DIVISI UTAMA SETOP : Suporter Siap Demo

Ilustrasi latihan sepak bola (JIBI/Solopos.com - Dok.)
06 Mei 2015 14:20 WIB Jumali Sepakbola Share :

Divisi utama setop menuai reaksi berbeda dari suporter PSIM Jogja dan PSS Sleman.

Harianjogja.com, JOGJA — Dua sikap berbeda diperlihatkan oleh dua kubu suporter di DIY terkait dengan karut marutnya persepakbolaan Indonesia.

Kubu suporter PSIM, Brajamusti menyatakan siap turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi pada akhir pekan ini untuk mendesak agar konflik antara PSSI dan Kemenpora diselesaikan. Sedangkan kubu Slemania-suporter PSS memilih berpikir dua kali sebelum melakukan aksi turun ke jalan.

Presiden Brajamusti Rahmad Kurniawan menyatakan aksi demonstrasi akan direalisasikan setelah mendapatkan persetujuan dari pemain dan Manajemen PSIM. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan suporter terhadap tim dan keprihatinan terhadap kondisi persepakbolaan nasional.

“Sejauh ini kami masih menunggu pihak manajemen dan pemain. Jika mereka mengizinkan, kami akan gelar,” ungkap pria yang akrab dipanggil Mamek ini kepada Harianjogja.com, Selasa (5/5/2015) sore.

Menurut Mamek, sejauh ini pihaknya terus mendukung langkah manajemen termasuk meliburkan pemain untuk sementara.

“Kami harapkan kondisi yang ada segera bisa teratasi,” harap Mamek.

Sikap berbeda ditunjukkan oleh Slemania. Ketua Umum Slemania, Lilik Yunianto mengaku belum bisa memberikan kejelasan sikap terkait dengan aksi turun ke jalan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi persepakbolaan nasional. Alasannya, Slemania masih menunggu perkembangan dari pihak Kemenpora dan Tim Transisi terkait dengan rencana menggelar kompetisi dan penyelesaian konflik dengan PSSI.

“Kami masih menunggu sampai tanggal 9. Katanya ada langkah dari Kemenpora. Setelah itu baru kami bisa tentukan sikap,” ujar Lilik.

Menurut Lilik langkah berhati-hati ini dilakukan karena pihaknya memang ingin agar langkah yang diambil Slemania tidak membuat klub dan pemain mengalami persoalan di masa mendatang. Pascasepak bola gajah, Slemania memang sempat diundang oleh Kemenpora dan mendesak agar ada pengusutan dan pemutihan terhadap pemain yang terkena hukuman akibat sepak bola gajah antara PSS kontra PSIS.

“Kami ingin yang terbaik untuk mereka,” harap Lilik.