Wenger Gagal karena Mabuk Kekuasaan

Arsene Wenger - Reuters/Jason Caindurff
21 April 2018 08:25 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Karier Arsene Wenger di Arsenal adalah lintasan kemerosotan. Awalnya Wenger menumbuhkan harapan, kemudian merontokkannya pelan-pelan hingga tak tersisa secuil pun.

Wenger barangkali bakal menjadi satu-satunya pelatih yang mendapat penghormatan luar biasa di panggung Ballon d’Or. Pada 1995 ketika dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia, George Weah mengundang Wenger naik ke mimbar. “Gelar ini saya persembahkan untuk Wenger,” ujar Weah kala itu.

Weah kini sudah menjadi Presiden Liberia, dan tak pernah melupakan jasa Wenger yang memboyongnya ke Monaco dari klub Kamerun Tonnere Yaounde pada 1988. Wenger membimbing Weah dan melindunginya dari penyakit sosial masyarakat Prancis.

“Dia menganggap saya sebagai anak. Ketika rasisme sedang menggejala, Wenger menunjukkan makna cinta.”

Wenger banyak dipuji karena piawai mengeluarkan bakat terbaik para pemain dan Weah adalah contoh paling gamblang. Wenger sempat dielu-elukan lantaran jeli mengenali siapa pemain yang bakal menjadi bintang. Periode kepelatihannya di Arsenal pun menjadi sangat lama karenanya.

Namun, nama besar dan kekuasaan malah membebaninya dan menggiringnya menjadi sasaran tembak atas permainan buruk Arsenal dan ketiadaan piala bergengsi di lemari penghargaan klub London Utara tersebut dalam 14 tahun terakhir.

 

Diliputi Keraguan

Keraguan mengiringi kedatangannya di Highbury (kandang Arsenal dari September 1913 hingga Mei 2006) dan keraguan pula yang memaksanya angkat kaki dari Emirates Stadium.

Ketika Wenger tiba, Tony Adams, kapten Arsenal pada dekade 1990-an, menganggapnya tak layak jadi pelatih.

“Tahu apa orang Prancis ini tentang sepak bola? Dengan kacamata besarnya, dia lebih mirip guru sekolah,” ujar Adams.

Kolumnis Nick Hornby bahkan mengejek Wenger dalam kolom yang ditulis untuk Evening Standard pada hari-hari seputar penunjukan Wenger sebagai pelatih anyar The Gunners pada Agustus 1996.

“Ketika Bruce Rioch dipecat, salah satu koran menyebut tiga atau empat nama. Ada Terry Venables, Johan Cruyff, dan terakhir, Arsene Wenger. Sebagai fan, saya bertaruh yang dipilih pasti Wenger karena saya belum pernah mendengar namanya. Percayalah, Arsenal selalu menunjuk apa saja yang membosankan yang belum pernah Anda dengar.”

Artikel itu diberi judul Arsene Who? (Arsene Siapa?).

Wenger lantas membuktikan Hornby—novelis yang pendapatnya tentang sepak bola selalu diperhitungkan berkat memoir seorang suporter Arsenal berjudul Fever Pitchkeliru. Sangat keliru.

Arsenal di bawah Bruce Rioch, juga banyak manajer sebelumnya, adalah Arsenal yang menjemukan sampai-sampai khalayak sepak bola Inggris mengenal sumpah serapah “boring-boring Arsenal”. Itu terjadi karena para pemain tak bersikap seperti olahragawan profesional, tetapi sekawanan pemalas tukang mabuk yang suka merokok pada jeda dan akhir pertandingan.

Wenger mengusir kepulan asap sigaret dan buih bir dari ruang ganti, menukarnya dengan kedisiplinan, diet ketat, dan sikap otoriter. Adams yang pernah menyangsikan kemampuan Wenger dan bertahun-tahun hidup sebagai alkoholik yang mencari nafkah dari bermain bola kemudian berubah. Mau tak mau dia mengikuti gaya Wenger. Publik sepak bola kemudian mengenal Adams sebagai elemen terpenting dalam kuartet bek paling kokoh dalam sejarah sepak bola Inggris bersama Steve Bould, Lee Dixon, dan Niger Winterburn.

 

Gaya Menyerang

Sepak bola Inggris dua dasawarsa silam lebih mengandalkan fisik kuat, serangan dari sayap, dan umpan jauh yang mudah ditebak. Arsenal tak bisa luput dari gaya ini. Wenger datang untuk mengubahnya.

Di atas kedisiplinan sebagai fondasi, Wenger membentuk tim yang enak ditonton. Wenger, yang di masa mudanya rela bolak-balik Prancis-Jerman demi menonton permainan menyerang Borussia Monchengladbach dan mengagumi permutasi luwes Total Football ala Belanda, kemudian membangun tim berisi pemain-pemain yang dia nilai mampu menerjemahkan filosofinya tentang bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan.

Wenger tak suka pemain jadi. Dia lebih memilih pemain buangan dari Italia.

