih mungkin membuat Indonesia lolos ke babak selanjutnya. Cuma pada pertandingan lain di Grup A, Qatar harus kalah dari Taiwan. Skenario ini sepertinya sulit terlaksana mengingat Taiwan selalu menjadi sasaran empuk lawan mereka dalam dua laga di Grup A.

Garuda Nusantara bisa berkaca pada tiga kesempatan terbaru mereka lolos ke babak berikutnya, masing-masing pada Piala AFC U-19 1978, Piala AFC U-19 1976, dan Piala AFC U-19 1972. Dalam tiga turnamen itu, Garuda Nusantara selalu menutup fase grup dengan kemenangan untuk melenggang ke babak knock out.

Pada 1978, Indonesia U-19 melumat Yordania 4-0 untuk finis sebagai runner up Grup A di bawah Irak. Dua tahun sebelumnya, mereka menjungkalkan Singapura 3-0 pada laga pamungkas Grup B untuk lolos dengan nilai empat poin. Padahal saat itu, Garuda Nusantara mengoleksi poin yang sama dengan Tiongkok. Namun mereka sukses sebagai juara grup karena unggul selisih gol setelah kedudukan head to head kedua tim sama kuat 1-1. Sedangkan pada Piala AFC U-19 1972, Indonesia menundukkan Khmer 3-0 pada laga penutup Grup C untuk lolos sebagai runner-up di bawah Myanmar.

“Kami 100 persen optimistis bisa mendapatkan hasil baik. Teman-teman sudah berlatih dan kami juga termotivasi dengan kekalahan di laga terakhir. Jadi kami akan memberikan penampilan terbaik dalam pertandingan ini,” tegas Rivaldo.

Faktor mental bisa sangat menentukan pada pertandingan ini. Apalagi UEA lebih difavoritkan lolos ke babak selanjutnya. UEA hanya perlu hasil imbang untuk menyegel tiket ke perempat final. Penting bagi pasukan Indra Sjafri agar tidak terbebani ketika berjumpa UEA yang masih mengemas hasil sempurna dalam dua laga di Grup A.

Selain dituntut harus menyerang sejak menit awal, Garuda Nusantara tidak boleh rentan kebobolan seperti ketika kemasukan empat gol pada babak pertama melawan Qatar. Ali Saleh menjadi salah satu pemain UEA yang wajib diwaspadai pertahanan Indonesia.

Penyerang berusia 18 tahun itu mencuri perhatian dalam dua laga Grup A. Dia mencetak tiga gol, di mana dua golnya dilesakkan dengan indah untuk membawa timnya menang back to back kontra Qatar dan Taiwan.

 

Sumber : JIBI/Solopos