PSSI DIBEKUKAN : Pemain Bola Gelisah

Pemain PSS Asmi Azwibi (hijau, tengah) berebut bola dengan pemain Persinga Ngawi pada laga uji coba di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (17/2/2015) malam. Laga kedua kesebelasan berakhir dengan skor 3-3. (JIBI/Solopos - Harian Jogja)
04 Mei 2015 21:40 WIB Sepakbola Share :

PSSI dibekukan, pemain akan kehilangan mata pencaharian jika kompetisi dihentikan.

Harianjogja.com, SLEMAN—PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi di semua level melalui rapat Komite Eksekutif (Komeks) PSSI, Sabtu (2/5/2015). Pemain pun kena getahnya.

Penghentian Divisi Utama 2015 membuat pikiran kiper PSS Sleman Syamsidar waswas. Alasannya cukup realistis, tanggungan beban keluarga. Punya istri dan tanggungan dua anak jelas menjadi beban bagi mantan kiper Timnas Indonesia itu ketika kompetisi tidak jelas pelaksanaannya.

“Anak saya dua, yang pertama usia tiga tahun, sementara yang kedua masih berusia tiga tahun. Saya bermain bola demi mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar kiper berumur 32 tahun tersebut, Kamis (30/4/2015).

Jika kompetisi belum jelas, klub urung menggaji pemain. Dia menyadari dengan kondisi itu mengingat semua klub merasakan hal serupa. Pesepak bola tamatan SMA itu pun tak bisa berbuat banyak. Pasrah sembari berdoa, hanya itu yang bisa Syamsidar lakukan.

Kondisi saat ini merupakan situasi terburuk sepanjang kiprahnya mengais rezeki di lapangan hijau. Berkecimpung di dunia sepak bola profesional sejak 2004, pemain kelahiran Makassar itu belum pernah merasa khawatir seperti sekarang.

Meski kondisi serba sulit, Syamsidar tetap bersikap profesional. Dia tetap semangat dalam melakukan latihan.

“Sepak bola adalah pekerjaan saya dan tentu saya harus menghargai pekerjaan ini. Bentuk penghargaan tentu saja dengan tetap semangat berlatih, apapun kondisinya,” ujar dia.

Wawan Widiyantoro, pemain gaek PSS Sleman juga mengungkapkan kecemasan serupa.

“Sekarang pengelola sepak bola Indonesia banyak masalah, akhirnya mengorbankan klub dan pemain,” tutur pemain berusia38 tahun yang sudah merasakan bermain di berbagai klub di penjuru Nusantara itu.

Dia mengharapkan agar para pengurus sepak bola Indonesia duduk satu meja dan menurunkan ego masing-masing demi kemajuan. Salah satu pemain PSIM Jogja, Eko Budi Santoso, menyatakan sepak bola Indonesia semakin tidak jelas.

“Dibandingkan dengan musim lalu, tentu kali ini lebih buruk. Kami sudah berlatih dan menyiapkan diri, tiba-tiba kompetisi tidak dihentikan karena permasalahan PSSI dan Kemenpora,” ujar gelandang bertahan ini.

Menurut Eko, konflik PSSI dan Kemenpora yang berlarut-larut memakan korban cukup banyak. Namun dia masih menyimpan keyakinan.

“Sejauh ini saya masih memiliki semangat untuk tetap menjadi pemain sepak bola profesional,” imbuh Eko yang mulai menekuni profesi sebagai pemain sepak bola sejak 1999 ini.

Mengenai kemungkinan suspensi dari FIFA akibat intervensi pemerintah, Eko enggan banyak berkomentar. Bapak satu anak ini berharap kompetisi tetap berjalan. Eko menuturkan selama ini penghasilan dari menjadi pemain sepak bola profesional dirasa sudah mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Meskipun enggan mengungkapkan nilai kontrak dengan PSIM, pemain yang telah beberapa musim membela Laskar Mataram ini mengaku bisa hidup dan menafkahi istri dan anaknya dari bermain bola.

“Sekarang anak saya sudah berusia delapan tahun. Alhamdulillah, sejauh ini tidak kekurangan. Memang tidak cepat kaya dengan bermain bola,” jelas Eko.

Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Supri Andriyanto. Pemain berusia 31 tahun ini melihat kondisi sepak bola Indonesia makin buruk.

“Kalau kompetisinya tetap jalan sih enggak masalah. Lha kalau stagnan seperti ini, bagaimana nasib kami nanti?” ucap pemain tengah PSIM ini.

Jika kompetesi tak selesai, Pemain asal Blondo, Magelang, Jawa Tengah ini khawatir mendapat revisi sampai pemutusan kontrak.

“Tentu kami tidak ingin. Apalagi sampai dihukum FIFA, mau jadi apa nanti?” ujar ayah satu anak ini.