Patrick Vieira yang tidak terlalu dihargai di Milan dipoles sebagai gelandang bertahan pekerja keras nan pintar. Dennis Bergkamp yang tak bisa mekar bersama Internazionale berubah menjadi penyerang yang sangat kreatif, dan Thiery Henry yang gagal di Juventus disulap menjadi penyerang asing paling buas di Liga Inggris.

Wenger memberi Arsenal tiga gelar Liga Premier: 1997/1998, 2001/2002, dan 2003/2004.

Musim 2003/2004 adalah puncak kegemilangan Arsenal, juga Wenger. Arsenal tak terkalahkan dan memperlihatkan permainan menyerang. Alan Hansen, pensiunan pemain bola Skotlandia yang kemudian menjadi komentator di BBC Sport memuji Wenger setinggi langit.

“Arsenal adalah tim paling halus sekaligus paling mematikan yang pernah dilihat khalayak di Kepulauan Inggris.”

Mendiang Brian Clough, pelatih legendaris Inggris yang mempersembahkan dua trofi Piala Champions untuk Nottingham Forest, membandingkan Arsenal besutan Wenger dengan impian lelaki untuk memuaskan hasrat seksual terdalamnya. Permainan yang mengalir dan menciptakan banyak peluang membuat Clough berkata, “Arsenal bisa membelai sepak bola, seperti impian saya untuk mengelus Marilyn Monroe.”

 Wenger memulai karier di Arsenal dengan cemerlang.

Kemunduran

Musim 2003/2004 adalah klimaks yang ironisnya menjadi titik balik Wenger. Setelah satu tahun yang menakjubkan, Arsenal perlahan berubah. Pokok persoalannya adalah strategi transfer yang keliru lantaran Arsenal butuh banyak duit untuk membangun stadion baru untuk menggantikan Highbury yang sudah terlalu kuno dan tak lagi cocok dengan sepak bola komersial.

Wenger dihargai karena ketajamannya mengendus bakat-bakat mentah menjadi pemenang.

Henry, Vieira, Cesc Fabregas, Ashley Cole, Marc Overmars, Aliaksandr Hleb, Nicolas Anelka, Samir Nasri, Emanuel Adebayor, Bacary Sagna, William Gallas, hingga Robin van Persie bukan siapa-siapa sebelum dimatangkan Wenger.

Namun, belum juga pemain-pemain itu memberikan gelar Liga Premier, Wenger keburu menjual mereka dengan harga tinggi, bahkan ke klub pesaing di Inggris.

Malang bagi Arsenal. Setelah menetap di Emirates Stadium, penciuman Wenger terhadap bakat besar mulai tumpul. Wenger pernah menolak Gareth Bale, yang masih mentah sebagai bek kiri Southampton, karena Arsenal sudah punya Ashley Cole, dan Gael Clichy. Wenger kecolongan karena membiarkan Harry Kane meninggalkan Akademi Arsenal ke klub gurem Ridgeway Rovers sebelum mekar bersama Tottenham Hotspurs.

Wenger juga rabun. Dia menyangka Theo Walcott bisa menjadi salah satu pemain terbaik dunia. Nyatanya, Walcott lebih sering sakit-sakitan. Daftar kesilapan Wenger sangat panjang bila kita menyertakan pemain-pemain yang digamit dengan harga mahal tetapi kemudian tak terlalu dikenal atau malah dicaci pendukung Arsenal: Francis Jeffers, Richard Wright, Sebastien Squillaci, Pascal Cygan, Mikael Silvestre, Jermaine Penant, Denilson, Marouane Chamakh, Andre Santos, dan Philippe Sanderos.

 

Terlalu Berkuasa

Kemerosotan Wenger tak hanya dalam ihwal pengenalan bakat, tetapi juga taktik. Belakangan, mantan anak buahnya rajin mengkritik Wenger. Tony Adams menilai Wenger, yang memegang jabatan manajer sekaligus pelatih, tak lagi mampu membuat pemain disiplin, padahal dia punya wewenang gede.

“Kekuasaan Wenger sangat besar. Dia terlalu dominan,” ujar Adams.

Wenger punya hak mengatur siapa pemain yang harus pergi dan siapa yang harus datang, juga memiliki pengaruh tak kecil dalam menentukan anggaran klub. Ini karena struktur organisasi Arsenal berbeda dengan klub-klub elite Inggris lain. Manchester City punya Direktur Sepak Bola yang berwenang mengeset transfer pemain dan menentukan anggaran klub. Sebesar apa pun andil Guardiola dalam perkembangan sepak bola, dia musti tunduk kepada Txiki Begiristain yang menjadi direktur.

Chelsea juga punya hierarki seperti itu. Antonio Conte pernah sewot karena Michael Emenalo yang diberi jabatan direktur olahraga (sebelum dia mundur sehingga jabatan direktur olahraga di Chelsea dilebur dengan direktur) terlalu pelit mengeluarkan fulus untuk beli pemain.

Wenger tak punya atasan yang bisa menghardiknya manakala dia salah mengambil keputusan. CEO Arsenal Ivan Gazidis mafhum dengan problem ini. Dia menyerukan perubahan organisasi dan pembentukan struktur baru yang bisa menyokong kinerja manajer.

Tanggapan Wenger ketus. “Saya tak tahu apa yang dimaksud dengan direktur sepak bola. Apakah dia semacam orang yang mengarahkan untuk berjalan ke kiri atau ke kanan? Saya tak paham dan tak pernah mengerti artinya,” timpal dia.

“Maaf saja, saya adalah Manajer FC Arsenal dan selama saya menjadi manajer, saya berhak menentukan aspek teknis.”

Dalam berbagai kesempatan, Wenger kerap berseberangan dengan Gazidis. Ketika Gazidis ingin merekrut Steve Bould, eks anak asuh Wenger, sebagai kepala akademi pemain muda, Wenger menolak. Pertempuran-pertempuran itu selalu dimenangi Wenger.

Ivan Gazidis, sering kalah berebut pengaruh dengan Wenger. 

Memble di Lapangan

Di internal manajemen klub, Wenger bolah jadi jagoan. Namun, ketika harus beradu strategi dengan pelatih lain, dia kerap keteteran.

Gaya menyerang Arsenal asuhan Wenger sering mejan ketika harus menghadapi pragmatisme Jose Mourinho. Arsenal yang agresif juga tiba-tiba menjadi kacangan ketika berjumpa dengan tim yang dirancang Pep Guardiola maupun Mauricio Pochettino.

Setahun terakhir, gara-gara rentetan hasil buruk Arsenal, pengamat sepak bola di Inggris dan fans ramai-ramai mencerca Wenger.

Emmanuel Petit, bekas gelandang bertahan yang bermain untuk Wenger di Monaco dan Arsenal, menganggap Arsenal tak lagi terorganisasi ketika kehilangan bola. Para pemain juga terlalu sering membuat kesalahan. Celaan itu dia lontarkan setelah Arsenal kalah 1-3 dari City di Ettihad Stadium pada awal November 2017.

Wenger tidak insaf meski mendapat banyak masukan. Gelandang bertahan, titik lemah Arsenal sepeninggal Gilberto Silva dan Mathieu Flamini pada akhir musim 2017/2018, tak juga ditambal. Ketika dua tahun lalu Wenger mengeluarkan 35 juta paun dari brankas Arsenal untuk membeli Granit Xhaka, yang didapat adalah gelandang yang lebih banyak mengumpulkan kartu kuning dan merah ketimbang gol.

“Wenger terlalu arogan dan naif karena tak mau membeli gelandang jangkar yang benar-benar kuat,” ujar Gary Neville, bekas bek Timnas Inggris dan Manchester United, yang menjadi komentator Sky Sports.

 

Disuruh Pergi

Tekanan membesar. Spanduk Wenger Out dibentangkan dalam berbagai laga di beberapa sudut Emirates Stadion. Tagar serupa juga terus diviralkan penggemar yang sudah enek dengan keberadaan Wenger. Di pengujung musim 2016/2017 pada April, Arsenal dibekuk Crystal Palace 0-3 dalam laga tandang.

Suporter yang ikut awayday memekikkan Time to Go yang ditujukan kepada Wenger dan menyanyikan lirik yang bisa bikin panas kuping. Dalam kerumuman dari kejauhan, mereka bilang kepada Wenger, “Anda tak lagi pantas memakai seragam kami.”

Saat itu, Wenger tetap kalem, mengabaikan cemoohan suporter dan yakin kontraknya yang akan berakhir Juni 2019 tak bakal terusik.

“Saya sudah mendampingi Arsenal di lebih dari 1.100 pertandingan,” kata dia.

“Saya maklum kalau suporter kecewa berat.”

Musim ini, Arsenal tambah lesu di Liga Premier dan kemungkinan besar tak mungkin finis di empat besar. Harapan pendukung The Gunners hanya di Liga Europa, kompetisi kelas kedua yang gengsinya tidak naik-naik. Celakanya, Arsenal harus menghadapi Atletico Madrid, tim yang gemar mengambil keuntungan dari kesalahan lawan.

Arsenal, sebagaimana kritikan Petit, adalah unit permainan yang sangat ceroboh. Squawka mencatat di Liga Premier musim ini, Arsenal menjadi tim dengan blunder paling banyak: 31 dan 15 di antaranya berujung kebobolan. Tabiat serupa masih tampak ketika Arsenal bermain di Liga Europa. Arsenal membuat enam kesalahan di daerah pertahanan, dua kekeliruan berakibat kebobolan. Angka eror Arsenal hanya kalah dari tim ecek-ecek dari Swedia, Ostersunds FK.

Akhirnya, Wenger mawas diri. Waktunya di Arsenal habis. Jumat (20/4) kemarin, pelatih yang pernah diledek sebagai guru sekolah itu memutuskan mundur, merampungkan kekuasaannya yang telah bertahan 22 tahun.

“Setelah mempertimbangkan secara saksama dan didahului diskusi dengan klub, saya merasa inilah saat yang tepat bagi saya untuk mengundurkan diri pada akhir musim.”

Usianya sekarang 68 tahun. Nyaris sepertiga hidupnya dihabiskan di Arsenal: dengan penghargaan, kekuasaan, dan hujatan.